• News
  • Sura, Sukertane Tahun

Sura, Sukertane Tahun


Menurut kepercayaan masyarakat Jawa, bulan Sura (Muharram) merupakan bulan yang dikeramatkan. Dan bagi orang yang njawani, mereka akan menahan diri untuk melakukan kegiatan (hajatan). Bagi mereka, jika melanggar pantangan tersebut akan mendapatkan halangan (sukerta).

Begitu juga bagi masyarakat adat Bonokeling, Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. Bulan Sura (Muharram) bukan hanya menjadi bulan yang sakral, tapi juga menjadi bulan yang bersih dari kegiatan ziarah di makam Kiai Bonokeling. Bulan Sura hanya dipergunakan untuk puji-pujian kepada Tuhan YME.

"Jadi selama satu bulan penuh makam Panembahan Bonokeling itu ditutup,
tidak ada aktivitas ziarah oleh anak putu maupun masyarakat luaran," ungkap Sumitro selaku Ketua Adat Bonokeling saat ditemu di kediamannya, Jumat (19 Oktober 2018) lalu.

Menurut kepercayaan masyarakat adat setempat, dalam satu tahun itu ada tiga bulan yang tidak diperbolehkan untuk berziarah di makam Kiai Bonokeling, yaitu Sura (muharram), bualn Maulid dan bulan Ramadhan.

Berbeda dengan bulan Maulid dan bulan Ramadhan yang sama sekali tidak
diperbolehkan ziarah ataupun berkunjung di makam Bonokeling dan makam Watu Gunung, di bulan Sura larangan untuk berziarah hanya berlaku di
makam Kiai Bonokeling saja.

Di kampung adat ini memang terdapat dua makam yang sangat disakralkan, yaitu makam Kiai Bonokeling dan makam Eyang watu Gunung yang diyakini sebagai leluhur masyarakat setempat.

Di makam inilah disetiap tahunnya selalu diadakan acara perlon besar (punggahan) yang diikuti oleh seluruh penganut ajaran Bonokeling yang ada di eks-Banyumas. Kampung adat Bonokeling sangat menjunjung tinggi budaya nenek moyang.
Dalam satu bulan, setidaknya ada dua sampai tiga acara perlon (tradisi) yang digelar.

Sementara dalam menyambut malam 1 Sura, yaitu dengan menggelar acara selamatan yang dilakukan di ruang pesemuan dan dilanjutkan dengan puji-pujian. Puji-pujian ini dilakukan pada setiap malam Jumat selama satu bulan penuh.

Seperti acara perlon pada umumnya, pada perlon peringatan malam 1 Suro juga dikerjakan secara gotongronyong. Para kaum perempuan dengan pakaian adatnya masing-masing membawa aneka bahan makanan yang dikumpulkan di tempat sesepuh. Bahan-bahan itulah yang akan diolah untuk sarana selamatan.//ipung