• News
  • Nelayan Cilacap Keluhkan Harga Ubur ubur yang Kian Merosot

Nelayan Cilacap Keluhkan Harga Ubur ubur yang Kian Merosot


Nelayan di pesisir selatan Jawa Tengah khususnya Kabupaten Cilacap mulai panen ubur-ubur, yang muncul sejak sepekan terakhir usai pasca gelombang tinggi yang terjadi di laut selatan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Meskipun mulai panen ubur ubur, sebagian nelayan Cilacap mengeluhkan harganya yang masih terlalu murah Rp 700,- perkilo dibandingkan dengan harga ubur ubur tahun sebelumnya sekitar Rp 1.200 perkilo.

Salah satu nelayan Payang Cilacap, Agus (55) warga Jl. Dayung, Kelurahan Cilacap, Kecamatan Cilacap Selatan, Cilacap mengatakan saat ini di perairan Cilacap sedang musim ubur ubur. Menurut Agus, jika musim ubur-ubur, nelayan biasanya akan kesulitan mencari hasil tangkapan udang dan ikan.

Agus mengaku saat melaut, dirinya dan rekan-rekannya mencari udang dan ikan. Namun karena sedang musim ubur ubur. Mau tidak mau dirinya dan rekannya menangkap ubur ubur untuk mengganti biaya operasional.

“Lumayan untuk operasinal kapal dan kebutuhan sehari hari. Meskipun harganya masih terlalu murah berbeda dengan tahun lalu sebesar Rp. 1.200 perkilo,” ujarnya.

Sementara menurut salah satu nelayan arad warga RT 1 RW XIV,Kemiren, Tegalkamulyan, Cilacap, Sutarman, para nelayan arad lebih memilih mencari udang dan ikan. Saat ini harga ubur-ubur sangat murah dibanding dengan harga udang maupun ikan.

“Namun jika harga ubur-ubur diatas Rp. 1.000,- perkilo, biasanya nelayan arad mau mencari ubur ubur. Harganya sekarang tidak sebanding dengan tenaga dan beratnya menarik jaring arad,” ujarnya.

Sutarman menegaskan nelayan arad tetap memilih mencari ikan dan udang dibandingkan mencari ubur ubur. “Lebih ekonomis mencari udang dan ikan. Baik ditimbangannya dan harga jualnya,” ujarnya.

Menurut salah satu pengepul ubur ubur, Badri warga Tegalkatilayu, harga ubur ubur yang menentukan eksportir atau Pabrik. “Pengepul hanya mengikuti harga dari pabrik. Saat ini harga dari eksportir (pabrik) sebesar Rp. 900 perkilo. Kami beli dari nelayan seharga Rp. 700 perkilo,” tuturnya.

Badri menjelaskan keuntungan pengepul dari dulu sangat tipis. Dari keuntungan yang sangat minim ini kami bagi dengan pekerja yang membantu menimbang dan menaikan ubur ubur dari bak penampung sementara untuk diangkut ke tempat eksportir.

Dia mengatakan harga ubur ubur tahun ini sangat murah dibandingkan tahun sebelumnya. Harga sudah kesepakatan dari eksportir. Pengepul hanya mengikuti kesepakatan harga tersebut, meskipun ada pengepul yang berani membeli dengan harga Rp. 800 perkilo. “Namanya juga persaingan, wajar saja. Mereka berani dengan harga segitu supaya hasil yang disetor ke eksportir lebih banyak,” ujarnya.

Hal senada juga diungkapkan pengepul lainya, Yuni warga Jl Bahari Tegal kamulyan, kami membeli ubur ubur seharga Rp 700 perkilo. Harga itu mengikuti kesepakatan dengan eksportir. Setiap hari jika dirinya membeli ubur ubur dari nelayan sekitar 15 hingga 25 ton. Bahkan jika nelayan memperoleh hasil tangkapan melimpah, dirinya mampu membeli 50 ton perhari.

Saat ini justru nelayan Cilacap dihadapkan dengan pilihan yang memprihatinkan, harga ubur ubur tidak semakin membaik malah semakin merosot. Dari pengepul harga ubur ubur seharga Rp. 600 hinggga Rp. 650 perkilonya.

“Harganya saat ini justru merosot dibandingkan beberapa hari yang lalu. Sekarang harganya Rp 600 hingga Rp 650 perkilo. Tidak sebanding dengan biaya operasional dan tenaga,” ujar sebagian nelayan warga Bonjati, Cilacap, Senen(06 Agustus 2018).

Nelayan Bonjati berharap harga ubur ubur semakin membaik seperti tahun sebelumnya dengan harga Rp 1.200 perkilo. “Jangan malah merosot harganya, masa harga yang dijual ekspor harganya terlalu murah,” ujar Ari yang didampingi para nelayan Bonjati. //wd.