Jumat, 16 Juni 2017 - 21:26:37 WIB
Penjemur Udang Rebon Ampas
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 986 kali

Cilacap - Setiap tahun, ketika memasuki musim udang rebon ampas, aktivitas para penjemur udang rebon ampas sangat mudah dijumpai di sekitaran pesisir pantai. Salah satunya di sekitar area Dermaga 3 Pelabuhan Perikanan Samudera Cilacap yang terletak di sebelah utara pintu masuk Wisata Teluk Penyu Cilacap.

Teriknya cuaca menjadi berkah tersendiri bagi para penjemur udang rebon ampas. Kualitas rebon yang dijemur ini, sangat dipengaruhi oleh panasnya paparan matahari. Setelah kering merata, jenis udang yang berukuran kecil ini biasanya dijual ke pabrik terasi atau ke pemilik depot ikan.

Para penjemur rebon setiap satu menit dengan telaten membalik udang yang berukuran kecil ini, agar keringnya merata dan kualitas rebon terjaga sehingga memperoleh harga yang tinggi dari pabrik terasi maupun pemilik depot ikan.

Saat dijumpai Pamor, Sawiyem (65) yang dibantu suaminya, Suwarto (75} menuturkan, setiap tahun para nelayan yang memiliki jaring arad biasanya panen (along) ketika musim udang rebon ampas. Musim rebon biasanya hanya berjalan selama 3 hingga 5 bulan.

"Jika sedang musim rebon, para penjemur membeli udang ke nelayan. Setelah dikeringkan dijual ke pabrik terasi atau pemilik depot ikan. Harga rebon basah dibeli seharga Rp 5 ribu perkilo. Setelah kering dijual dengan harga Rp 18 ribu hingga Rp 22 ribu perkilo," kata Sawiyem warga Bon Baru, RT 5 RW III, Kelurahan Cilacap, Jumat (16 Juni 2017).

Menurut Sawiyem, setelah dikeringkan, udang rebon basah 1 kuintal biasanya hanya menjadi 22 kg atau 25 kg saja. Penyusutannya sangat besar sekali. "Jika penjemurannya tidak merata dan kualitasnya tidak bagus harganya hanya bekisar Rp 18 hingga Rp 20 ribu perkilo. Tapi kalau kualitasnya bagus harganya sekitar Rp 22 ribu perkilo. Tinggal dikalikan saja. Jika kualitasnya tidak bagus, ya rugi," ujarnya.

Wanita yang mempunyai 8 anak dan dikarunia 19 cucu serta 5 buyut ini, sudah banyak pengalaman dalam usaha penjemuran rebon. Disamping dijual ke pabrik terasi dan depot, ia juga meluangkan waktu untuk membuat terasi secara tradisional dengan cara ditumbuk tidak digiling dengan mesin.

"Sebagian rebon saya olah untuk membuat terasi sendiri. Jika dibuat terasi, rebon 10 kg biasanya hanya menjadi 3 kg terasi. Prosesnya rebon kering ditumbuk dengan dicampur air asem, gula merah dan sedikit garam setelah itu dijemur hingga kering merata. Terasi yang sudah jadi, selain untuk keperluan sendiri juga dijual ke warga setempat," ujarnya.

Meskipun usia sudah senja dan anak-anaknya sudah berumah tangga semua, bukan berarti membuat Sawiyem harus berpangku tangan dan bermalas-malasan serta menjadi beban bagi semua anaknya. "Saya kerap disuruh berhenti usaha oleh anak-anak, tapi saya tolak. Dari muda sudah usaha sendiri, jadi tidak bisa hanya berharap dari anak, apalagi disuruh nganggur, ya tidak bisa," ujarnya.

Hal serupa juga diungkapkan penjemur rebon lainya, Musa (57 warga kaplingan PPC, Jalan Karang Kamulyan, Gg Asem, RT 4 RW III, Kelurahan Tegal Kamulyan. "Para penjemur disini rata-rata sudah mempunyai langganan. Jika cuacanya panas, rebon akan kering dalam satu hari dan kualitasnya pastinya bagus. Tapi jika mendung dan hujan, otomatis berpengaruh pada kualitas harganya jadi murah," tuturnya.

Menurut Musa, nelayan pun sama. Jika tidak memiliki jaring yang sesuai musim hasil dilaut tidak bisa melaut. "Percuma jika melaut kalau tidak bisa hasil. Sekarang musim rebon dan jerbung, jika tidak punya jaring arad dan kanyut, ya tidak bisa melaut. Bahasanya kalah alat ya kalah hasil. Makanya saya usaha menjemur rebon karena tidak memiliki jaring tersebut, daripada nganggur. Jika tidak usaha nanti dapur saya tidak bisa ngebul," ujarnya. //wd.