• News
  • Desa Pangebatan menggelar Gebyar Budaya Suran Agung

Desa Pangebatan menggelar Gebyar Budaya Suran Agung


Banyumas - Dalam rangka menyambut Tahun Baru Islam (Muharrom 1441 H), warga Desa Pangebatan, Kecamatan Karanglewas, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, baru-baru ini menggelar Gebyar Budaya dan Grebeg Suran Agung di lapangan Desa setempat, Minggu, (8 September 2019) lalu.

Acara yang mengangkat tema Slamet Gunungku, Slamet Bumi Banyuku, diselenggarakan kerjasama antara karangtaruna Kamandaka 2 Desa Pangebatan dengan Pemerintah Desa dan Padepokan Cowong Sewu. Acara diikuti oleh 38 peserta dengan berbagai macam karya unggulan. Masing-masing karya diarak menuju lapangan untuk diperlombakan.

"Peserta adalah perwakilan dari tiap-tiap RT dan RW se-Desa Pangebatan. Mereka mengusung dan mengangkat potensi yang ada di masing-masing wilayah," ucap Kepala Desa Pangebatan Agus Suroso di sela-sela acara.

Dengan diadakanya Gebyar Budaya dan Suran Agung ini pihaknya berharap ini akan menjadi dorongan dan semengat generasi muda untuk ikut menggali potensi dan melestarikan warisan nenek moyang yang sudah ada sejak zaman dahulu, baik dari segi hasil bumi maupun seni dan tradisinya. Untuk kedepanya dari pemerintah Desa bersama padepokan Cowong Sewu ingin mengagendakan semua ini menjadi acara tahunan.

"Tujuannya tidak lain untuk mengangkat Desa Pangebatan menjadi desa wisata, dan Desa budaya,” terangnya.

Wakil Bupati Banyumas, Drs. Sadewo Tri Lastiono yang hadir dalam acara menyampaikan, banyak desa atau wilayah yang ingin mengunggulkan potensinya, tetapi yang seperti ini kayaknya belum ada, hanya ada di Desa Pangebatan.

"Sekarang kan zamannya medsos, tinggal dinaikan dan viral, yang penting dilakukan secara konsisten saya yakin Desa Pangebatan bisa menjadi icon di Kabupaten Banyumas,” kata Sadewo.

Disampaikan juga bahwa untuk menjadikan sebuah wilayah sebagai desa wisata, seharusnya obyek yang disuguhkan di masing-masing desa atau wilayah dibuat saling berhubungan. Dengan demikian wisatawan yang berkunjung tidak merasa bosan.

Sedangkan menanggapi Festival Gebyar Suran Agung yang dilakukan di Desa Pangebatan, Wakil Bupati menghimbau kepada masyarakat untuk bisa menjaga dan melestarikan budaya Banyumasan yang adiluhung sampai anak cucu.

“Angger udu awake dewek sapa maning sing arep nguri nguri budaya Banyumasan, mula kuwe mayuh bareng bareng nguri- nguri budaya Banyumasan sing adiluhung tetep lestari tekan anak putu,” tegasnya.

Sementara seniman serba bisa Titut Edi Purwanto ketua dan sekaligus pemilik Padepokan Cowong Sewu mengatakan, acara budaya Grebeg Suran Agung merupakan yang pertama kali diselenggarakan dengan melibatkan seluruh masyarakat Desa Pangebatan. Dan tentunya ini menjadi acuan untuk tahun-tahun berikutnya.

Sedangkan merujuk pada tema Slamet Gunungku, Slamet Bumi Banyuku, munurut Titut, ini adalah sebuah penyelamatan terhadap alam semesta. Karena disini kita disadarkan bahwa di dalam tahun baru Islam ini, di dalam kenangan rohani, dan didalam kenangan masa lalunya leluhur itu ada sura yang mengingatkan kita kepada sedekah bumi. Yaitu sedekah yang dilakukan dengan wujud berkarya.

"Gunungan yang kita arak itu adalah hasil karya kita, dan itu untuk mengingatkan kita kepada filosofi leluhur dan bagaomana kita mensyukurinya. bukan berarti dibuang-buang," jelasnya.

Seperti halnya grebeg suran pada umumnya, acara grebeg suran agung kali ini diakhiri dengan perebutan gunungan oleh warga yang menyaksikan. Dan acara dilanjutkan dengan pementasan pemenang lomba karnaval yang nantinya akan diikutkan pada perlombaan tingkat kecamatan se-Kabupaten Banyumas.//heru.