• News
  • Ritual Mentas Jamasan Pusaka Warisan Leluhur

Ritual Mentas Jamasan Pusaka Warisan Leluhur


Cilacap - Para putra wayah pelestari adat Jawa yang tergabung dalam Paguyuban Songsong Agung Bawono Langgeng, Maos Kidul, menggelar ritual mentas jamasan pusaka warisan leluhur, Sabtu (21 September 2019) malam.

Ritual tasyakuran mentas jamasan pusaka dilaksanakan di Pendopo Songsong Agung Bawono Langgeng atau tempat pemondokan pusaka di Jalan Penatusan, Desa Maos Kidul, Kecamatan Maos, Cilacap, Jawa Tengah.

Saat ditemui usai ritual mentas jamasan pusaka, Penasehat pelestari adat Jawa Paguyuban Songsong Agung Bawono Langgeng, Mbah Sabirun (65) membeberkan perihal tradisi jamasan pusaka. Kegiatan jamasan ini secara rutin diadakan setiap tahun, tepatnya di bulan suro. Ritual jamasan untuk membersihkan pusaka peninggalan atau warisan para leluhur.

Dijelaskan Mbah Sabirun, prosesi jamasan berlangsung selama 18 hari dan melalui beberapa tahap. Pertama ngungkum (perendaman) selama 3 hari, kemudian dibersihkan dan dilanjutkan dengan pembilasan. Setelah dibilas  dilanjutkan dengan penjemuran.

"Dijemur hingga 2 hari, itu kalau pas cuaca bagus. Tapi jika cuaca tidak bagus, proses penjemuran bisa 3 hari. Terakhir pembuatan sertifikat atau indentitas benda pusaka tersebut," tuturnya.

Benda pusaka yang dijamas oleh Paguyuban Songsong Agung Bawono Langgeng sekitar 146 benda pusaka berupa keris, tombak, duwung dan lain sebagainya.

"Pusaka yang dijamas ada yang dari abad 11 dan 12. Bentuknya ada keris, tombak bahkan ada ageman ageman dari Senopati wujudnya berupa pedang," ungkap Mbah Sabirun.

Menurut Mbah Sabirun, pusaka memiliki ciri khas. Pusaka milik para Ratu atau Raja berbeda dengan yang dimiliki Patih  maupun Senopati. Untuk pusaka Ratu atau raja biasanya berupa keris dengan tombak, biasanya sejodoh.

"Pusaka yang masuk disini, dari jaman sebelum Kediri dan Majapahit, ada yang tertua disini. Bentuknya ada tombak yang tertua disini, sebelum kerajaan Singosari dari Jenggolo," tuturnya 

Sebagai keturunan Jawa, Mbah Sabirun terpanggil untuk menjaga dan melestarikan pusaka adiluhung warisan para leluhur agar tidak punah.

"Tujuan saya hanya nguri nguri supaya peninggalan leluhur tidak hilang sejarahnya," pungkasnya.

Hal serupa juga diungkapkan Seksi Tradisi Paguyuban Songsong Agung Bawono Langgeng, Khamin Tohari (35). Menurutnya, ritual jamasan disamping untuk membersihkan pusaka juga untuk nguri nguri adat dan budaya warisan leluhur.

Dikatakan Khamin, jamasan ini juga untuk menjelaskan atau memberitahukan sebagai media pembelajaran kepada generasi penerus supaya pusaka atau peninggalan dari leluhur tersebut tidak  hilang. Bahkan bisa lestari hingga anak cucu.

"Bahwasanya, ini loh yang namanya pusaka warisan dari leluhur kita. Ini penjabaran tentang pusaka, pamor, tangguh, masa abad berapa dan dibuat oleh empu siapa. Makanya dari situ kami sertifikatkan," terangnya.

Khamin berharap kedepan lebih maju dan oleh instansi pemerintah supaya bisa melihat atau membaca apresiasi kami, yang berupa jamasan pusaka yang diadakan setiap tahun di paguyuban. //W1D.