Sabtu, 07 Oktober 2017 - 16:44:28 WIB
Semarak Gelar Budaya Sedekah Laut 2017
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Berita Kota - Dibaca: 495 kali

Cilacap - Tradisi budaya tahunan yang biasa digelar setiap bulan Suro (Muharrom) oleh nelayan dan Pemerintah Kabupaten Cilacap yakni Gelar Budaya Sedekah Laut selalu berhasil menyedot perhatian masyarakat Cilacap dan luar daerah. Ribuan pengunjung membanjiri jalannya prosesi ritual sedekah laut di Cilacap Jumat Wage (06 Oktober 2016).

Gelar budaya sedekah laut dengan melaksanakan ritual pelarungan jolen (tempat sesaji) merupakan wujud rasa syukur nelayan kepada Tuhan atas limpahan rahmat berupa hasil tangkapan yang berlimpah.

Tradisi sedekah laut sendiri bermula dari pemerintahan Bupati Cilacap ke III yang memerintahkan kepada sesepuh nelayan Pandanarang dan nelayan lainnya untuk melarung sesaji kelaut pada hari Jumat Kliwon 1875. Namun tradisi ini sempat terhenti dan dihidupkan kembali semasa pemerintahan Bupati Poedjono Pranjoto tahun 1982 hingga sekarang sebagai atraksi wisata.

Tahun ini, jolen yang diarak-arak dari Pendopo Wijayakusuma Sakti Cilacap menuju pantai Teluk Penyu Cilacap berjumlah 11 jolen. yang terdiri dari 1 jolen tunggul dari Pemkab Cilacap, 1 jolen dari HNSI, dan 8 jolen dari kelompok nelayan serta serta satu jolen dari kelompok warga di luar rukun nelayan.

Saat ditemui di sela kegiatan sedekah laut, Ketua HNSI Cilacap, Sarjono menuturkan, rangkaian ritual sedekah laut diawali dengan ziarah kubur ke makam para leluhur atau pepunden yang dianggap oleh nelayan di pesisir Pantai Selatan mulai dari Pandan Kuning hingga Srandil.

“Ziarah ke makam dilaksanakan hari minggu lalu. Sedangkan hari kamisnya, nelayan nyekar dan pengambilan air suci ke Pantai Karang Bandung (Pulau Majethi) sebelah selatan Pulau Nusakambangan oleh sesepuh nelayan Cilacap,” ujar Sarjono, Jumat (06 Oktober 2017).

Prosesi nyekar tersebut, lanjut Sarjono, untuk memohon kepada Tuhan Yang Maha Esa agar tangkapan ikan melimpah dan para nelayan diberi keselamatan. “Ritual yang sakral ya hari ini, 11 jolen dibawa dalam arak-arakan menuju Pantai Teluk Penyu dan selanjutnya dilarung di Pulau Majeti sebelah selatan Pulau Nusakambangan,” ujarnya.

Dijelaskan Sarjono, secara resmi jolen yang diarak dari pendopo 11 jolen. Namun yang dilarung lebih dari 11 jolen, ada sekitar 41 jolen yang dilarung. Di masing-masing kelompok biasanya membuat jolen lebih dari satu, ada yang membuat 4 hingga 7 jolen. “Hal tersebut sebagai wujud syukur kepada Tuhan YME," tuturnya.

Lebih lanjut, Sarjono menuturkan kegiatan tersebut dapat terselenggara berkat kerja sama kelompok-kelompok nelayan dan Pemerintah Kabupaten Cilacap serta institusi lainnya. Selain sebagai wujud syukur nelayan, menurutnya kegiatan tersebut juga dapat mendukung upaya Pemkab Cilacap dalam meningkatkan kunjungan wisatawan khususnya ke Pantai Teluk Penyu.

Hal senada juga diungkapkan, Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Cilacap Murniyah, sedekah laut merupakan tradisi nelayan yang digelar setiap tahun. “Sedekah laut merupakan salah satu kegiatan besar di Kabupaten Cilacap, dan kami ingin melestarikan tradisi ini. Disamping itu, kami juga ingin mendongkrak kunjungan wisatawan dari berbagai daerah," katanya.

Usai prosesi pelarungan jolen, berbagai kegiatan tradisional digelar di masing-masing kelompok nelayan diantaranya ialah pagelaran kuda lumping (ebeg), ruwatan dan kesenian wayang kulit semalam suntuk. // wd.