• News
  • Nyingking si Yuyu Pantai, Yang Menghidupi

Nyingking si Yuyu Pantai, Yang Menghidupi


Semilir angin berhembus ditepi pantai membawa suasana hati dalam kedamaian, deburan ombak yang datang dan pergi bak alunan kidung dikesunyian, berhias langit senja beralas hamparan pasir nyanyian alam pun mulai didendangkan, entah sedih ataupun senang hanya jiwalah yang mampu mendengarkan. Sebab itulah senja di pantai selalu dinantikan. Namun, adakalanya keindahan alam menutupi kehidupan yang sebenarnya. Ketika mata memandang jauh tanpa penghalang dan decak kagum terucap dari mereka yang berkecukupan, seorang perempuan tua malah menunduk melihat setiap jengkal sekedar mencari "Nyingking" si yuyu kecil yang biasa sembunyi digundukan pasir.

Entah sejak kapan Mbah Watem (60) mulai mencari Nyingking, dia tak pernah mengingatnya. Yang pasti sudah puluhan tahun ia menggantungkan hidupnya sebagai penjual Pelas Nyingking. Rabu (10 Juli 2019) lalu, PAMOR menjumpainya di Pantai Bunton, Adipala, Cilacap. Mencari Nyingking biasa dilakukan pada sore hari setelah mencari daun pisang dan kayu bakar, juga kelapa yang menjadi bahan utamanya. Terkadang untuk sedikit menekan modal Mbah Watem mengajak Jatmiko (19) cucunya, membeli kelapa yang masih dipohon milik tetangga. Harganya tentu jauh lebih murah dari harga di warung, meskipun Jatmiko sendiri yang harus memetiknya.

Sedikitnya lima butir kelapa diparut secara manual oleh Mbah Watem untuk membuat pelas, ditambah sepuluh ekor Nyingking yang ditumbuk halus lalu disiram sedikit air kelapa kemudian diperas diambil sarinya yang biasa disebut Lemi, setelah dibumbui dan diaduk sampai rata, adonan siap dibungkus dengan daun pisang. Menjelang malam Pelas Nyingking mulai dimasak diatas tungku menggunakan kayu bakar, aromanya yang khas menebar bersama kepulan asap dari sela-sela bilik bambu dapur Mbah Watem yang sudah usang.

Dapur sederhana yang memanfaatkan ruang di bawah rumah panggung tempat tinggalnya, dengan menambahkan bilik bambu sebagai dinding sementara bagian depan menggunakan kayu. Rumah yang berada di jalan Kongsen, Rt. 4 Rw. 5, Desa Bunton, Kecamatan Adipala, Cilacap, terlihat berbeda dengan rumah-rumah tetangga lainnya. Wajar, karena rumah yang ditempati Mbah Watem bersama cucunya merupakan rumah bantuan dari pemerintah, seperti belasan rumah panggung yang ada di Kecamatan Widarapayung.

Mbah Watem menempati rumah itu sejak sepeninggal suaminya lantaran sakit. Konon, rumah dan pekarangan tempat tinggal sebelumnya telah dijual untuk membiayai pengobatan, apa daya sebagai manusia hanya mampu berusaha.

Pagi hari Mbah Watem menjual pelas olahannya keliling dari rumah ke rumah, pelanggan pun sudah menanti sehingga tidak butuh waktu lama untuk menghabiskan enam puluh bungkus dengan harga Rp. 1.000,- per bungkusnya. // W1D – sp.