Jumat, 28 Juli 2017 - 09:17:21 WIB
Desa Widarapayung Wetan dan Sidaurip Dijadikan Pilot Projeck Desmigratif
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Berita Kota - Dibaca: 716 kali

Cilacap - Desa Widarapayung Wetan dan Sidaurip, Kecamatan Binangun, Cilacap, Jawa Tengah dijadikan Pilot Project (Proyek Percontohan) Desa Migran Produkti (Desmigratif) oleh Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) RI.

Desmigratif merupakan terobosan baru dari Kemnaker sebagai bentuk kehadiran negara dalam meningkatkan pelayanan dan perlindungan terhadap tenaga kerja Indonesia (TKI) dan keluarganya yang bersifat terkoordinasi dan terintegrasi antar kementerian atau lembaga dan pemangku kepentingan lainnya diawali dari kampung halaman TKI.

Program Desmigratif ialah program yang dirancang di desa asal Tenaga Kerja Indonesia (TKI) untuk meningkatkan pelayanan dan perlindungan bagi Calon TKI yang akan bekerja ke luar negeri, meningkatkan kemandirian ekonomi dan kesejahteraan bagi keluarga TKI dan TKI Purna serta mendorong peran aktif Pemerintah Desa pada wilayah asal Tenaga Kerja Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan. Dengan begitu akan menekan dan mengurangi jumlah tenaga kerja non prosedural.

Program Desmigratif yang dirancang Kemnaker RI memilki empat pilar utama. Pilar yang pertama, pusat layanan migrasi dimana orang atau warga desa yang hendak berangkat ke luar negeri mendapatkan pelayanan di balai desa melalui peran dari pemerintah desa. Informasi yang didapatkan antara lain informasi pasar kerja, bimbingan kerja, informasi mengenai bekerja ke luar negeri dan lain-lain termasuk pengurusan dokumen awal.

Pilar kedua, kegiatan yang terkait dengan usaha produktif. Kegiatan yang dimaksudkan untuk membantu pasangan dari TKI yang bekerja di luar negeri agar mereka ini memiliki keterampilan dan kemauan untuk membangun usaha-usaha produktif. Kegiatan ini mencakup pelatihan untuk usaha produktif, pendampingan untuk usaha produktif, bantuan sarana produktif hingga pemasarannya.

Sementara pilar Ketiga, community parenting yaitu kegiatan untuk menangani anak-anak TKI atau anak-anak buruh migran yang diasuh bersama bersama-sama oleh masyarakat dalam suatu pusat belajar-mengajar. Dalam konteks ini orang tua dan pasangan yang tinggal di rumah diberikan pelatihan tentang bagaimana membesarkan atau merawat anak secara baik agar mereka bisa terus bersekolah mengembangkan kreatifitasnya sesuai dengan masa kanak-kanak mereka.

Sedangkan Pilar keempat adalah koperasi usaha untuk penguatan usaha produktif untuk jangka panjang. Koperasi usaha produktif ini tentunya juga bisa menjadi inisiatif bersama dari masyarakat yang akan didukung oleh pemerintah.

Menurut Kepala Disnakerin Cilacap, Kosasih, saat ini, program Desmigratif sudah dibentuk di 2 desa di Cilacap. Desa yang terpilih ialah Desa Widarapayung Wetan dan Sidaurip. Dua desa tersebut sudah diproyeksikan oleh Kemnaker untuk menjadi Pilot Project (Proyek Percontohan) Desmigratif, karena desa tersebut merupakan desa kantongnya TKI di Cilacap. "Sasaran program Desmigratif ini, ialah calon TKI dan TKI yang masih di luar negeri maupun yang sudah purna beserta keluarganya," ujarnya saat ditemui di kantornya, Kamis (27 Juli 2017).

Manfaat program Desmigratif, lanjut Kosasih, pemerintah sedang menyiapkan layanan informasi bagi TKI dan keluarganya. Jadi disana akan dibuat suatu pelayanan masyaraka, berupa informasi yang bisa diakses oleh para TKI maupun keluarganya. "Jadi misalkan ada anggota keluarga yang sedang jadi TKI hilang, posisi dimana. Melalui sarana informasi yang ada disana, nanti akan dibangun, satu ruangan khusus pelayanan umum tentang TKI di 2 desa itu. Fasilitas itu diselenggarakan dan disediakan oleh bank persepsi Kemnaker, dalam hal ini Bank BNI 46. Tapi hingga saat ini sarana dan prasarana belum mulai dipasang," tuturnya.

Disamping itu, program Desmigratif  yang lain diantaranya fisik dan non fisik. Untuk fisik ada kegiatan padat karya seperti pembuatan jalan dan saluran. "Hari ini, teman-teman sedang melakukan survei ke lapangan untuk kegiatan fisik yang memungkinkan itu apa saja. Sedang dilihat di lapangan. Namun, untuk volume fisik program Desmigratif ini, berbeda dengan kegiatan padat karya pada umumnya. Nilainya lebih kecil sekitar Rp 50 juta hingga Rp 70 juta," jelas Kosasih.

Sementara untuk program non fisik berupa pembinaan dan pelatihan kewirausahaan. Program itu diperuntukan untuk para eks TKI dan keluarganya. Dari seluruh Direktorat Jenderal (Ditjen) yang ada di Kementerian menurunkan program. "Namun hingga saat ini, baru satu kegiatan yang sudah dilaksanakan yaitu berupa pelatihan kewiausahaan dari Ditjen Penempatan Kemnaker. Sementara untuk program dari Ditjen Kementerian yang lainnya belum," tutur Kosasih.

Terkait dengan anggaran program Desmigratif dari Kementerian untuk Cilacap, hingga saat ini belum jelas nominal nilainya. Menurut Kosasih, masih ada kegiatan yang dibintang. Dirasionalisasi, sehingga ada kegiataan yang belum bisa diluncurkan ke bawah. "Itu semua kewenangan dari Kementerian. Tentang program itu, kita sudah melaksanakan sosialisasi dan tim Desmigratif sudah dibentuk di 2 desa tersebut. Tim itu, membantu memfasilitasi dalam penyelenggaraan kegiatan-kegiatan program tersebut disana," ungkapnya.

Disamping program Desmigratif dari Kemnaker, ada 2 desa yang lain yang diproyeksikan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yakni Desa Widarapayung Kulon dan Jepara Wetan, Kecamatan Binangun, Cilacap. "Belum lama ini, dua desa itu dilakukan pendataan, sekaligus sosialisasi oleh Dinas Provinsi selama 2 hari. Tinggal nanti untuk tindakan, mulai kapan dilaksanakan, kita belum tahu," tuturnya.

Lebih lanjut, Kosasih menerangkan, kalau dari pusat sudah ada satu kegiataan yang sudah berjalan dan untuk kegiatan fisik supaya segera dilaksanakan. Untuk itu, disurvei hari ini, seperti pembuatan jalan setapak dan pembuatan saluran. "Pembuatan saluran untuk apa dan seperti apa. Itu yang paham yang melaksanakan survei di lapangan," jelas Kosasih.

Dengan adanya program Desmigratif diharapkan komunikasi dan informasi dapat dimanfaatkan sehingga memudahkan informasi TKI yang sedang bekerja di luar negeri dengan pihak keluarga. Jika ada masalah bisa diakse melalui sarana yang disediakan di Desmigratif.

Disamping itu, dalam rangka meningkatkan ekonomi TKI dan keluarganya diadakan kegiatan pelatihan-pelatihan kewirausahaan. Untuk itu dibutuhkan sinergitas antar kementerian atau lembaga dan pemangku kepentingan lainnya. "Bareng-bareng dalam mewujudkan komitmen program Desmigratif tersebut," ujarnya. //wd