• News
  • Asuransi Nelayan Mandiri Capai 32.989

Asuransi Nelayan Mandiri Capai 32.989


Makasar - Dalam kurun waktu 3 tahun, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah memberikan jaminan premi asuransi kepada 1.048.177 nelayan. Dari 3.665 klaim, total nilai pertanggungan asuransi nelayan yang telah dirasakan menfaatnya oleh para nelayan/ahli waris mencapai Rp.377 miliar.

Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) Kementerian Kelautan dan Perikanan, M. Zulficar Mochtar dalam kegiatan Temu Koordinasi Teknis Pelaksanaan Bantuan Premi Asuransi Nelayan/BPAN (Wilayah Timur) dan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengumpulan dan Pengolahan Data Operasional Penangkapan di Atas Kapal Penangkap Ikan, Makasar, Rabu (15 Mei 2019).

Lebih lanjut, Zulficar mengungkapkan bahwa dalam rangka menjaga keberlanjutan program perlindungan nelayan ini, KKP telah bersinergi dengan Otoritas Jasa Keuanga dan perusahaan asuransi untuk membuka peluang perpanjangan asuransi secara mandiri.

"Alhamdulillah, dari data yang kami terima hingga saat ini, peserta asuransi nelayan mandiri yang terdata sebanyak 32.989 nelayan yang berasal dari 32 provinsi di Indonesia," tutur Zulficar.

Tak hanya itu, Zulficar menambahkan, terkait perlindungan nelayan, KKP juga menjajaki pelaksanaan asuransi bagi para ABK/buruh, salah satunya melalui sinergi dengan BPJS Ketenagakerjaan.

"Jika ini terealisasi, maka nelayan ABK dan nelayan buruh akan mendapatkan kesamaan fasilitas dalam perlindungan sosial berupa asuransi," tambah Zulficar.

Saat ini, KKP telah menargetkan 150.000 nelayan penerima untuk BPAN 2019. Sementara itu, sudah ada sekitar 685.000 nelayan telah terdata dalam Kartu Pelaku Usaha Kelautan dan Perikanan (KUSUKA) dari sistem "Satudata KKP".

Dalam acara yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pada 13-15 Mei 2019 di Makassar tersebut diikuti oleh 13 Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi dan 158 Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota.

Sementara, Bimtek Pengumpulan dan Pengolahan Data Operasional Penangkapan di Atas Kapal Penangkap Ikan dihadiri oleh dosen dan mahasiswa dari Universitas Hasanuddin, Universitas Sulawesi Barat, Universitas Muslim Indonesia Makassar, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Negeri Gorontalo, Universitas Halu Oleo, Universitas Muhammadiyah Kendari, dan Universitas Pattimura, serta Universitas Khairun. Tak hanya itu, kegiatan ini juga dihadiri observer perikanan dan penyuluh perikanan setempat.//**