• News
  • SKPT Merauke Tunjukkan Perkembangan Signifikan Sektor Perikanan di Indonesia Timur

SKPT Merauke Tunjukkan Perkembangan Signifikan Sektor Perikanan di Indonesia Timur


Jakarta - Aktivitas perikanan di Sentra Kelautan dan Perikanan Terpadu (SKPT) Merauke terus bergeliat menunjukkan kemajuan dan peningkatan yang signifikan. SKPT yang dipecepat pembangunannya sejak 2017 dan memiliki luas 749.164 meter persegi ini, kini telah semakin memadai dengan adanya berbagai fasilitas pokok, fungsional dan penunjang dalam mendukung aktivitas perikanan.

Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Merauke yang berada di dalam kawasan SKPT memiliki fungsi strategis dalam memberikan pelayanan kepada kapal perikanan Indonesia, khususnya di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNR) 718 meliputi Laut Aru, Arafura, dan Laut Timor bagian Timur. Dalam kurun waktu tiga tahun terakhir, jumlah dan nilai produksi perikanan yang didaratkan di PPN Merauke mengalami peningkatan yang signifikan.

Hingga bulan Juli 2019, jumlah ikan yang didaratkan mencapai 4.205 ton, dengan ikan kuro sebagai tangkapan dominan sebanyak 1.210 ton atau 29 persen dari total ikan yang didaratkan. Umumnya ikan-ikan tersebut tertangkap oleh alat penangkapan ikan berjenis gillnet.

"Sebelumnya, pada tahun 2018 jumlah ikan yang didaratkan mencapai 13.458 ton senilai Rp 490,6 miliar. Jumlah ini meningkat sebesar 12 persen dibandingkan tahun 2017 yang mencapai 12.000 ton. Sedangkan nilai produksinya meningkat sebesar 63 persen dari total nilai ikan yang didaratkan pada tahun 2017, yaitu sebesar Rp.300,45 miliar. Kita yakin, pada tahun 2019 ini akan didapatkan nominal yang lebih tinggi lagi karena ikan banyak, nelayan tidak mencari ikan tapi menangkap ikan," tutur Direktur Jenderal Perikanan Tangka, Zulficar, Selasa (13 Agustus 2019).

Lebih lanjut, Zulficar mengatakan, frekuensi kunjungan kapal perikanan juga terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2018, tercatat 1.164 kunjungan kapal di PPN Merauke. Jumlah ini meningkat 4 persen dari tahun 2017 yang mencatat 1.117 kunjungan kapal. Sebanyak 41persen dari total kunjungan tersebut atau 483 kunjungan kapal merupakan kapal-kapal berukuran >30 GT.

"Sementara itu, per Juli 2019, jumlah kunjungan kapal sudah mencapai 691 kali atau 59 persen dari total kunjungan pada tahun 2018. Diperkirakan trend positif ini akan berlanjut dan melampaui pencapaian di tahun 2018," ujar Zulficar optimis.

Zulficar mengungkapkan bahwa Merauke memiliki potensi sumber daya alam yang strategis untuk menyokong pasar perikanan nasional. Perairan Papua dan Merauke pada khususnya, dikaruniai dengan ekosistem perairan tropis yang memiliki karakteristik dinamika sumber daya perairan yang luar biasa, termasuk di dalamnya sumber daya ikan yang tinggi.

"Untuk itulah SKPT Merauke hadir untuk mengembangkan sektor perikanan di Indonesia Timur. Sumber daya ikan yang melimpah tersebut, tentu saja harus dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan nelayan. Ke depannya, SKPT semakin menjadi pelecut pengembangan ekonomi kawasan dengan sektor kelautan dan perikanan sebagai penggerak utamanya," terangnya.//yuli.