Senin, 21 Agustus 2017 - 22:26:30 WIB
Nelayan Tradisional Udang Lobster
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 742 kali

Cilacap - Dinginnya hembusan angin dan gelombang di pagi hari,  tidak menyurutkan para nelayan tradisional udang makara (lobster) untuk menarik jaring dan pintur (perangkap udang lobster) yang sudah ditebar sejak kemarin sore di area cakar ayam, perairan Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC), di sekitar tempat pembuatan kapal PPSC, Senin (21 Agustus 2017).

Hanya dengan menggunakan ban dalam truk sebagai pengganti perahu, mereka menebar dan menarik jaring dan pintur guna mendapatkan udang lobster setiap harinya. Hal itu, mereka lakukan sebagai bagian tuntutan dari profesi yang selama ini ditekuni demi menjaga dapur tetap ngebul.

Saat ditemui Pamor, di area cakar ayam, nelayan tradisional udang lobster, Suparman (37) mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai nelayan tradisional. Dari usia 9 tahun dirinya mulai belajar terjun menjadi nelayan. Seiring dengan perjalanan waktu, sekitar 11 tahun yang lalu, Suparman memutuskan beralih menekuni mencari udang lobster.

Suparman mengaku, awal terjun mencari udang makara (lobster), sempat ragu-ragu dan takut karena waktu itu, ia harus berenang tanpa menggunakan ban dalam truck saat menebar dan menarik jaringnya. Tapi sekarang lebih nyaman karena menggunakan ban dalam truck sebagai pengganti pelampung dan perahu.

"Awalnya ya, takut. Tapi jika tidak dicoba kapan mau bisa. Apalagi kebutuhan hidup terus meningkat, ya nekatlah, yang penting dapat penghasilan dan tidak ikut orang terus. Selain itu, hasilnya juga lumayan tidak tergantung dengan musim, setiap hari paling sedikit bisa bawa pulang uang Rp 200 ribu. Jika udangnya lagi rame yang didapat bisa lebih banyak," ujar warga Jalan Tengiri RT 04 RW XI, Kelurahan Cilacap, Kecamatan Cilacap Selatan, Cilacap.

Dijelaskan Suparman, jaring dan pintur yang dipakai untuk mencari udang makara ialah jenis jaring 2 inch hingga 3 ½ inch. Jaring dan pintur di pasang sore hari, dengan diberi tanda agar tidak tertukar saat ditarik atau diambil pagi harinya. Menurut Suparman, jika airnya jernih dan gelombangnya tidak terlalu besar, udang yang didapat lebih banyak. Dibandingkan saat airnya keruh, tidak ada gelombang atau gelombangnya cukup tinggi.

"Jika gelombangnya tinggi, justru banyak sampah yang tersangkut bukan udang makara, ditambah sejenis kepiting kecil (yuyu) yang cepat merusak jaring," ujarnya sembari dengan cekatan melepaskan udang makara dari jaringnya agar bertahan hidup lebih lama karena berpengaruh dengan harga jualnya.

Selain di area cakar ayam PPSC, para nelayan juga mencari di area perairan Nusakambangan dan di area cakar ayam PLTU. Meskipun banyak pilihan lokasi untuk mendapatkan udang tersebut, Suparman dan rekan-rekannya lebih memilih mencari udang makara di area cakar ayam PPSC karena lebih mudah dijangkau dan tidak memerlukan perahu sehingga dapat menekan biaya operasional.

Bagi Suparman dan para nelayan tradisional udang makara, keberadaan cakar ayam membawa keberkahan tersendiri bagi perekonomian mereka. Meskipun mereka sadar bahwa profesi yang ditekuni sangat beresiko dan berbahaya. Hal itu, mereka lakukan untuk kelangsungan hidup mencari nafkah sehari-hari. //wd.