• News
  • Perselisihan Nelayan Cilacap-Pangandaran Berakhir Damai

Perselisihan Nelayan Cilacap-Pangandaran Berakhir Damai


Cilacap - Pertemuan hari ini sebetulnya silaturahmi antara HNSI Kabupaten Cilacap dengan HNSI Kabupaten Pangandaran, Dinas Kelautan dan Perikanan Pangandaran dan Kabupaten Cilacap serta Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Cilacap, Ditiasa Pradipta, SH, M.Si usai acara pertemuan antara nelayan Cilacap dan nelayan Pangandaran yang dilaksanakan di ruang rapat Dinas Perikanan Cilacap, Rabu (11 September 2019).

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, BKSDA Jateng, PSDKP Jabar, DKPKP Pangandaran, Kepala DKP Cilacap, Polair, Lanal, Ketua HNSI Cilacap, HNSI Pangandaran dan perwakilan nelayan.

"Pertemuan ini untuk menjalin silaturahmi antara unsur pemerintah dan nelayan. Termasuk dengan adanya berita-berita konflik dilapangan, apakah betul gesekan tersebut sudah diselesaikan, ternyata betul sudah diselesaikan," tegasnya.

Ditiasa juga menjelaskan bahwa dalam pertemuan ini, ada beberapa masukan-masukan dari Lanal, Polair serta dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Barat dan juga kami dari Dinas Perikanan Cilacap.

"Hasil pertemuan hari ini ada 14  poin yang perlu diketahui bersama baik dari Jawa Tengah maupun Jawa Barat, termasuk Pangandaran dan Cilacap," tuturnya.

Diungkapkan Ditiasa, intinya sudah sepakat bahwa nelayan Pangandaran dan Cilacap itu akur, tidak ada masalah, dan langkah kedepan kami sudah sepakat akan mengadakan pertemuan rutin antara unsur Pemerintah dan HNSI yang notabene adalah nelayan.

"Pertemuan rutin tersebut akan kami kemas dalam coffee morning dan Kabupaten Cilacap yang akan ketempatan pertama kali," katanya. 

Hal senada juga diungkapkan Wakil ketua DPC HNSI Kabupaten Pangandaran, Muhammad Yusuf, intinya kesepakatan antara nelayan Pangandaran dan nelayan Cilacap untuk saling menjaga rasa persaudaraan, persatuan sesama nelayan.

"Tidak lagi saling memicu hal-hal yang memicu konflik kearah sosial dan akan bersama-sama saling menjaga rasa gotong-royong saat melaut, sehingga satu sama lain tidak lagi saling mendahului untuk melontarkan kata atau sikap yang memicu hubungan yang tidak sehat apabila ada jaring yang hilang," katanya.

Untuk hal-hal lain yang akan kita rumuskan di Provinsi pada tanggal 16,17 dan 18 September besok, menurutnya drafnya seperti apa, saya belum tahu, namun yang jelas lebih kepada penguatan MoU berkaitan dengan kerukunan antara nelayan Pangandaran dan Cilacap. 

"Drafnya sendiri saya belum tahu, apa yang akan kita sepakati di provinsi. Hanya tadi dalam pertemuan ada 14 poin yang berhasil kita setujui," ungkapnya.

Perselisihan yang terjadi menurut Yusuf, hanya salah paham saja, karena ada jaring penangkap lobster yang hilang dilaut, dan nelayan Cilacap mengira jaring itu tersapu oleh jaring nelayan Pangandaran, karena saat itu ada nelayan Pangandaran yang sedang menarik jaring.

Lebih lanjut, Yusuf menjelaskan, beberapa saat setelah arus reda, muncul jaring yang dianggap hilang tersebut dan saat itu sebetulnya persoalan sudah selesai di laut.

"Agar tidak melebar ke yang lain, maka dibuatkan pertemuan yang menjurus ke kesepakatan bersama mewakili semua pihak," tuturnya.

Menurut Yusuf, Pangandaran dengan Cilacap tidak bisa dipisahkan, karena ada latar belakang sejarah yang sangat lekat, dan kedepan hal-hal seperti ini jangan sampai terjadi lagi.

"Dengan adanya pertemuan ini, semoga persaudaraan nelayan Cilacap dan Pangandaran akan semakin kuat," tegas Yusuf.

Seperti diketahui perselisihan yang terjadi antara nelayan Cilacap dan Pangandaran di sekitaran perairan Karanganyar, Nusakambangan beberapa waktu yang lalu.

Konflik itu terjadi akibat adanya kesalah pahaman, saat melaut jaring nelayan Cilacap hilang di perairan Karanganyar dan saat itu juga ada nelayan dari Pangandaran, Jawa Barat, sehingga nelayan Cilacap beranggapan jaringnya tersapu oleh nelayan Pangandaran. //W1D.