• News
  • Berkah dan Musibah Bagi Nelayan

Berkah dan Musibah Bagi Nelayan


Berkah dan musibah tidak terlepas dari sisi kehidupan manusia. Tinggal bagaimana kita menyikapi dan menerima antara berkah dan musibah tersebut diambil hikmahnya. Hal itu diungkapkan salah satu nelayan Cilacap, Sarmanto (61) warga Jalan Cakalang, RT.04 RW XIII, Kelurahan Cilacap, Kecamatan Cilacap Selatan, Cilacap, Rabu (03 April 2019).

Menurut Sarmanto, hasil tangkapan yang berlimpah merupakan berkah bagi nelayan. Dari hasil yang berlimpah itu, kita bisa memetik hikmahnya dengan mensyukuri dan mengatur rejeki yang diperoleh. Namun, sambung Sarmanto, apabila kita tidak mensyukuri dan mengatur secara baik berkah tersebut, bisa membawa dan menyebabkan musibah bagi keluarga. 

"Apa gunanya rejeki banyak, jika kita tidak bisa mengatur dan mensyukurinya. Dapat rejeki malah buat foya-foya tidak diatur dengan baik. Pas giliran mesin dan peralatan melaut rusak tidak bisa memperbaiki dan membeli lagi. Itu juga jadi musibah karena tidak dapat melaut," ungkapnya.

Sarmanto berpendapat, sekecil apapun rejeki yang didapat harus disyukuri dan dikelola dengan baik. Ia mengaku penghasilan nelayan jika sedang musim ikan atau dapat hasil, tidak kalah dengan gaji pegawai.

"Penghasilan nelayan lumayan bagus. Apalagi sedang dapat hasil yang banyak, istilahnya nrajang atau along, gaji pegawai lewat. Intinya, ya itu disyukuri dan dikelola dengan baik sehingga tidak jadi musibah," selorohnya 

Sebelum terjun menjadi nelayan. 20 tahun yang lalu, Sarmanto mengadu nasib menjadi supir mengantarkan ikan hingga ke Jakarta. Namun kesejahtera keluarganya tidak pernah ada perubahan. Hanya cukup untuk kebutuhan keluarga dan biaya sekolah anak-anaknya.

Seiring dengan waktu, akhirnya ia memutuskan untuk melaut menjadi nelayan. Meskipun ia dibesarkan di keluarga nelayan. Awalnya dirinya enggan menekuni menjadi nelayan lantaran sering mabuk laut saat diajak ayahnya melaut.

"Ya itulah hikmah kehidupan yang saya petik ketika saya jadi supir dan sekarang beralih menjadi nelayan. Sekarang saja kalau melaut masih mabuk laut. Ya setiap berangkat melaut harus bawa antimo. Mau gimana lagi, namanya juga untuk kesejahteraan keluarga," ujarnya.

Berkat keuletan, kerja keras dan prihatin dalam mengelola penghasilan dari melaut, Sarmanto akhirnya bisa memiliki 3 perahu, 2 mesin tempel dan 3 jenis jaring.

Jenis jaring yang dimiliki diantaranya jenis jaring 2 inch, 3 inch, dan 4,5 inch. Jika sedang keluar ikan kembung dan layur dia menggunakan jenis jaring 2 inch. Sedangkan musim ikan bawal ia mencari ikan menggunakan jenis jaring 3 inch yang dikenal dengan jaring tursin mini.

Sementara di musim ikan dawah jaring yang digunakan jaring 4,5 inch. Setiap hari ketika cuaca mendukung dan tidak sedang angin besar serta tidak hujan, ia berangkat jam 3 sore dan pulang jam 9 malam. Jika tidak sedang musim ikan, Ia berangkat bersama dengan anaknya. Namun jika sedang musim ikan, ketiga perahunya   digunakan untuk melaut.

Berdasarkan pengalaman sebagai nelayan selama 20 tahun. Sarmato sangat memahami keberadaan ikan, musim angin dan waktunya ikan keluar.

"Biasanya ikan mudah dicari menjelang petang. Sekitar menjelang waktu Magrib, jaring sudah ditebar. Alhamdulillah kemarin berangkat dapat hasil Rp. 570 ribu," tutur Sarmanto. //W1D.