• News
  • Lestarikan Tradisi Adiluhung, Masyarakat Desa Pesanggrahan Wilujengan Sedekah Bumi

Lestarikan Tradisi Adiluhung, Masyarakat Desa Pesanggrahan Wilujengan Sedekah Bumi


Cilacap - Anak putu Desa Pesanggrahan, Kecamatan Kroya, Cilacap memadati rumah Kepala Desa Pesanggrahan. Mereka berkumpul untuk menggelar Wilujengan Sedekah Bumi, Jumat (20 September 2019).

Sudah menjadi agenda rutin tahunan, setiap bulan Suro, anak putu Desa Pesanggrahan menyelenggarakan ritual adat sedekah bumi sebagai wujud rasa syukur mereka atas nikmat dan anugerah yang diberikan Allah SWT.

Kepala Desa Pesanggrahan menuturkan, memetri bumi atau sedekah bumi ini sebagai ungkapan rasa syukur keluarga masyarakat Pesanggrahan atas segala anugerah, rejeki dan nikmat yang telah diberikan Allah SWT.

Prosesi sedekah bumi dimeriahkan iring-iringan gunungan palawija, tumpeng dan Tenong. Antusias warga Pesanggrahan dalam memetri bumi atau sedekah bumi sangat tinggi untuk tetap menjaga dan melestarikan budaya dan tradisi leluhur yang sudah berjalan secara turun temurun.

"Alhamdulillah, acaranya biasa tetapi antusias dari warga luar biasa. Tumpeng sekitar 100 dan Tenong 120," ungkap Sarjo.

Sebagai pemerintah desa, Sarjo berharap, karena ini merupakan kegiatan rutin rasa syukur setiap bulan Sura, kedepan kegiatan seperti ini, lebih baik lagi karena dilihat dari antusias diwarga desa Pesanggarahan luar biasa.

"Kitapun kurang persiapan sebenarnya. Persiapan masalah tratag dan tempat. Kedepan kita benahi lagi. Intinya budaya atau tradisi memetri bumi tetap lestari," pungkasnya.

Hal senada juga diungkapkan Sekcam Kroya, Nugroho Slamet Budi Santosa. Sekcam yang akrab disapa Janoko ini sangat mengapresiasi terhadap kegiatan memetri bumi di desa Pesanggrahan.

"Sebagai desa pelestari adat, masyarakatnya memegang teguh budaya adiluhung warisan leluhur," tuturnya.

Dikatakan Janoko, prosesi memetri bumi atau sedekah bumi ini, sebagai ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT. Masyarakat berkumpul mengadakan ruwatan bumi dan makan bersama dengan menggunakan pakaian adat Jawa.

Janoko sangat terkesan dengan Tenong yang digunakan oleh masyarakat Pesanggrahan sebagai tempat untuk membawa aneka masakan, ingkung ayam dan buah-buah dalam prosesi Wilujengan Sedekah bumi atau memetri bumi.

"Perangkat Tenong dan lain sebagainya, saat ini jarang terjadi atau jarang ditemukan di daerah-daerah lain," katanya.

Janoko juga berharap sebagai desa pelestari adat di provinsi Jawa Tengah, desa ini terus menggali dan melestarikan budaya, tradisi dan kearifan lokalnya.

"Ini merupakan sesuatu budaya yang tentunya harus kita uri-uri. Kita lestarikan jangan sampai  punah, jangan sampai terkikis akibat masa ataupun era globalisasi," ungkapnya.

Menurut Janoko, saat ini yang sudah menjadi ikon desa Pesanggrahan yaitu bobok bumbung PBB. Kegiatan bobok bumbung  rutin dilakukan setiap tahunya.

"Bobok bumbung kemarin sempat dihadiri oleh Gubenur Jawa tengah dan hal ini sudah dilaksanakan kurang lebih 4 atau 5 tahun kebelakang. Ini menjadi suatu kegiatan rutinitas desa Pesanggrahan," terangnya.

Janoko berharap kegiatan itu tetap dijaga dan dilestarikan. Dengan bobok bumbung ini, menunjukan bahwa desa Pesanggrahan taat terhadap pemerintah terutama dalam hal pembayaran pajak.

Selain sedekah bumi dan bobok bumbung, menurut Janoko, di Desa Pesanggrahan banyak budaya-budaya yang harus diangkat dan dilestarikan. Dia mencontohkan seperti buncis, cowong, kuda lumping dan ketoprak masih ditemukan di Desa Pesanggrahan.

"Sudah hampir punah, tapi masih kita temukan di desa Pesanggrahan ini yang perlu kita dukung dan dilentarikan. Kedepan bisa diangkat menjadi festival adat Desa Pesanggrahan," pungkasnya.

Dalam acara memetri bumi atau sedekah bumi, masyarakat Desa Pesanggrahan juga dihibur pagelaran wayang kulit oleh dalang cilik asli warga Desa Pesanggrahan, Sangaji Darma Wijaya dengan lakon Sesaji Raja Surya. //W1D.