• News
  • Tingkatkan Produksi Pajale

Tingkatkan Produksi Pajale


Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap terus gencar meningkatkan produksi padi jagung dan kedelai (Pajale). Program swasembada upaya khusus pajale itu merupakan program Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian Republik Indonesia.

Produksi padi di Cilacap, selama ini masih surplus diatas 350 ribu ton pertahun. Namun untuk jagung kita masih defisit, saat ini kita terus menggalakan tanaman jagung. Sementara untuk kedele kita mempunyai target sekitar 20 ribu hektar sampai akhir September.

Hal itu diungkapkan Plt Dinas Pertanian Cilacap, Supriyanto, SP, MP, usai menghadiri pelepasan purna tugas Kepala Dinas Pertanian Cilacap, Ir. Gunawan, Senin (30 Juli 2018).

Menurut Supriyanto, peluang kedele sangat luar biasa karena Indonesia masih import kedele sekitar 2,5 juta ton tahun ini. “Jika import-nya dari Amerika dengan dolar yang Rp 14 ribu berapa uang yang digelontorkan kesana. Ini merupakan peluang,” katanya.

Dijelaskan Supriyanto, saat ini, petani sudah disiapkan bantuan berupa benih kedelai 40 kg perhektar dengan pupuk organik cair (POC) sebanyak 4 liter atau 8 botol perhektar dan zat penumbuh sebanyak 4 sachet perhektar.

“Kontribusi kita dari 35 kabupaten/kota jika dibagi rata itu dibawah 3 persen.Alhamdulillah Cilacap bisa memberi kontribusi sekitar 17 persen untuk Jawa Tengah. Untuk nasional kita memberikan kontribusi sekitar dibawah 10 persen,” terangnya.

Supriyanto mengaku  untuk produksi kedelai, Cilacap kalah dengan Grobogan yang tahun ini sasaranya 100 ribu hektar dari target Jawa Tengah 200 ribu hektar.” Bisa dikatakan 50 persen di grobogan yang 10 persen di Cilacap,” jelas Supriyanto.

Lebih jauh, Supriyanto menegaskan, untuk memenuhi target pajale ini, kami terus keliling untuk memberikan semangat kepada petani dalam memanfaatkan peluang guna meningkatkan pendapatan petani dalam produksi pajale.

“Produksi pajale dan produksi lainya saat ini sedang gencar digalakan dan dikembangkan. Untuk itu kita rombak meanset petani,” terangnya.

Dijelaskan supriyanto, saat ini ada perbaikan jaringan irigasi sehingga jaingan irigasi daerah induk Serayu dihentikan per 15 Juli hinggga 15 September. Peluang ini, kami pergunakan untuk mengembangkan produksi kedele.

“Disini yang kami hadapi bukan masalah budidanya, tetapi mindset petaninya. Tanah nganggur tapi tidak mau digunakan untuk memperoleh pendapatan. Budidaya, teknologi dan benih kami siapkan. Namun banyak petani yang menolak,” tuturnya.

Terkait pendapatan petani yang lain, lanjut Supriyanto, kami mempunyai konsep one village one product. Konsep ini bukan berarti menurut batas administratif desa A,desa B dan macam macam tanamannya, tetapi berdasarkan kecocokan agro klimatologi untuk suatu komoditas.

Supriyanto mencontohkan, di Kecamatan Dayeuhluhur, Desa Matenggeng, Dusun Sikluk, dalam satu tahun bisa produksi buah manggis sekitar 600 ton. “Konsep semacam itu sedang kami kembangkan di Wanareja dengan tanaman belimbing madu dan jambu kristal di desa Madura, masing-masing ada sekitar 5 hektar,” terangnya.

Disamping Pajale, tahun ini, Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap juga mendapat tugas untuk mengembangkan bawang merah 20 hektar. Penanamnya diawal  dan pertengahan bulan Agustus. “Lokasi penanaman bawang merah disebelah timur rencananya di Desa Banjarsari, Karang Pakis, Adipala dan Bunton. Sementara disebelah barat di wilayah Majenang, Cimanggu dan Dayeuhluhur. Untuk penanaman bawang putih di wilayah Desa Karangsari, Cimanggu,” pungkasnya. //wd.