• News
  • Panembahan Raganata Jingkang

Panembahan Raganata Jingkang


Selain sebagai pepunden dan cikal bakal Desa Jingkang, Panembahan Raganata juga diyakini sebagai tempat singgahnya Syaikh Abdus Shomad (Jombor) saat menjalankan perjalanan siar Islam di wilayah Banyumas.

Berada di Grumbul Karangnangka, Desa Jingkang, Kecamatan Ajibarang, Kabupaten Banyumas, Panembahan Raganata berupa lempengan beberapa batu besar yang bersebelahan dengan sebuah kali kecil. Lokasi yang hanya beberapa meter dari jalan utama desa, tentu memudahkan pengunjung yang hendak menjalankan wisata ziarah. Dengan Diantar Supartono sang juru kunci, PAMOR mengunjungi tempat tersebut, Rabu (18 Juli 2018) lalu.

Tidak banyak keterangan yang didapat dari sang juru kunci, namun dari cerita yang sudah berjalan turun temurun Panembahan Raganata menyimpan sebuah piwulang (ajaran) laku urip. Seperti yang diceritakan Mbah Kusen (71) salah satu sesepuh Desa Jingkang.

Piwulang laku urip disini, bukan dari siapa dan dari mana tokoh Raganata, melainkan dari bahasa sanepan nama-nama tokoh yang menurut cerita mendiami punden tersebut. Salah satunya Mbah Raganata tokoh yang dianggap paling tua di bumi Desa Jingkang.

Menurut cerita Mbah Kusen, Panembahan Raganata Jingkang didiami oleh lima sosok tokoh yaitu  Rogonoto, Tirtojoyo, Gelapngampar, Rujakbeling dan Tembangsore. Kelima nama tokoh tersebut mempunyai arti yang bisa menjadi tuntunan manusia dalam menjalani hidup.

Dikatakan bahwa makna dari lima nama tersebut merupakan satu kesatuan sifat untuk menjaga keseimbangan manusia dengan sesama, manusia dengan alam dan manusia dengan tuhannya. Dari satu kesatuan lima sifat itulah manusia bisa mapag kehidupan.

Raganata yang berarti menata raga adalah sebuah piwulang yang mengajarkan manusia hidup itu harus bisa menata diri baik itu jiwa, raga maupun rasa. Sedangkan Tirtajaya asal dari kata Tirta yaitu air dan jaya adalah kejayaan adalah perlambang bahwa manusia hidup itu ibarat mbanyu mili. Istilah mbanyu mili disini adalah mengikuti kehendak Sang Pencipta.

Gelapngampar yang secara umum dikenal oleh masyarakat jawa adalah sebuah kesaktian yang bisa mengeluarkan suara keras yang bisa terdengar sampai jauh adalah sebuah sanepan bagaimana manusia harus berani bersikap, berani berkata apa adanya (jujur) demi kebenaran dan kebaikan.

Sementara Rujakbeling adalah ajaran bagaimana manusia harus mempunyai kemampuan atau kelebihan, sedangkan Tembangsore adalah sebuah lambang kemuliaan dimana segala tindak tanduk dan perkataannya menjadi contoh bagi sesama.

Dikatakuan pula bahwa keberadaan kelima tokoh tersebut juga diyakini sebagai tokoh yang pertama kali mengajarkan bagaimana cara mengolah (nggulowentah) apa yang ada bumi Jingkang dan sekitarnya, salah satunya adalah mengolah tanaman bambu sebagai peralatan dapur. Keyakinan tersebut berasal dari kata Jingkang yang berarti Wiji lan Cangkang.

Selain dikenal dengan nama panembahan Raganata, tempat tersebut juga biasa disebut dengan panembahan Depok Kali Papag. Panembahan Raganata saat ini masih sering dikunjungi oleh peziarah terutama pada hari-hari tertentu.//ipung