Jumat, 02 Juni 2017 - 10:24:42 WIB
"Celik" Perangkap Belut Tradisional
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 655 kali

Hujan yang mengguyur wilayah Purbalingga beberapa hari ini memberi harapan bagi sosok yang akrab disapa Mbah Roso (69) untuk menangkap belut sebanyak mungkin. Celik (anyaman bambu yang digunakan untuk menangkap belut) telah dipersiapkan sejak siang tadi, sedikitnya seratus Celik dibawanya dengan pikulan bambu.

"Mumpung sawahe wis akeh banyune, sapa ngerti welute pada gelem metu (mumpung sawahnya sudah banyak airnya, siapa tahu belutnya pada mau keluar).” Tuturnya kepada PAMOR sambil memasang Celik diarea pesawahan di Dukuh Bantar Benda, Desa Grantung, Kecamatan Karangmoncol, Rabu (31 Mei 2017) lalu.

Menangkap belut dengan menggunakan perangkap tradisional sudah menjadi mata pencaharian Mbah Roso lebih dari tiga puluh tahun lamanya, meski aktifitas tersebut ia lakukan hanya disaat musim penghujan saja. Sementara di musim kemarau menjadi buruh serabuan adalah pilihannya.

Celik-Celik itu pun ditanam diarea pesawahan dan diambil pada keesokan harinya. Sedangkan untuk menandai keberadaan Celik yang telah ditanam, Mbah Roso diberi tanda dengan menancapkan Janur (daun kelapa). Jika sedang beruntung sedikitnya sekilo belut bisa didapat, karena Mbah Roso hanya mengambil belut yang besar-besar saja. Sedangkan belut-belut kecil yang terjebak di Celik akan dilepas kembali.

"Ya rezeki-rezekian mas, yen lagi akeh ya bungah yen lagi langka ya mringis (ya rezeki-rezekiaan mas, kalau lagi banyak ya seneng kalau lagi dapat sedikit ya nyengir)." Ucapnya bercanda.

Aktifitas menangkap belut dengan Celik sempat marak di era delapan puluhan, saat itu Mbah Roso banyak mendapatkan pesanan Celik dari masyarakat sekitar. Bahkan beberapa pedagang Celik di pasar pun turut memesannya. Namun, saat ini hanya tersisa dua orang saja yang masih berburu belut menggunakan Celik di kampung tersebut. Bahkan di pasar tradisional juga sudah tidak lagi dijumpai penjual Celik, maraknya penggunaan pestisida oleh petani turut memengaruhi populasi belut yang ada. Dan perburuan belut pun dirasa semakin sulit.

Untuk memasang perangkap tradisional ini tidaklah sulit, hanya dengan membenamkan dengan posisi miring. Sementara untuk mengundang agar belut mau masuk perangkap, setiap celik yang akan dipasang umpan berupa adonan Dedek (bekatul) yang dicampur dengan cacing tanah. Umpan ini dipadatkan menjadi bulatan agar tidak mudah larut saat terkena air.

Tidak ada aturan dalam memasang telik. Siapa pun boleh melakukannya meski di sawah yang masih ada tanaman padinya. Yang terpenting si pemasang tidak merusak tanaman padi yang ada. Meskipun saat ini belut sudah tidak lagi melimpah, Mbah Roso tetap menjalankan aktivitasnya mencari belut dengan Celik dimusim penghujan. //ipung