• News
  • Kisah Kehidupan Mbah Sanmiarto

Kisah Kehidupan Mbah Sanmiarto


Perjalanan hidup Mbah Sanmiarto (60) warga Dusun Kalenlingga, RT 2 RW V, Desa Ciyawang, Kecamatan Patimuan, Cilacap memang penuh keikhlasan dan perjuangan.

Sejak kecelakaan jatuh dari pohon kelapa saat menyadap nira tahun 1988 silam, Mbah Sanmiarto mengalami kelumpuhan. Meskipun sudah tidak bisa berdiri dan berjalan, pria kelahiran 1958 ini tetap semangat menjalani kehidupannya.

Mbah Sanmiarto yang hidup sendiri dalam rumah ukuran 3 X 4 meter tidak mau merepotkan orang lain. Untuk kelangsungan hidupnya, dia berdikari dan berjuang dengan membuat kerangka dan gagang golok untuk dijual ke pande besi.

Saat ditemui di rumahnya, Selasa (18 Desember 2018) Sanmiarto berbagi cerita, sudah 30 tahun lalu, ia tidak dapat beranjak dari tempat tidurnya lantaran kedua kakinya mengalami kelumpuhan.

Sebelum mengalami kelumpuhan, ia mengaku pernah 3 kali jatuh saat menyadap nira. Namun kecelakaan tersebut tidak menyurutkan langkahnya untuk tetap menyadap nira.

“Resiko penderes ya jatuh dari pohon. Jatuh yang ke 4 kalinya, saya mengalami kelumpuhan hingga sekarang,” kenang Mbah Sanmiarto.

Mbah Sanmiarto menyadari setiap kejadian pasti ada hikmahnya. Ia pun juga legowo saat istrinya menikah dengan pria lain. “Saya menyadari kondisi waktu itu dan sangat ikhlas. Meskipun berpisah hubungan tali silaturahmi kami masih terjaga hingga saat ini,” tutur Mbah Sanmiarto.

Dari pernikahan dengan istrinya, Mbah Sanmiarto dikaruniai 2 putri yang kini sudah menikah dan memberikan 4 cucu. “Saya dikarunai dua putri, dan sudah menikah semua. Saya tidak mau merepotkan anak-anak," katanya.

Dijelaskan Mbah Sanmiarto, pasca kecelakaan tersebut, dirinya usaha sol sepatu dan membuat patung dari tanah liat. Namun karena bahannya dari tanah, ia akhirnya memutuskan hanya menerima sol sepatu saja.

Seiring dengan waktu tahun 2002, Mbah Sanmiarto diajak kerjasama oleh Sardiman yang berprofesi sebagai pande besi untuk membuat kerangka dan gagang golok. “Tawaran itu saya terima hingga saat ini. Dalam sehari saya mampu membuat kerangka dan gagang golok sebanyak 2 pasang dengan harga sepasang Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu,” jelasnya.

Setiap hari, meski dengan tiduran Sanmiarto mengerjakan kerangka dan gagang golok, namun hasil yang dibuat sangat bagus, sehingga pande besi langganannya cukup puas dengan hasil kerajinannya.Bahkan dirinya kerap mendapat pesanan membuat kerangka dan gagang golok dari luar daerah.    

Untuk memenuhi pesanan, Mbah Sanmiarto mendapat bahan untuk membuat kerangka dan gagang dari tukang potong kayu atau tukang rajang kayu (somel) dan biasanya dia pesan dengan ukuran panjang 80 cm dan tebalnya 0,5 cm serta lebar sekitar 10 cm hingga 15 cm.

“Untuk mengurusi segala kebutuhan saya seperti membeli obat dan lain-lain, saudara saya Kasinah dan Sugiarti yang membantu,” ungkap Sanmiarto.

Selain sebagai pengrajin kerangka dan gagang golok, Mbah Sanmiarto juga menerima pekerjaan perbaikan sepatu atau sol sepatu dengan imbalan seikhlasnya. //wd.