Selasa, 25 Juli 2017 - 23:13:19 WIB
Roda Perekonomian Nelayan Tradisional Jaring Arad Cilacap
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 733 kali

Cilacap - Roda perekonomian nelayan tradisional jaring arad Cilacap, tidak terlepas dari musim angin laut. Bagi mereka, musim angin timur merupakan musim yang selalu dinantikan setiap tahunnya. Di musim ini, biasanya hasil tangkapan yang didapat oleh mereka lebih melimpah dibandingkan dengan musim angin lainnya seperti musim  angin daya dan angin barat.

Setiap memasuki musim angin timur, di bulan April hingga Agustus, nelayan tradisional jaring arad berangkat melaut untuk mencari hasil tangkapan di daerah perairan Srandil, Widarapayung, Solok Pipa, Cimiring, Cilacap, Jawa Tengah.

Saat dijumpai Pamor, Senin (24 Juli 2017), di dermaga kecil di area TPI Tegalkamulyan Cilacap, Supranto (45) mengatakan, hasil nelayan arad tergantung dengan musim angin timur. Dimusim ini, hasil yang didapat ketika melaut diantaranya udang rebon ampas, rebon badak, udang krosok, udang dogol dan ikan lembutan.

"Jika memasuki musim angin timur, hasil yang didapat biasanya melimpah. Terutama jenis udang rebon ampas," ujar nelayan warga Tegalkamulyan RT 06 RW VII yang sudah belajar melaut sejak usia 10 tahun.

Musim angin timur memang musim banyak hasil. Namun ia juga menjelaskan ketika angin bertiup kencang dan gelombang cukup tinggi, nelayan segan untuk melaut. Supranto mengaku merasa khawatir saat berada di laut ketika angin bertiup kencang. "Jika bendera yang dipasang di perahu bergerak kencang, ya langsung pulang meskipun hasilnya belum banyak," tuturnya.

Nelayan arad setiap melaut berangkat pukul 06.00 WIB hingga pukul 13.00 WIB. Namun jika hasil sedang melimpah, pulangnya lebih cepat. Hal itu, untuk menjaga agar harga jual udang rebon tetap stabil. "Kalau terlalu siang biasanya harganya turun. Dari harga Rp 5 ribu perkilo bisa turun menjadi Rp 3 ribu perkilonya. Makanya jika sudah dapat hasil, ya cepat-cepat pulang supaya harganya tetap tinggi," ujarnya sembari tersenyum.

Hal senada juga diungkapkan, nelayan arad warga RT 1 RW XIV, Kemiren, Tegalkamulyan, Cilacap, Sutarman. Menurutnya, hasil yang didapat nelayan arad setiap harinya bisa dikatakan lumintir. "Asal mau melaut pasti dapat hasil. Paling sedikit hasil yang diterima sekitar Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu. Apalagi jika dapat hasil banyak (nrajang), yang didapat bisa sekitar Rp 150 ribu hingga Rp 300 ribu setiap berangkat melaut," ujar Sutarman yang sudah 27 tahun menjadi nelayan jaring arad.

Dikatakan Sutarman, saat melaut, satu perahu jaring arad terdiri dari 4 orang. Sistem pembagian hasil antara ABK atau bidak dengan juragan yang memiliki perahu beserta peralatannya, setelah dipotong biaya operasional kemudian di bagi 6 bagian.

"Juragan dapat 2 bagian yang 4 bagian dibagi untuk tekong dan 3 bidaknya. Sedangkan untuk tekong ada tambahan sekitar 10 persen dari hasil yang didapat. Tapi jika hasilnya hanya sekitar Rp 300 ribu, ya  dibagi rata. Tekong tidak dapat tambahan. Kalau dapat segitu, ya biasanya juragan tidak dapat bagian hanya menerima potongan untuk biaya operasional saja. Kebijakan itu juga tergantung dengan juragan. Namanya juragan, kan ada bijak dan ada yang pelit," ujarnya.

Di musim angin timur ini, tidak hanya nelayan arad saja yang merasakan hasil yang melimpah. Melimpahnya tangkapan hasil laut itupun juga berdampak pada penghasilan tukang tagog atau tukang pikul yang ada di TPI Tegalkamulyan. Salah satunya Untung alias Kentung (65), menjadi tukang pikul sudah dilakoni sejak 2015. Setiap hari ia membantu nelayan arad mengangkat hasil tangkapan ke TPI. "Lumayan mas, hasil yang didapat bisa untuk kebutuhan keluarga. Jika nelayan dapat banyak, ya rejeki saya juga ikut banyak," ujarnya. //wd