Jumat, 16 Mei 2008 - 10:06:01 WIB
Ki Ageng Balak, Simbarjo Simbarjoyo
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Budaya - Dibaca: 11414 kali

"Wayah kene kok golet uwi, kae lho openono manggonku enek ngisor wit serut, andi cilik openono bleduge, panganen go wong sak eyupen blarak, aku putro wayah ratu ping rolas isih keturunan Majapahit". Waktu itu ketika musim paceklik menimpa warga Balakan. Sehingga, untuk mempertahankan hidup mereka harus mencari umbi-umbian sebagai pengganti nasi. 

Di hamparan ladang ilalang seorang yang mencari ubi jalar (uwi) mendengar suara tanpa rupa, pesan yang disampaikan agar merawat petilasan putra wayah ratu ke dua belas masih keturunan Majapahit. Seperti mendapatkan wangsit, orang itu pun mengikuti petunjuknya dengan merawat dan mendirikan gubuk beratap ilalang.
 
Kemudian menjaga keberadaannya secara turun temurun. Demikian Mbah Singkem menceritakan sejarah petilasan Ki Ageng Balak. Mbah Singkem adalah juru kunci petilasan, menggantikan Mbah Wirorejo juru kunci sebelumnya. Yang secara turun temurun menjaga dan merawat tempat peziarahan Ki Ageng Balak.
 
Menurut Mbah Singkem, Ki Ageng Balak adalah putra wayah ratu yang ke dua belas keturunan Majapahit, yang konon bersalah kemudian diusir dari kerajaan. Ki Ageng Balak akhirnya mengembara bersama abdi dalem setianya yang bernama Simbarjo Simbarjoyo, sampai akhirnya singgah di Dusun Balakan dan memutuskan untuk bertapa.
 
"Dulu di petilasan Ki Ageng Balak pernah kedatangan tamu dari Solo yang bernama Raden Jarwo Penilih. Beliau mendapat wangsit agar datang kepetilasan Ki Ageng Balak untuk menemui Mbah Wirorejo juru kunci petilsan waktu itu. Kemudian, beliau pun menjalankan ritual sembahyang dipetilasan tersebut," kata Mbah Singkem.
 
"Kedatangan Raden Jarwo Penilih di petilasan Ki Ageng Balak membawa pengaruh besar pada masyarakat luas, dan pengunjung pun mulai berdatangan untuk berziarah dengan berbagai maksud dan tujuan. Sampai sekarang petilasan ini masih ramai dikunjungi peziarah dari Solo dan sekitarnya," lanjutnya.
 
Petilasan Ki Ageng Balak terletak di Desa Merton, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Saat ini menjadi tempat ziarah yang dikelola oleh Departemen Pariwisata dan Budaya. Ritual yang dilakukan disini adalah berendam (kungkum) pesucen yang tempatnya berada disebelah makam Ki Ageng Balak. Pada hari keramat Jawa terutama malam Jumat Kliwon dan Jumat Legi, tempat ini ramai oleh pengunjung, bahkan tiap bulan Suro pada malam Jumat Kliwon selalu dilangsungkan pagelaran wayang kulit semalam suntuk, karena sudah menjadi tradisi dan budaya daerah tersebut. Namun kesemuanya hanya sareat karena hakikat allah yang menentukan.
 
Tradisi dan budaya daerah harus dipertahankan dan dijaga keberadaannya, merupakan warisan leluhur yang memperkaya budaya bangsa. Pembangunan tempat wisata ziarah Ki Ageng Balakan sebagian adalah sumbangan dari peziarah yang permohonannya terkabulkan. Dinamakan petilasan Ki Ageng Balak karena keberadanya di Dusun Balakan. //ipung