• News
  • Tabet Lemah Putih

Tabet Lemah Putih


Berada di Grumbul Karanggedang, Desa Jatisaba, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, Tabet Lemah Putih adalah sebuah makam kuno dengan cungkup kayu sebagai pelindung. Keberadaan tabet yang diyakini milik tokoh bernama Ibu Kartika ini berkaitan erat dengan kandungan tanah putih yang konon dimanfaatkan sebagai bahan untuk melabur (mengecat) dinding. Ditemani Minoto (76) sang juru rawat tabet, PAMOR mengunjungi tempat tersebut, Rabu (6 Juni 2018) lalu.

Seperti halnya sebuah perkampungan pada umumnya, grumbul yang dihuni oleh 50 kepala keluarga dengan mayoritas penduduknya berprofesi sebagai petani ini memiliki struktur tanah yang berwarna merah. Hamparan sawah disekeliling perkampungan juga menandakan wilayah tersebut merupakan daerah pertanian yang subur. Namun dibalik kesuburan tanahnya, disebagian wilayah menyimpan keunikan lain yaitu dibawah permukaan terdapat kandungan tanah liat putih yang bisa dimanfaatkan sebagai pelapis dinding (labur).

Dari cerita yang berkembang, lemah putih (tanah liat putih) tersebut yang pertamakali mengetahui adalah Mbah Sanaja, beliau merupakan orang yang pertamakali bermukim di Grumbul Karanggedang. Keberadaannya tinggal di Karanggedang juga karena menjalankan amanah dari Ibu Kartika.

Menurut cerita, Mbah Sanaja itu orang yang gemar menjalankan laku tirakat layaknya orang-orang Jawa pada umumnya. Pada suatu ketika Mbah Sanaja pun melakukan laku tirakat dan bertapa di Tabet Lemah Putih. Dari hasil tapanya Mbah Sanaja mendapat perintah untuk menjaga dan mengolah tanah diwilayah tersebut.

Belum begitu lama tinggal dan menetap, terjadi banjir dari luapan Sungai Warak, saking derasnya arus, mengakibatkan dibeberapa bagian tanah tergerus. Dari situlah diketahui dibawah permukaan tanah merah itu ternyata tanah liat yang berwarna putih. Dan sejak itu pula tanah liat tersebut dimanfaatkan sebagai pelapis dinding.

"Dulu kan belum ada cat dan belum banyak rumah tembok, jadi masyarakat Banyumas dan sekitarnya itu mengecat dinding rumahnya dengan labur tanah liat putih ini," ucap Minoto seraya menunjukan satu genggam tanah liat putih yang ia ambil dari dasar sungai Warak.

Menurutnya, struktur tanah liat putih tersebut berbeda dengan tanah liat pada umumnya. Selain memiliki warna putih, tanah liat tersebut juga tidak mudah terkelupas ketika dipergunakan untuk melabur dinding, dan karena keawetannya inilah yang menjadikan tanah tersebut diburu oleh masyarakat di zamannya.

Diceritakan pula bahwa selain memiliki keunikan warnanya yang putih, tanah liat tersebut juga punya keanehan lain yaitu tidak akan habis meskipun sudah berpuluh-puluh tahun ditambang. Dan keanehan diluar nalar manusia tersebut sudah dibuktikan oleh masyarakat sekitar.

"Disini rata-rata untuk mengambil tanah liat itu harus menggali tanah merah satu sampai dua meter. Ketika bekas galian tambang tersebut diurug dan diratakan dengan tanah merah, selang beberapa tahun ketika tempat itu digali kembali ketemunya ya satu sampai dua meter. Selebihnya urugan tanah merah yang dibawah sudah berubah menjadi tanah liat putih. Jadi disini adanya ya merah dan putih saja," Jelasnya.

Saat ini tambang tanah liat putih di Grumbul Karanggedang memang sudah tidak ada lagi dan berganti menjadi sebuah pemukiman. Area pertambangan yang pernah menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat banyak itu pun berhenti pada tahun 80 an seiring dengan perkembangan zaman.//ipung