Kamis, 21 April 2011 - 02:21:07 WIB
Ada apa Dengan Wabah Ulat Bulu (UB)
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Terawang - Dibaca: 11575 kali

Fenomena ulat bulu yang merambah di negeri ini sangat meresahkan warga, pakar serangga se-Indonesia pun dilibatkan untuk menanggulangi wabah ini. Berbagai pernyataan di sampaikan ke publik baik pembasmian maupun upaya penanggulangan, yang kesemuanya melalui mekanisme penelitian secara ilmiah.

Serangan ulat bulu juga merambah Jakarta dan sampai ke telinga Ketua DPR Marzuki Alie. Menurut dia, peristiwa tersebut merupakan peringatan dari Tuhan. Bagaimanapun kejadian itu adalah peringatan dari Tuhan supaya kita introspeksi dan melakukan evaluasi diri apa yang harusnya kita perbaiki. Pernyataan itu disampaikan kepada wartawan di sela-sela jumpa pers di Gedung DPR, Rabu (13/4/2011).

Menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Pertanian Kementerian Pertanian Haryono yang dikutip oleh sejumlah media, fenomena meningkatnya populasi ulat bulu, faktor hayatinya disebabkan berkurangnya pemangsa alaminya, seperti burung, kelelawar, dan semut rangrang, dan musuh alaminya, misalnya parasitoid.

Perubahan iklim global menjadi faktor utama sehingga terjadi perubahan suhu dan kelembaban udara. Menurutnya hal ini juga diperkuat oleh kajian peneliti dan akademisi bidang entomologi (serangga) dari lembaga terkait, seperti LIPI dan IPB. Para pakar serangga se-Indonesia yang dikumpulkan Balitbang Pertanian juga memberikan kesimpulan yang sama.

Menyikapi wabah ulat bulu tentunya tidak dengan pendekatan ilmiah saja, karena kita mahluk Tuhan akan lebih bijak apabila di kaji dengan pendekatan secara filosofi. Mari kita lihat dan pelajari sifat dari ulat (Larva) dalam kehidupan di bumi. Ulat (larva) itu tidak akan berhenti makan sebelum menjadi kepompong. Dapat dimaksudkan bahwa sifat yang dimiliki ulat adalah Aji mumpung, itulah kenyataan dari Tuhan untuk ulat (larva).

Kalau wabah ulat bulu adalah peringatan dari Tuhan, bisa jadi itu gambaran untuk para pemimpin rakyat yang menggunakan Aji mumpungnya. Setelah itu kira-kira Tuhan punya rencana apalagi untuk bangsa Indonesia? Kalau sekarang wabah ulat (larva) dan kita tidak segera sadar diri atas peringatan itu, mungkin berikutnya adalah kepompong yaitu penghentian keserakahan pemimpin rakyat oleh Tuhan secara alami pula.

Yang artinya keserakahan itu akan membungkus dirinya sendiri hingga tidak dapat berbuat apapun, ini yang disebut dengan "Ngunduh wohing pakarti" atau memetik apa yang telah dilakukan.

Pendapat Ki Jongko, berbeda dengan pendapat Marzuki ali maupun Haryono, dari sudut pandang Ki Jongko fenomena ulat bulu adalah pertanda dari Tuhan yang maha kuasa, bahwa Indonesia sudah memasuki jaman blokosuko yang artinya segala penyimpangan terhadap amanah rakyat akan terungkap. Jaman blokosuko iku mripat ombo tutuk ombo (mata lebar, mulut juga lebar).

Pemimpin rakyat yang tidak menjalankan amanah dan membodohi rakyat akan terbongkar kedoknya oleh keserakahannya sendiri. Satu sama lain saling membongkar aibnya, bertengkar berebut "godong ijo" yang dipercaya dapat menyelamatkan jiwanya. Padahal "Godong ijo" bagi mereka yang ingkar bisa berarti umpan atau jebakan, tapi bagi mereka yang menjalankan amanah rakyat dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa Indonesia itu bisa menjadi sumber kehidupan.

Godong ijo maksudnya apa? "Ya apa saja yang membuat mata kita menjadi hijau," kata Ki Jongko. "Saat ini pengadilan alam sedang bekerja, kita tinggal menunggu dan menyaksikan di mediamasa," imbuhnya. Ibu pertiwi sudah muak dengan prilaku pemimpin yang menyimpang dari tatanan dan jatidiri bangsa Indonesia. "Mereka tidak peduli dengan tangisan Ibu Pertiwi, kita lihat saja kalau Ibu sudah tiwikromo,"pungkasnya.//sp