• News
  • Panembahan Gunung Depok

Panembahan Gunung Depok


Kisah pelarian Raden Kamandaka yang terluka akibat terkena ptrem saat bertarung melawan Raden Banyak Ngampar, melatarbelakangi keberadaan Panembahan Gunung Depok. Ditempat inilah Raden Kamandaka duduk berdiam diri (deprok) untuk menyembuhkan lukanya.

Panembahan yang ditandai dengan rimbunnya pohon walangan ini berada di puncak bukit hutan pinus, wilayah Desa Tambak Negara, Kecamatan Rawalo, Kabupaten Banyumas.

Bagi sebagian besar masyarakat Banyumas, bukit biasa disebut dengan gunung. Dengan diantar Eyang Sanwiyata (88) sesepuh asal Grumbul Kalitanjung, PAMOR mengunjungi panembahan tersebut, Kamis (20 September 2018) lalu.

Sembari menapaki jalan berbatu, Eyang Sanwiyata bercerita kenapa tempat tersebit diberi nama Gunung Depok. Hal itu karena diambil dari kata deprok (duduk).

"Dadi diarani depok, merga nang kene Raden Kamandaka deprok, kena patreme sedulure dewek (Jadi disebut  depok, karena disini Raden Kamandaka duduk (deprok) akibat terkena patrem saudaranya sendiri)," ucapnya bercerita.

Tidak butuh waktu lama untuk kami menuju lokasi, dengan waktu tempuh kurang lebih empat puluh lima menit. Sesampainya dilokasi tanpa menunggu lama Eyang Sanwiyata langsung duduk bersimpuh memohon izin kepada leluhur yang bersemayam di panembahan tersebut.

"Jenenge panembahan, ya kanggo manembahing menungsa marang gustine, (namanya panembahan, ya untuk permohonan manusia kepada Tuhan Yang Maha Kuasa)," tuturnya.

Kendati berada di puncak bukit hutan pinus yang jauh dari pemukiman warga, Panembahan Gunung Depok masih sering dikunjungi oleh peziarah terutama pada hari hari Senin dan Kamis. Itu terlihat dari banyaknya sisa-sisa bakaran dupa tidak jauh dari batu yang konon dipergunakan untuk duduk Raden Kamandaka.//ipung