• News
  • BNNK Ciamis Gelar Rakor Program Pemberdayaan Masyarakat Anti Narkoba

BNNK Ciamis Gelar Rakor Program Pemberdayaan Masyarakat Anti Narkoba


Ciamis - Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Ciamis melalui seksi Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat (P2M) menggelar rapat koordinasi Program Pemberdayaan Masyarakat Anti Narkoba di Hartini Meeting Room The Priangan Hotel Ciamis, Jl. Yos Sudarso No 92 Ciamis, Jawa Barat, Selasa (8 Oktober 2019).

Rakor tersebut diikuti oleh 20 orang peserta, meliputi Kepala UPTD KB Kecamatan Panawangan, Karang Taruna Keamatan Panawangan, Kader PKK desa se-Kecamatan Panawangan, PIK-R Kecamatan Panawangan, dan perwakilan kepala desa serta dusun yang ada di lingkup Kecamatan Panawangan.

Kasi P2M BNNK Ciamis sekaligus Ketua Pelaksana, Deny Setiawan, S.Sos., M.M., menjelaskan bahwa kegiatan Rakor ini dilaksanakan dalam rangka menguatkan upaya program penanganan masalah narkoba di Kabupaten Ciamis. Dimana perlu diketahui bersama bahwa masalah narkoba di Indonesia sudah masuk dalam keadaan darurat narkoba, karena tidak hanya masuk di kota-kota besar saja namun sudah masuk sampai ke pelosok desa.

"Dengan rakor ini, mudah-mudahan bisa menghasilkan satu pemahaman yang sama tentang upaya penanggulangan narkoba. Seluruh peserta memiliki peran yang sama untuk aktif dalam melakukan upaya P4GN baik di lingkungan keluarga sendiri sampai di lingkungannya masing-masing," terang Deny.

"Semua komponen masyarakat bersama BNN secara bahu membahu melakukan satu aksi yaitu berantas narkoba," tambah Deny.

Sementara itu, Kepala BNNK Ciamis, Engkos Kosidin, S.Sos., M.Si., mengatakan bahwa masalah narkoba akan berdampak pada timbulkannya multidimensi, sehingga diperlukan penanganan yang serius. Perlu sinergitas dari seluruh komponen masyarakat untuk ikut menanggulanginya, karena tidak bisa hanya ditangani oleh BNN saja atau hanya oleh aparat hukum semata.

"Narkoba itu adanya supply reduction, yaitu adanya pasokan dari para bandar, pembuat, kurir dan pengedar, juga kaitannya dengan demand reduction, yaitu permintaan dari pangsa pasar pengguna. Dalam hal ini yang perlu kita sama-sama cegah yaitu dari sisi demand reduction, supaya supply reduction berkurang masuk ke wilayah kita," jelas Engkos

Engkos mengungkapkan, idealnya apabila pengguna berkurang, pasti para pengedar tidak akan bisa leluasa untuk menawarkan barangnya. Karena para penggunaan sudah berkurang atau tidak lagi menggunakan narkoba.

"Oleh sebab itu mari kita bersama-sama untuk mencegah narkoba, karena dengan kita bersama-sama untuk mencegah narkoba, ini merupakan salah satu cara dan strategis yang ampuh untuk melawan narkoba," imbuhnya.

Fungsi kontrol dari keluarga, kata Engkos, masyarakat itu pun perlu meningkatkan bersama. Dengan meningkatkan daya tangkal terhadap narkoba di masyarakat, juga tingkatkan edukasi tentang bahaya narkoba di masyarakat.

"Masyarakat harus bisa menjadi kepanjangan tangan BNN dalam menanggulangi masalah narkoba. BNN pun harus mampu menjadi stimulus bagi masyarakat untuk mampu menolak narkoba," ujarnya.

Engkos berharap, dengan rakor ini para peserta memahami dan mengetahui apa yang harus dilakukan. Serta memiliki rencana aksi di lingkungannya masing-masing terkait penanggulangan narkoba.

Adapun rekomendasi dari hasil rakor yaitu, peserta akan berperan aktif di desa dalam mewujudkan Desa Bersinar, masukan materi tentang bahaya narkoba dalam setiap kegiatan di desa baik dalam kegiatan posyandu, PKK, Karang Taruna, dan Acara Keagamaan.

Kemudiam, membentuk Satgas, Relawan Anti Narkoba, Kader Anti Narkoba di Desa yang tugasnya menjaga lingkungan keluarga dan masyarakat dari peredaran gelap narkoba serta melaporkan ke BNN atau Polsek setempat apabila terjadi peredaran gelap narkoba, mengajak warga yang menyalahgunakan narkoba untuk direhabilitasi. Serta BNN memberikan fasilitasi lifeskill untuk para satgas, relawan supaya dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan benar.//yuli.