Kamis, 15 Juni 2017 - 23:14:13 WIB
"Kanyut" Jaring Spesialis Udang Jerbung
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 965 kali

Cilacap - Musim paila atau pacekik yang dirasakan nelayan Cilacap berangsur angsur telah membaik. Hal tersebut dikarenakan sudah sepekan ini, sebagian nelayan Cilacap yang memiliki jaring kanyut bisa menikmati musim udang jerbung yang ada di peraian perbatasan Cilacap - Pangandaran.

Para nelayan Cilacap sangat menyadari untuk peralatan yang cocok digunakan ialah jaring kanyut, karena hanya jaring jenis itu yang spesialis dan tepat untuk melaut dan menangkap jenis udang jerbung.

Menurut salah satu nelayan Pandanarang Cilacap, Rebo (43), sudah ada seminggu ini, nelayan menikmati musim udang jerbung. Jika sedang musim udang jerbung biasanya nelayan akan mempersiapkan jaring kanyut untuk melaut. Ia melaut dengan menggunakan perahu katir dan mesin tempel berkekuatan 18 tenaga kuda (PK). Sekali melaut ke perbatasan Cilacap - Pengandaran waktu yang dibutuhkan sekitar 1,5 jam dan menghabiskan biaya operasional sekitar Rp 300 ribu.

"Kalau ingin hasil melimpah (nrajang), jaring kanyut harus dipersiapkan. Hasil tangkapan sangat didukung oleh peralatan, jika alat tidak didukung kemungkinan hasil yang didapat sangat tipis atau kosong (nendo). Kalah alat, ya kalah hasilnya," ujarnya saat ditemui ketika sedang mempersiapkan peralatan jaring untuk melaut dibantu oleh salah satu anaknya, Kamis (15 Juni 2017) di sekitar pantai Teluk Penyu Cilacap.

Menurut Rebo, kelengkapan peralatan (jaring) sangat diperlukan oleh nelayan. Peralatan tersebut digunakan sesuai dengan musim hasil tangkapan misalnya musim ikan bawal nelayan harus mempersiapkan jaring tursin.

Disamping itu, Rebo juga menjelaskan untuk musim ikan dawah yang harus dipersiapkan jaring sirang dan musim ikan layur alat yang digunakan jaring jenis 2 inch. Sedangkan jika musim tengiri biasanya yang digunakan jaring jenis 3 inch. Peralatan itu sangat diperlukan ketika sedang melaut. Jika ingin dapat hasil yang berlimpah (nrajang).

"Nrajang dan nendo bagi nelayan sudah menjadi hal yang biasa terjadi, yang penting berusaha agar dapur tetap ngebul. Disamping itu kita juga harus bisa mengumpulkan uang untuk merawat jaring atau membeli jaring yang baru. Jika alat bagus hasilnya pun pasti meningkat," ujar bapak 4 anak ini, yang sejak  usia 10 tahun sudah terjun menjadi nelayan.

Pria kelahiran tahun 1974 silam ini, sudah banyak mengenyam asam garam kehidupan di lautan. Sudah 33 tahun ia ditempa oleh pengalaman dan kerasnya kehidupan di lautan sehingga sangat mengerti bagaimana menyiasati musim di lautan. "Alat sangat penting untuk menunjang penghasilan, kita harus bisa mempunyai jaring yang memadai sesuai dengan musim," tuturnya.

Berkat kerja keras dan keuletannya, Rebo kini sudah memiiki peralatan yang digunakan untuk musim ikan layur, bawal, tengiri, dawah dan udang cerbung. Mesikipun saat ini semua harga meningkat dan biaya operasional cukup tinggi, Rebo tidak pernah menyerah untuk berusaha memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga dan pendidikan anak-anaknya.  

Sebagai orang tua, ia tidak menginginkan pengalaman pahit yang dirasakan karena tidak mengenyam pendidikan, terjadi pada anak-anaknya. "Anak-anak, saya nasehati agar terus sekolah paling tidak hingga tingkat SMA atau SMK. Ini pengalaman pribadi, saya tidak tamat SD. Kalau saya lulusan SMA, mungkin tidak menjadi nelayan, tetapi jadi security," ujarnya.

Dikatakan Rebo, dirinya mempunya bakat di sepakbola sebagai penjaga gawang. Waktu masih muda, ia kerap bermain di klub Mesran dan Bapor sehingga pernah ditawari pekerjaan security. Namun karena tidak memiliki ijasah, impian menjadi security, ia buang jauh-jauh. Kendati demikian hingga saat ini pun, Rebo masih aktif menjadi pelatih penjaga gawang di salah satu klub sepak bola. Hal itu karena kecintaannya pada olahraga sepakbola tidak pernah meredup. //wd.