Selasa, 15 Agustus 2017 - 23:46:43 WIB
Laguna Segara Anakan Cilacap, Nadi Kehidupan Nelayan Tradisional
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Berita Kota - Dibaca: 873 kali

Cilacap - Bagi nelayan tradisional jaring apong, keberadaan perairan laguna segara anakan Cilacap merupakan nadi kehidupan mereka. Di perairan segara anakan itu, mereka memasang jaring apong dengan cara ditanam di tempat yang sudah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda No 16 Tahun 2001 tentang pengelolaan perikanan di kawasan segara anakan untuk mendapatkan hasil tangkapan.

Sudah puluhan tahun, perairaan laguna segara anakan Cilacap, menjadi sumber kehidupan nelayan tradisional apong yang berada di kawasan laguna tersebut. Hasil tangkapan yang dicari dan didapat ialah jenis ikan teri, udang rebon badak dan udang rebon ampas.

Saat ditemui Pamor, Selasa (15 Agustus 2017), di dermaga kecil Prenca, Donan, Cilacap Tengah, Sukir (55) menerangkan, hasil nelayan apong tergantung dengan musim hasil tangkapan yang keluar. Jika sedang musim ikan teri, udang rebon badak dan rebon ampas, hasil yang didapat sangat melimpah.

Dikatakan Sukir, jika sedang musim panen, hasil yang didapat jumlahnya kuintalan. Tapi kalau sepi yang diperoleh hasilnya sedikit. Masalahnya, jaring apong cara mencari hasil tangkapan modelnya ditanam. Berbeda dengan jenis jaring lainya, ditebar dan bisa berpindah-pindah lokasi.

"Tapi kalau apong ditanam seperti pasang perangkap di perairan yang mengalir. Tidak pindah-pindah, ada hasil atau tidak, ya disitu saja. Setelah ditunggu sekitar 5 hingga 6 jam, jaring dinaikan. Berapapun hasilnya langsung pulang," ujar warga Jalan Sendangsari, RT 01 RW XII, Donan, Cilacap Tengah, Cilacap.

Menurut Sukir, hasil yang didapat nelayan apong setiap harinya asal arus segara tidak deras dan tenang, hasilnya bisa dikatakan lumintir. Asal mau melaut pasti dapat hasil. Paling sedikit hasil yang diperoleh sekitar Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu. "Bisa untuk kebutuhan hidup keluarga," ujar nelayan yang sudah 30 tahun sebagai nelayan tradisional.

Saat disinggung dengan maraknya keberadaan jaring apong bisa mengancam biota laut yang ada di kawasan itu, karena ikan dan udang yang masih kecil turut tersangkut jaring sehingga dikhawatirkan populasi ikan dan udang akan musnah. Sukir menerangkan, jaring apong hanya mencari ikan teri, udang badak dan udang rebon ampas. "Ikan dan udang itu, jenis tangkapan yang tidak bisa besar," tuturnya.

Hal serupa juga diutarakan, Jasiman (52), warga Jalan Kerawangsari, RT 4 RW XII, Donan, Cilacap Tengah, Cilacap. Pria kelahiran tahun 1965 silam ini, sudah banyak mengenyam asam garam kehidupan sebagai nelayan tradisional di perairan laguna segara anakan.

"Ya, jika ditunding seperti itu, Katanya gara-gara jaring apong jadi paila. Ikan dan udang yang masih kecil tidak bisa besar karena tersangkut oleh jaring apong. Kita mau omong apa, namanya juga nelayan kecil. Nyatanya hasil yang didapat juga sesuai musim yang keluar. Itupun jika hasil dilautan sana sedang melimpah seperti ikan teri, udang badak dan udang rebon ampas," ujarnya.

Diterangkan Jasiman, jaring apong, arad dan payang jenisnya sama. Bedanya saat melaut, jaring apong dipasang di satu lokasi. Lain dengan nelayan arad dan payang yang di lautan sana, mereka bisa berpindah-pindah untuk mencari hasi tangkapan. Selain itu, nelayan disini, tidak setiap hari melaut, sangat tergantung dengan arus di laguna.

"Jika arus airnya sedang deras dan tenang, ya tidak melaut. Kita melaut saat airnya mengalir secara stabil. Kalau airnya sedang deras kita melaut, rugi sendiri. Selain jaringnya cepat rusak dan berat saat menaikan ke perahu karena saat melaut berangkatnya hanya sendirian. Sementara jika airnya tenang ikan teri, udang rebon badak dan rebon ampas tidak bisa masuk ke jaring," ujarnya.

Nelayan disini, lanjut Jasiman, memilih menggunakan jaring apong karena jenis jaring ini awet, bisa bertahan puluhan tahun dan perawatanya lebih mudah. Selain itu perahu yang digunakan tanpa katir. Mesin yang dipakai mesin gantaran yang berkekuatan 5 kekuatan kuda (PK ) saat melaut, sehingga lebih irit untuk biaya operasionalnya.

"Mayoritas nelayan disini, mencari hasil tangkapan hanya di laguna segara anakan. Tidak pernah melaut ke lautan sana. Bisa dikatakan laguna segara anakan sumber rejeki bagi nelayan tradisional apong disini,” ujarnya. //wd