Rabu, 19 Juli 2017 - 07:03:31 WIB
Penertiban Jaring Apong Dibutuhkan Peran Serta Semua Pihak
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Berita Kota - Dibaca: 732 kali

Cilacap - Penertiban atau penghapusan jaring apong yang berada di alur laguna segara anakan di Cilacap tidak semudah membalikan telapak. Penertiban tersebut dibutuhkan peran serta semua pihak baik dari pemerintah, perusahaan pelayaran, dinas terkait dan industri yang ada disekitar laguna segara anakan serta kesadaran dari nelayan apong dalam menjaga kelestarian dan kelangsungan ekosistem habitat yang ada di sepanjang alur laguna tersebut.

Menurut Ketua DPC HNSI Cilacap, Sarjono, keberadaan atau penggunaan jaring apong memang sangat pelik. Disatu sisi, nelayan apong dalam menjalankan roda perekomian sehari-hari sangat tergantung dengan hasil yang diperoleh dengan menggunakan peralatan apongnya.

"Sementara disisi lain, tidak hanya merusak ekosistem habitat laut. Keberadaan jaring apong juga mengganggu jalur pelayaran kapal yang akan masuk ke pelabuhan maupun perusahan-perusahaan yang menggunakan jalur pelayaran disepanjang alur segara anakan tersebut," ujarnya saat ditemui di kantor DPC HNSI Cilacap, Senin (10 Juli 2017).

Namun jika hanya dilarang dan tidak diberikan jalan keluar yang bijak, hal itu justru semakin menimbulkan permasalahan. Saat ini, nelayan laguna segara anakan sangat mengandalkan jaring apong untuk menghidupi kebutuhan keluarganya. 

"Harus diberikan solusi yang bijak. Hal itu, tentunya perlu ada koordinasi dan kajian yang melibatkan peran serta dari semua pihak. Semua duduk bersama memecahkan permasalah tersebut sehingga tidak ada yang merasa dirugikan dan kelestarian serta kelangsungan ekosistem habitat laut di Cilacap senantiasa terjaga," tuturnya.

Dijelaskan Sarjono, pihaknya sudah berkomunikasi dengan para nelayan apong. Mereka mau menggunakan jaring yang ramah lingkungan namun harus ada pengganti peralatannya. Untuk mengganti peralatan tersebut tentunya tidak sedikit biaya yang harus dianggarkan. Perlu campur tangan dari pemerintah dan perusahaan-perusahaan melalui program CRS nya.

"Jika hanya dilarang. Jelas menimbulkan permasalahan. Mereka pastinya menuntut agar jaring payang dan arad dilarang. Harus jelas dasar hukumnya dan penertibannya. Dalam hal ini, DPC HNSI Cilacap siap untuk duduk bersama membahas permasalah yang berhubungan dengan nelayan," tuturnya.

Menurut Sarjono, jaring arad dan payang berbeda dengan jaring apong. Jaring arad di Cilacap hanya digunakan untuk udang rebon ampas dan ikan lembutan di lautan. Jenis ikan lembutan yang tertangkap memang jenis ikan kecil.

"Begitu juga dengan jaring payang. Arad dan payang beroperasi di lautan tidak di alur sungai, hal ini berbeda dengan apong yang beroperasi di alur sungai sehingga kemungkinan ikan dan udang yang masih kecil tidak bisa berkembang karena sebelum besar sudah tertangkap oleh apong. Tapi mau gimana, semua itu berhubungan dengan perekonomian nelayan apong . Harus dicarikan solusi agar nelayan apong tidak merasa dirugikan dan tidak menimbulkan konflik sesama nelayan," ujarnya 

Secara terpisah, menurut Kepala Dinas Perikanan Cilacap, Ir. Sujto, M.Si yang didampingi Kabid Perikanan Tangkap,Ir. Yuwono Tegas Prasetyo dan Kasi Pemberdayaan Nelayan, Saiful Purnamaaji, menuturkan, untuk penataan dan penempatan penggunaan jaring apong diatur dalam Peraturan Daerah (Perda No 16 Tahun 2001 tentang pengelolaan perikanan di kawasan segara anakan.

Dengan adanya peraturan penempatan jaring apong itu, harapannya alur sungai tidak terganggu dan ekosistem habitat laut bisa terjaga. "Perda tersebut hingga sekarang masih berlaku, belum dihapus," ujarnya saat ditemui di kantornya, Jumat (14 Juli 2017).

Menurut Kabid Perikanan Tangkap,Ir. Yuwono Tegas Prasetyo dan Kasi Pemberdayaan Nelayan, Saiful Purnamaaji, secara ekologi, penggunaan jaring apong jelas mengganggu. Jaring apong memang sebaiknya dihapuskan. Namun disisi lain, hal tersebut berhubungan dengan aspirasi dan roda perekonomian nelayan disekitar laguna segara anakan.

"Jika dihapus atau dilarang tanpa ada solusi yang bijak. Kasihan nelayannya karena berhubungan dengan perekomian mereka. Harus ada solusi pengganti jaring yang ramah lingkungan. Hal ini tentunya dibutuhkan dana anggaran yang tidak sedikit," ujar Saiful.

Jumlah nelayan apong di Cilacap dari tahun ke tahun bervariasi. Tahun 2001-2012 jumlahnya sekitar 600 nelayan apong. Pada saat dilakukan pendataan untuk pengantian peralatan, jumlahnya melonjak sekitar 2 kali lipatnya. "Jumlahnya sempat melonjak saat pendataan untuk pengantian peralatan yang ramah lingkungan. Saat ini jumlah nelayan apong sekitar  900 nelayan," ujarnya.    

Dijelaskan Saiful, sesuai dengan perda dan berdasarkan penelitian, penebaran jaring apong efektif di kedalaman 3 meter. Hal itu menjadi efektif karena di luar jalur pelayan sehingga kapal yang akan masuk melewati jalur kawasan laguna segara anakan tidak terganggu.

"Bicara mengenai alur jalur pelayaran bukan bicara tentang perda saja. Tapi itu aturan dunia. Jalur pelayaran di Cilacap hampir saja terkena blackarea. Artinya pelayaran di Cilacap akan ditutup sebagai pelayaran internasional karena ada jaring apong yang mengganggu jalur pelayaran di kawasan laguna segara anakan," ujarnya.

Disamping menerapkan penataan lokasi penebaran jaring apong. Dinas Perikan Cilacap juga menyarankan agar nelayan apong untuk merubah ukuran waring jaring dari ukuran 0,5 inch menjadi dengan 1 inch keatas.

"Dengan ukuran 0,5 inch, memang efektif. Semua tertangkap, dari yang kecil hingga yang besar. Secara ekologi itu hanya mementingkan hasil yang sesaat. Tapi untuk kelanjutannya, secara umum merugikan sumberdaya kelautan," ujar Sujito.

Sujito juga menegaskan, disamping di jalur pelayaran, ada salah satu daerah tertentu yang tidak boleh dipasangi jaring apong yaitu di perairan yang menghubungkan segara anakan dengan samudera Indonesia. "Jika di perairan yang menghubungkan laguna segara anakan dengan samudera Indonesia dipasangi jaring apong maka ikan yang mau berpijah di laguna segara anakan akan terperangkap di jaring apong," tutur Sujito

Begitu juga dengan sebaliknya, ikan hasil pemijahan di laguna segara anakan ketika akan kembali ke laut lepas juga akan terperangkap di jaring apong. Jika hal itu terjadi, maka setiap masa ikan berpijah, akan ada satu siklus pemijahan yang hilang lantaran terperangkap jaring apong," ujarnya. //wd