Senin, 03 Juli 2017 - 23:53:18 WIB
Tak Bisa Melaut, Menjalapun Jadi
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 841 kali

Cilacap - Ibarat peribahasa, tak ada rotan akar pun jadi. Tidak bisa melaut lantaran cuaca yang tidak mendukung, menjala pun jadi, hal itulah yang dilakukan Timin (49) warga Jalan Baleng No 26, RT 05 RW X, Kelurahan Cilacap, Kecamatan Cilacap Selatan, Kabupaten Cilacap untuk mengisi kesibukan agar dapur keluarganya tetap ngebul, Senin (03 Juli 2017) pagi.

Pagi itu, sekira 09.00 WIB, angin bertiup lumayan kencang. Kendati demikian tidak menyurutkan aktivitas Timin untuk terus melemparkan jalanya di perairan Dermaga 3 Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap (PPSC) berharap memperoleh hasil tangkapan jenis ikan blanak dan ikan lainnya.

Saat dijumpai Pamor, Timin menuturkan, dirinya menjala lantaran cuaca tidak mendukung untuk melaut. "Pagi tadi waktu mau melaut, angin cukup kencang. Cuacanya tidak mendukung. Jadi untuk mengisi kesibukan, ya menjala. Jika lagi beruntung hasilnya bisa dijual, namun kalau hasilnya sedikit bisa untuk lauk keluarga," ujar bapak 4 anak yang sudah menjadi nelayan selama 30 tahun.

Dikatakan Timin, jika sedang beruntung, hasil tangkapan lumayan banyak. Pernah dirinya memperoleh ikan blanak sebanyak 17 kg. "Harga ikan blanak sekarang lumayan tinggi, sekitar Rp 27 ribu perkilonya. Bisa untuk keperluan keluarga disaat angin sedang kencang dan musim paila. Tapi yang utama,  tetap melaut," ujar pria yang hanya lulusan SMP lantaran tidak ada biaya untuk melanjutkan ke tingkat yang lebih tinggi.

Menurut Timin, dirinya melaut tergantung hasil tangkapan keluar di daerah mana. Biasanya ia melaut di daerah Widara Payung, Pangandarang, Gombong dan Kerundung Kotak di sekitaran Nusakambangan. Peralatan yang digunakan juga disesuaikan dengan hasil yang keluar. Misalnya musim ikan dawah, jaring yang disiapkan jenis sirang. Musim layur jaring yang digunakan jenis 2 inch, musim udang barat yang digunakan jenis 1 ¼ inch dan 3 inch untuk musim rajungan dan tengiri.

"Saat ini, saya hanya memiliki jaring tersebut. Jika musim yang keluar yang lainya, ya hanya cukup bersyukur saja. Maklum harga jaring lumayan tinggi dan kebutuhan juga meningkat. Apalagi untuk biaya operasional sedikitnya sekitar Rp 100 hingga Rp 200 ribu sekali melaut," ucapnya.  

Bagi nelayan tantangan yang kerap dihadapi ialah ombak dan angin lumayan kencang. "Jika sedang keluar hasil tangkapan. Nelayan tentunya berangkat melaut, asalkan sedang musim ikan atau hasil tangkapan lainya. Tapi jika sedang sepi untuk apa melaut, hanya membuang biaya operasional saja. Lebih baik mencari kerja sampingan saja," tutur pria yang kadang menjadi tukang batu, kerja di proyek dan menjala untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya.

Timin mengakui musim paila yang dialami nelayan Cilacap memang cukup lama. Menurutnya musim paila disamping karena cuaca dan banyaknya industri yang ada di Cilacap, juga dipengaruhi oleh nelayan yang masih banyak menggunakan jaring apong meskipun sudah dilarang tapi masih nekat menggunakannya.

"Bagaimana ikan akan besar, jika masih kecilpun mereka sudah terjaring oleh jenis apong. Jaring apong harusnya diberantas dan dilarang secara tegas, sehingga musim paila tidak berkepanjangan. Harus ada dasar hukum yang jelas tentang jaring apong sehingga kelestarian habitat yang ada di lautan Cilacap terus terjaga," tutur Timin mantan Staf Rukun Nelayan Pandanarang yang telah mengabdi selama 10 tahun di Rukun Nelayan Pandanarang Cilacap.   

Meskipun hanya tamatan SMP bukan berati membuat Timin lantas berkecil hati. Dia terus berusaha memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya dan memberikan pendidikan yang terbaik kepada anak-anaknya agar lulus ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. "Sebagai orang tua tentunya ingin pendidikan anaknya lebih tinggi. Paling tidak, kelak mereka bisa meningkatkan ekonomi keluarganya masing-masing setelah dewasa nanti," tuturnya. //wd.