Rabu, 21 Juni 2017 - 05:17:21 WIB
Dinamika Kehidupan Tukang Tagog
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 847 kali

Cilacap - Dinamika kehidupan tukang tagog (tukang pikul perahu nelayan), tidak terlepas dari para nelayan. Penghasilan mereka sangat tergantung dari pendapatan para nelayan ketika melaut. Para tukang tagog atau tukang engkek perahu biasanya mendapat upah atau bayaran, 5 % dari hasil penjualan yang didapat para nelayan. Upah yang diterima sebagai  tanda terima kasih para nelayan karena sudah dibantu untuk menurunkan dan menaikan perahu pada saat akan melaut dan pulang dari melaut.

Menurut salah satu tukang tagog, perahu nelayan Pandanarang, Cilacap, Gembol (38) menuturkan, tukang tagog atau tukang engkek perahu disini, setiap satu kelompok terdiri dari 5 orang. Besar kecilnya penghasilan kelompok tukang tagog tergantung pendapatan nelayan saat pulang dari melaut. Upah yang diterimat 5 % dari hasil penjualan setiap satu perahu yang melaut.

"Pendapatan kita tergantung penghasilan nelayan. Jika musim ikan seperti dawah dan bawal, pendapatan kita sekitar Rp 300 hingga Rp 500 ribu perhari. Sementara kalau musim udang sekitar Rp 100 hingga Rp 200 ribu perhari. Ya semua tergantung hasil, jika hasil berlimpah upah yang diterima tentunya juga lebih banyak. tapi kalu sepi, ya upahnya juga sedikit," ujarnya, seusai menaikan perahu ke pinggiran pantai yang lebih tinggi agar perahu tidak hanyut terseret ombak, Selasa (20 Juni 2017) di pinggiran Pantai Teluk Penyu Cilacap

Namun saat ini, lanjut Gembol, sudah lama nelayan Cilacap mengalami musim paila atau paceklik. Sudah hampir 2 tahun, tidak ada musim ikan maupun udang. Jika keluar pun jumlahnya tidak banyak. Berhubung musim paila banyak nelayan yang tidak berangkat untuk melaut lantaran kerap merugi.

"Yang jelas hasil yang didapat tidak sebanding dengan biaya operasionalnya. Hal ini tentunya berimbas dengan pemasukan bagi tukang tagog, karena banyaknya nelayan yang tidak melaut. Saat ini pendapatan sekitar Rp 30 hingga Rp 50 ribu perhari," terang Gembol yang melayani 40 perahu nelayan Pandanarang.

Hal tersebut terjadi, menurut Gembol, disebabkan musim paila yang berkepanjangan sehingga banyak nelayan yang tidak melaut. "Dari 40 perahu, saat ini yang berangkat melaut hanya 15 perahu dan hasilnya juga tidak begitu banyak," tutur Gembol yang menjadi tukang tagog selama 20 tahun.

Meskipun sedang musim paila tidak menyurutkan semangat tukang tagog untuk melayani dan membantu para nelayan ketika akan melaut. Setiap hari sekitar pukul 01.00 WIB hingga 02.00 WIB pagi mereka membantu para nelayan menurunkan perahu agar dapat melaut dan siang harinya sekira pukul 09.00 WIB hingga 10.00 mereka menaikan perahu ke pinggiran pantai yang lebih tinggi.

Aktivitas tersebut dilakukan sudah puluhan tahun yang silam dari menggunakan bambu untuk memikul perahu hingga beralih ke gerobak. Setelah beralih ke gerobak, setiap hari mereka menyisihkan uang sebesar Rp 5 ribu hingga Rp 10 ribu untuk biaya perawatan gerobak.

"Dulu untuk menurunkan dan menaikan perahu, kita pikul dengan bambu. Sekitar 5 tahun yang lalu, kita gunakan gerobak agar lebih ringan. Setiap hari kita sisihkan dana untuk perawatan gerobak karena setiap 3 bulan gerobak harus diperbaiki," tutur Gembol.   

Hal senada juga diungkapkan Tugiman, dirinya menjadi tukang tagog serep lantaran melaut hasilnya sedang tidak pasti. "Saat ini, lagi musim paila. Hasilnya sedang tidak menentu. Apalagi biaya operasionalnya cukup tinggi. Daripada nganggur. Ya sementara jadi tukang tagog serep, lumayan untuk kebutuhan sehari-hari. Jika lagi musim ikan, ya melaut lagi," tutur Tugiman warga Pandanarang RT 3 RW 15, Kelurahan Cilacap yang sudah 15 tahun menjadi nelayan. // wd

.