Senin, 10 Juli 2017 - 21:19:42 WIB
Mensyukuri Rejeki yang Didapat
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 850 kali

Cilacap - Pagi itu sekitar 10.00 WIB, cuaca terlihat cerah. Nampak Haryadi, salah satu nelayan warga Perumahan Nelayan Supinti, RT 02 RW I , Kelurahan Tegal Kamulyan, Cilacap Selatan, Cilacap, sedang melepaskan (ngulapi) ikan lembutan seperti bilis, lumbon,lea dan layur kecil yang terperangkap di dalam jaring jenis Blenong (jaring 1 ¼ hingga 1 ½ inch) yang khusus digunakan untuk mencari ikan lembutan dan udang barat, Senin (10 Juli 2017) di Kali Yasa di sekitar Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC).

Bagi Haryadi, banyak dan sedikitnya hasil yang didapat harus disyukuri dan dinikmati. "Rejeki sudah ada yang mengatur yang penting bagaimana kita berusaha dan mensyukuri rejeki tersebut. Sebagai nelayan pastinya mendambakan hasil yang banyak saat melaut. Namun jika hasilnya hanya sedikit, ya disyukuri yang penting bisa untuk kebutuhan hidup sehari-hari," ujarnya sembari melepaskan (ngulapi) ikan dari jaring blenongnya.

Dikatakan Haryadi, ketika melaut dirinya berangkat sendirian. Menurutnya, jika melaut bersama teman hasilnya tidak mencukupi. "Apalagi saat ini masih musim paila, hasilnya sedang tidak banyak. Hanya cukup untuk biaya operasional dan kebutuhan hidup sehari-hari. Disamping harga ikan lembutan sangat murah biasanya hanya dibuat ikan asin atau untuk pakan bebek, sekitar 2 ribu hingga 4 ribu per kilonya," tutur Haryadi yang sudah 30 tahun melakoni profesi sebagai nelayan.

Selain jaring blenong, jaring yang dimiliki ialah jaring 3 ¼ inch dan 3 ½ khusus untuk menangkap rajungan. "Jika yang keluar musim selain ikan lembutan, udang barat dan rajungan. Ya hanya sebagai pendengar dan penonton saja. Rejeki sudah ada yang mengatur," ujar bapak 3 anak yang setiap melaut hanya menggunakan mesin gantaran dengan kekuatan 5 tenaga kuda (PK).

Meskipun tidak memiiki peralatan jaring yang lengkap dan mesin tempel yang berkekuatan 15 PK. Bukan berarti menyurutkan semangatnya untuk tetap melaut. Haryadi tetap mensyukuri dengan peralatan yang dimiliki dalam menghidupi keluarganya. Dia tidak pernah berkeinginan menjadi ABK atau bidak perahu nelayan lainnya disaat musim selain ikan lembutan, udang barat dan rajungan.

"Ya, punyanya peralatan ini, harus disyukuri. Sudah punya peralatan sendiri kenapa harus ikut orang lain," tuturnya. Berhubung hanya menggunakan mesin gantaran, daerah yang paling jauh untuk melaut di sekitaran perairan Srandil. Ia melaut pagi hari sekitar pukul 05.00 WIB dan pulang 08.00 WIB.

Biasanya untuk menghemat biaya operasional, Haryadi hanya beroperasi di daerah perairan pantai Tapang Dengklok saja karena jika ke daerah Srandil, ia harus mengeluarkan biaya sebesar Rp 50 ribu. Namun jika di daerah Tapang Dengklok, ia hanya mengeluarkan biaya sebesar Rp 25 ribu saja.

Menurut Haryadi, musim rajungan dan musim udang barat biasanya keluar di bulan September, Oktober, November dan Desember. "Jika cuaca di bulan tersebut, tidak hujan hasil yang didapat biasanya lumayan banyak. Namun jika hujan, hasilnya yang didapat biasanya sedikit," ujarnya.   //wd