• News
  • Sedekah Laut Cilacap, Perahu Pengangkut Jolen Harus Berjibaku Melawan Derasnya Ombak Banteng

Sedekah Laut Cilacap, Perahu Pengangkut Jolen Harus Berjibaku Melawan Derasnya Ombak Banteng


Masyarakat pesisir selatan Cilacap, Jumat (27 September 2019) lalu menggelar ritual sedekah laut atau larung sesaji di pantai selatan. Acara yang menjadi bagian dari kegiatan Festival Nelayan Cilacap 2019 ini pun mengundang ribuan pasang mata yang menyaksikan.

Prosesi diawali dengan pemberangkatan arak-arakan 10 jolen (tempat sesaji) dari Lapangan Batalyon menuju Pantai Teluk Penyu, Cilacap. Sepuluh jolen tersebut terdiri atas satu jolen tunggul yang berasal dari Pemkab Cilacap, satu jolen dari DPC HNSI Kabupaten Cilacap, dan delapan jolen dari masing-masing kelompok nelayan se-eks Kota Administratif Cilacap.

Di Pantai Teluk Penyu, kesepuluh jolen tersebut oleh Duta Pangersa sebagai wakil dari pemerintah diserahkan kepada sesepuh Kelompok Nelayan Pandanarang dan dilanjutkan kepada masing-masing sesepuh kelompok nelayan. Usai serah terima, jolen-jolen tersebut dinaikkan ke atas perahu untuk dilarung di Pantai Majeti yang berada di sebelah selatan Pulau Nusakambangan.

Sesepuh Kelompok Nelayan Pandanarang Mbah Atmo Suwaryo (78) yang juga sebagai juru kunci Karang Bandung, Nusakambangan mengatakan, sedekah laut merupakan tradisi tahunan yang sudah berlangsung sejak ratusan tahun silam. Prosesi larungan sesaji ini merupakan perwujudan rasa syukur masyarakat pesisir kepada Tuhan YME.

Larungan jolen ini pun berlangsung cukup dramatis. Dari pantauan PAMOR yang saat itu menyaksikan jalannya larungan di pulau Majeti Nusakambangan, untuk mencapai lokasi larungan, para nelayan ini harus berjibaku melawan derasnya arus ombak banteng.

keras secara berurutan sangat terasa ketika perahu melewati ombak banteng ini, belum lagi benturannya yang mengenai katir (alat penyeimbang perahu) menimbulkan cipratan-cipratan yang membuat basah siapa saja yang menaikinya. Seperti halnya yang dirasakan PAMOR saat itu. Kendati demikian, perahu-perahu pengangkut jolen ini pun berhasil mencapai lokasi larungan dengan selamat.

Dari penuturan Mbah Atmo Suwaryo, setiap tahunnya, perahu-perahu nelayan pengankut jolen pasti akan berhadapan dengan ombak banteng. Untuk bisa melaluinya, dibutuhkan tenaga dorong yang kuat, selain itu nahkoda juga harus bisa menyeimbangkan perahu agar perahu tidak terbawa arus dan terguling.

"Setiap larungan, pasti dihadang ombak banteng. Berbeda dengan ombak biasa yang ada jedanya, kalau ombak banteng itu terus-terusan, makanya dibutuhkan tenaga yang kuat, kalau tidak perahu bisa oleng dan berputar," ucapnya.

Sesampainya dilokasi larungan, tampak beberapa perahu yang sudah menunggu untuk membantu prosesi larungan. Satu perahu pengangkut jolen akan dibantu oleh dua hingga tiga perahu. Dengan cekatan mereka pun melepaskan satu demi satu jolen ditengah samudra. Pada prosesi pelepasan jolen inilah dibutuhkan kemahiran seorang nahkoda untuk mengendalikan perahu agar tidak saling bertabrakan.

Ada yang menarik pada larungan ini, bersamaan dengan diturunkannya jolen, para nelayan ini langsung mengambil air untuk disiramkan ke masing-masing perahu, bahkan mereka tidak segan-segan menceburkan diri. Bagi masyarakat pesisir, air larungan tersebut dipercaya mengandung khasiat tersendiri.

"Ya intinya kami hanya mencari berkah keselamatan dan hasil yang melimpah," jelas Mbah Atmo.

Dihari sebelumnya upacara sedekah laut diawali dengan prosesi nyekar atau ziarah ke Pantai Karang Bandung sebelah timur tenggara Pulau Nusakambangan yang dilakukan oleh juru kunci Karang Bandung dan diikuti berbagai kelompok nelayan serta masyarakat untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tangkapan ikan pada musim panen melimpah dan para nelayan diberi keselamatan.

Berdasarkan catatan sejarah Cilacap, tradisi sedekah laut tidak lepas dari kelompok nelayan Pandanarang di Cilacap. Tradisi ini bermula dari perintah Bupati Cilacap ke-3, Tumenggung Tjakrawerdaya III pada pada 1817 yang meminta kepada sesepuh nelayan Pandanarang, Ki Arsa Menawi untuk melarung sesaji ke laut selatan.

Pada tahun 1875, sedekah laut dilakukan dengan menyertakan kelompok nelayan lain seperti Sidakaya, Donan, Sentolokawat, Tegalkatilayu, Lengkong dan Kemiren. Namun, tradisi tersebut sempat terhenti dan dihidupkan kembali semasa Bupati Poedjono Pranjoto pada 1982 hingga sekarang.//ipung