• News
  • Menyibak Misteri Surup Lawangan Cilacap

Menyibak Misteri Surup Lawangan Cilacap


Deburan ombak serta hilir mudik perahu penambang pasir menjadi pemandangan yang setiap saat dijumpai di tempat bertemunya aliran sungai Serayu dengan laut selatan ini. Sementara disisi sungai tampak para penjala ikan berjajar, ada pula yang mencari remis atau wande.

Seperti daerah pesisir pada umumnya, tempat yang dikenal dengan nama Surup Lawang ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat sekitar. Namun dibalik itu semua, muara Sungai Serayu juga menyimpan banyak misteri, mulai dari lokasi muara yang selalu berpindah-pindah hingga tentang keberadaan ikan hiu raksasa yang selalu menampakan diri disaat musim kemarau.

Masuk wilayah Desa Bunton, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap, Surup Lawang dulunya merupakan daerah pantai dan area pesawahan. Dan entah apa yang terjadi, pada tahun 1919 dan tepatnya pada hari Jumat Kliwon daerah tersebut berubah menjadi sungai.

"Jadi menurut cerita para sesepuh, muara sungai serayu dahulu selalu berpindah-pindah tempat. Bahkan setahun bisa berpindah dua sampai tiga kali, dan itu tidak ada yang tahu kapan dan apa penyebabnya," ungkap Mbah Ponijo (60) salah satu sesepuh setempat saat dijumpai PAMOR, Sabtu (6 Oktober 2018) lalu.

Berpindahnya muara sungai serayu dari satu tempat ke tempat yang lain berlangsung hingga tahun 1996 yaitu setelah bendungan gerak serayu selesai dibangun. Tidak hanya menyisakan misteri bagi masyarakat setempat, di muara Sungai Serayu juga diyakini tempat bersemanyamnya ikan hiu raksasa yang selalu nampak pada saat musim kemarau.

Keberadaan ikan hiu raksasa yang selalu muncul pada saat musim kemarau juga diamini oleh Darsono (45) nelayan asal Desa Wlaharan, Kecamatan Adipala. Menurutnya, bukan hanya satu apa dua orang saja yang pernah melihat, tapi juga oleh hampir semua masyarakat yang beraktivitas dimuara serayu tersebut.

"Sudah biasa mas, sudah tidak heran apalagi takut," tutur Darsono.

Hal senada juga dikatakan Suripto Warga Desa Gombilharjo yang kesehariannya sebagai nelayan setempat. Menurutnya menyaksikan ikan hiu raksasa yang melintasi muara sungai serayu merupakan hal yang sudah biasa. Bahkan beberapa tahun lalu perahu yang ia tumpangi pernah ditabrak oleh ikan hiu raksasa tersebut.

"Waktu itu sekitar tengah malem, saat saya sedang menjala ikan tiba-tiba perahu saya oleng karena tertabrak, beruntung perahu yang saya naiki tidak terbalik," ucapnya bercerita.

Atas kejadian itulah hingga saat ini Surup Lawang dikenal sebagai daerah angker oleh masyarakat sekitar. Dan untuk mengenang terbentuknya muara, setiap hari Jumat Kliwon, baik nelayan, penambang pasir dan petani disekitaran muara tidak diperbolehkan untuk beraktivitas. Selain itu dihari yang sama setiap bulan Sura (Muharrom) masyarakat sekitar jaga menggelar selamatan bersama.//ipung