Senin, 28 Agustus 2017 - 14:57:03 WIB
Pagelaran Ketoprak Dalam Rangka Memperingati HUT RI ke - 72
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Berita Kota - Dibaca: 624 kali

Banyumas - Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia ke - 72 menjadi momen penting bagi perkumpulan remaja RW IV Dusun Kemutug Lor, Kecamatan Baturraden, Kabupaten Banyumas. Mereka mempersiapkan panggung acara untuk pemutaran film Kie Budayaku dan pementasan ketoprak Babad Baturraden, Sabtu (26 Agustus 2017) lalu.

Bagi para pemuda setempat, acara pemutaran film hasil karya sendiri memang sudah menjadi agenda tahunan sejak mereka mengenal teknik dasar pembuatan film pada 2007 lalu, dan film Kie Budayaku menjadi karya film mereka yang kelima.

Andreas Dedy Prabowo yang akrab disapa Bowo selaku sutradara film dan ketoprak mengatakan, pada tahun-tahun sebelumnya puncak acara peringatan HUT RI di Desa Kemutug Lor hanya dimeriahkan dengan acara pemutaran film saja, namun setelah berjalan sekian tahun munculah ide untuk membuat acara yang berbeda. Dan atas kesepakatan bersama dipilihlah kesenian ketoprak sebagai puncak acara peringatan HUT RI tahun ini.

"Kali ini kami mencoba untuk tampil live di panggung, bukan cuma berakting pada saat pembuatan film saja," jelasnya.

Dipilihnya kesenian ketoprak oleh para generasi muda Desa Kemutug Lor ini tentunya bukan tanpa alasan. Selain untuk memunculkan kembali kesenian yang sudah lama surut, pementasan ketoprak kali ini juga untuk menjawab tantangan dari beberapa tokoh setempat.

Tentu saja tidak mudah bagi Bowo dan para pemuda lainnya untuk bisa mementaskan kesenian ketoprak ini. Tidak adanya pengalaman serta mepetnya waktu persiapan pagelaran menjadi sebuah tantangan berat. Belum lagi dengan masalah bahasa Kramo Inggil yang lazim digunakan pada kesenian ketoprak yang sama sekali tidak dikuasainya.

Dengan naskah yang sudah dugubah ke bahasa Kromo Inggil oleh salah satu warga setempat yang kebetulan adalah mantan pemain ketoprak serta dengan latihan yang sungguh-sungguh, para pemain pun akhirnya bisa menghafal naskah di perannya masing-masing. Meskipun baru bisa mengucapkan tanpa mengerti artinya.

"jadi bahasa ini benar-benar asing buat kami dan rata-rata para pemain hanya bisa mengucapkan tanpa mengetahui artinya," katanya sebelum acara pementasan dimulai.

Dan menurutnya, apapun hasilnya, pementasan ketoprak ini merupakan sebuah pengalaman yang sangat luar biasa bagi kami mengingat perjuangan yang harus kita curahkan. Dan paling tidak ini bisa menjadi bukti keseriusan kami dalam menjawab tantangan bahwa kami bisa tampil bermain ketoprak sesuai dengan pakem.

Hal senada juga disampaikan oleh Doris salah satu pemain yang berperan sebagai Adipati Kutaliman. Mepetnya waktu latihnan yang hanya berselang tiga bulan sebelum pementasan menjadi tantangan terberat yang harus dihadapi oleh para pemain disela aktifitasnya sehari-hari. Namun demi suksesinya pertunjukan tantangan itupun bisa dilalui dan bahkan hal tersebut menjadi dorongan dirinya beserta pemuda lainnya untuk lebih mengembangkan kesenian ketoprak tersebut.

Doris berharap pementasan ketoprak yang baru pertama kali dipentaskan oleh para generasi muda ini menjadi awal pementasan yang bisa dinikmati tidak hanya oleh warga Desa Kemutug Lor saja tapi juga oleh desa-desa lainnya dan bahkan oleh masyarakat se-Kabupaten Banyumas.

Sementara Totman Multitalenan salah satu pelaku seni asal Sokaraja yang turut meramaikan acara mengatakan, antusias para pemuda yang terlibat dalam pementasan kesenian ketoprak ini sangat tinggi. Keseriusan itu bisa dilihat dari kerja keras mereka dalam berlatih, meskipun banyak kendala yang harus mereka hadapi baik dari sisi mental maupun kondisi.

Pagelaran Seni ketoprak dalam rangka perigatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ini diawali dengan aksi seni hadroh dan tari-tarian. Aksi ini pun mengundang banyak penonton baik dari desa setempat maupun dari desa tetangga lainnya. mereka memadati bekas lapangan tenis tempat dimana pagelaran tersebut berlangsung.//ipung