Rabu, 14 Juni 2017 - 21:01:52 WIB
Merajut Asa di Lautan
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 894 kali

Cilacap - Bagi para nelayan maupun pelaut, lautan merupakan tempat merajut asa dalam mencari rejeki. Salah satunya Ali Muddin pria kelahiran Sulawesi Selatan, tahun 1954 silam, ia terjun sebagai pelaut sejak tahun 1969 lalu dengan bekerja di kapal kargo.

Perjalanan hidup sebagai pelaut memang sudah menjadi pilihan hidupnya. Seiring dengan waktu dan rayuan dari temannya, tahun 1975 Ali Muddin memutuskan untuk menetap di Bon Sayur, Jalan Slamet Riyadi, RT 04 RW 005, Kelurahan Tambakreja, Kecamatan Cilacap Selatan, Cilacap.

Kepada Pamor, Ali Muddin (63) menuturkan, dari usia 15 tahun, dirinya sudah menjadi pelaut. Dulu sebelum menetap di Cilacap, dirinya bekerja di kapal kargo. "Tahun 1975 masa kerja di kapal kargo selesai, saya diajak dan dirayu teman untuk mengadu nasib di Cilacap. Teman bilang di Cilacap mudah cari uang, akhirnya saya putuskan tinggal disini," kenangnya, Senin (12 Juni 2017) sembari menunggu perbekalan untuk melaut kembali karena air masih surut.

Ali Mudin mengaku dirinya melaut sejak pagi dengan menggunakan jaring jenis kantong. Berhubung air surut, kapal yang dibawanya tidak bisa ditambatkan di pinggir pantai Bon Sayur. "Daripada hanya menunggu air pasang. Lagipula hasilnya juga belum banyak. Yah rencananya berangkat lagi untuk melaut. Nanti malam kan sudah pasang, siapa tahu tambah hasil tangkapan ikannya," tutur bapak 1 anak yang sudah dikaruniai 1 cucu.

Dulu, sambung Ali Muddin, selepas dari kapal kargo, dirinya memutuskan menjadi ABK kapal nelayan yang beroperasi dengan menggunakan jaring pukat harimau. "Waktu itu, saya dibayar Rp 700 perhari hingga akhirnya jaring pukat harimau dilarang oleh pemerintah," ujar pria yang puluhan tahun berpengalaman sebagai juru mudi tugboat dan kapal kargo.

Dikatakan Ali Muddin, dengan dilarangnya jaring pukat harimau, ia pun kembali bekerja di kapal kargo. Seperti biasanya setelah masa kerja di kapal kargo habis kontraknya, ia pun kembali menjadi nelayan dengan menggunakan jaring kantong.

"Waktu itu, saya menjadi nahkoda kalau bahasa di kapal nelayan, ya jadi tekong. ABK saya, ada 8 orang dan jaring yang digunakan jenis kantong," jelasnya.

Ketekunan, keuletan dan kerja keras, dalam merajut asa di lautan berbuah manis, disamping untuk memenuhi kebutuhan hidup, kini Ali Muddin sudah memiliki dua perahu. "Perahu saya, yang satu menggunakan mesin tempel dengan kekuatan 15 tenaga kuda (PK). Sedangkan yang satunya dengan mesin gantaran sebesar 5 PK," ujarnya.

Pria kelahiran tahun 1954 silam ini, sudah banyak mengenyam asam garam kehidupan di lautan, untuk menghemat operasional ketika melaut, ia biasa menggunakan perahu kecilnya yang berkekuatan 5 PK untuk melaut di sekitaran perairan Pulau Nusakambangan.

"Hasil tangkapan sedang sepi, jika menggunakan yang 15 PK, biaya operasional sangat besar. Bisa menghabiskan bahan bakar 20 liter sekali melaut, karena mencari ikan maupun udang di luar sana. Beda dengan perahu yang kecil, bahan bakar yang dibutuhkan hanya 2 liter saja," ujarnya.

Menurut Ali Muddin, nelayan Cilacap sudah 2 tahun mengalami musim paila atau paceklik. Sekarang keberadaan ikan dan udang tidak bisa diprediksi. "Mungkin pengaruh cuaca yang saat ini tidak menentu. Kalau dulu bisa diprediksi. Bagi nelayan meskipun sedang ombak dan musim hujan, jika banyak hasil ya tentunya senang. Tapi jika sudah ombak dan hujan tidak ada hasil, ya susah," tuturnya.  //wd