• News
  • Metuk Suran, Sambut Bulan Suci dan Tahun Baru Jawa

Metuk Suran, Sambut Bulan Suci dan Tahun Baru Jawa


Berdasarkan Kurup Aboge (Alip Rebo Wage), Cathetan Kajawan, bulan Sura tahun ini memasuki tahun Saka Jawa 1552. Metuk atau Mapak Suran merupakan tradisi dalam menyambut datangnya bulan Sura (Suro), sebagai bulan suci dan tahun baru bagi masyarakat Jawa.

Sudah menjadi tradisi setiap tahun, di bulan Sura Tahun 1552 ini para putra wayah Padepokan Payung Agung, Desa Banjarsari, Kecamatan Nusa Wungu, Cilacap, Jawa Tengah melaksanakan ritual mapak Suran, larung sesaji di pantai selatan, kirap pusaka dan kirap hasil bumi.

Setelah menggelar ritual tersebut, para wayah putra  Padepokan Payung Agung akan membersihakan atau menyucikan diri dengan melaksanakan puasa (ora mangan wohe dami) selama 40 hari.

Sebelum melaksanakan larung sesaji, kirap pusaka, kirap hasil bumi dan puasa, para putra wayah Padepokan Payung Agung menggelar ritual selamatan (wilujengan) metuk atau mapak Suran pada malam satu Sura, Rabu (13 September 2018) malam.

Ritual syukuran ini sebagai bentuk rasa syukur  atas nikmat dan anugerah yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa kepada umatnya. Selain sebagai wujud syukur, ritual ini juga untuk mendoakan para leluhur dan pepunden masyarakat Jawa.

Menurut salah satu Putra Wayah Padepokan Payung Agung, Mbah Bambang Triyono mengungkapkan, bulan Sura merupakan bulan suci bagi orang Jawa. Sebagai orang Jawa, kita harus memegang teguh pedoman hidup, diantaranya hubungan dengan sesama masyarakat, Sang Pencipta, leluhur dan alam semesta.

“Kita sebagai orang Jawa mestinya jangan melupakan asal mula dan tujuan akhir dari kehidupan manusia  (sangkan paraning dumadi), mengerti tugas dan kewajibannya, serta berbudi luhur,” tuturnya Mbah Bambang.    

Orang Jawa itu, lanjut Mbah Bambang, jangan melupakan dan meninggalkan akar budayanya, karena kepribadian orang Jawa itu berbeda. “Harus njawani dan melestarikan serta mengamalkan nilai nilai luhur sebagai orang Jawa,” ujar Mbah Bambang.

Ritual Mapak Suran diawali dengan slametan (wilujengan) dilanjutkan dengan macapatan dan pementasan kesenian tradisional intren sebagai bentuk nguri nguri budaya warisan leluhur. //Wd.