Senin, 22 Mei 2017 - 22:05:23 WIB
Perajin Ikan Asin Lembutan
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 754 kali

Cilacap - Siang itu, sekira pukul 14.00 WIB, cuaca sangat terik. Tampak terlihat aktivitas perajin ikan asin lembutan (ikan kecil), sedang membuat ikan asin dengan bernaung di gubuk-gubuk kecil di sekitaran Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kemiren, Jalan Lingkar Timur, Kelurahan Tegalkamulyan, Kecamatan Cilacap, Cilacap, Minggu (21 Mei 2017).

Dengan cekatan dan terampil, mereka membelah ikan kecil dan membuang jeroan ikan tanpa merasa takut terkena pisau yang tajam. Hal itu karena sudah menjadi kebiasaan bagi perajin ikan asin lembutan.

Menurut perajin ikan asin lembutan, Mbah Sarwen (62) warga Jalan Salya, RT 02 RW IV, Gumilir yang dibantu anaknya, Aris (40) menuturkan menjadi perajin ikan asin lembutan sudah dilakoni selama 40 tahun. "Ikan lembutan yang dibuat menjadi ikan asin ini, saya beli di TPI Kemiren," ujar Mbah Sarwen, Minggu (21 Mei 2017) sambil membelah ikan.

Dikatakan Mbah Sarwen, jenis ikan lembutan yang dijadikan ikan asing diantaranya ikan montok, lumbon, lendra, udang rebon dan layur kecil. Setiap hari sedikitnya membeli ikan di TPI sekitar 20 kg, setelah dijadikan ikan asin, hasilnya menjadi  sekitar 8 kg. "Jika dikeringkan kan menyusut. Jadi kalau 20 kg setelah jadi ikan asin sekitar 8 kg," ujar istri Mbah Sudiarjo (60) yang berprofesi sebagai nelayan.

Mbah Sarwen menjelaskan, ikan asin yang sudah jadi dijual ke para pedagang dan wong plesiaran (orang wisata). Untuk harga ikan asin dijual sekitar Rp 20 ribu perkilonya. "Tidak setiap hari para perajin ikan asin lembutan membuat ikan asin. Jika sedang tidak ada ikan. Ya libur," ujar Mbah Sarwen yang dikarunia 5 anak dan 12 cucu.

Dituturkan Mbah Sarwen, pembuatan ikan asinnya tidak menggunakan bahan yang berbahaya. Ikan yang sudah dibelah dan dibersihkan dimasukan dalam wadah yang berisi air dengan dicampur garam krosok. Setelah itu, direndam selama satu malam, kemudian paginya, baru dijemur agar ikan kering secara merata.

Hal senada juga diungkapkan Aris (40) anak sulungnya. Lelaki yang berprofesi sebagai nelayan ini, selalu meluangkan waktu untuk membantu ibunya membuat ikan asin. "Jika tidak capai, sepulang menjaring atau sedang tidak melaut, saya membantu membuat ikan asin," ucapnya.

Aris menerangkan, untuk membelah ikan sekitar 20 kg, ia bersama ibunya hanya membutuhkan waktu 2 hingga 3 jam. "Proses perendaman dan pengeringan yang butuh waktu lama. Kalau membelah waktunya cepat," tuturnya.

Hal serupa juga dituturkan Mbah Kitem (62) warga Jalan Srenggini, RT 02 RW II, Keluarahan Tegalkamulyan, ia mengaku menjadi perajin ikan asin lembutan sejak 15 tahun yang lalu. "Lumayan mas, bisa membantu suami untuk kebutuhan keluarga. Disamping itu, bisa memberi uang jajan untuk cucu. Maklum mas, jika saya pulang, cucu pasti minta jajan. Jika tidak usaha membuat ikan asin, kasihan mereka," tutur istri Mbah Kasimiadi (65) yang berprofesi sebagai nelayan dan dikaruniai 7 anak serta 6 cucu.

Begitu juga, Entin (40), warga Jalan Kuda Laut, RT 3 RW XVI, ia mengaku penghasilan membuat ikan asin dipergunakan untuk keperluan sehari-hari. "Bisa untuk kebutuhan kelurga dan membantu suami," ujarnya.

Tentang program bantuan bagi masyarakat tidak mampu, menurut Entin, bantuan tersebut belum tepat sasaran. Dia menjelaskan banyak bantuan tidak tepat sasaran, seperti Program Keluarga Harapan (PKH). Banyak yang tidak mampu tidak mendapat program tersebut.

"Di daerah saya sendiri, ada warga yang secara ekonominya bisa dikatakan tidak mampu, namun tidak mendapatkan PKH. Tapi ada juga yang ekonominya mapan malah dapat bantuan PKH," ujarnya.    

Dikatakan Entin, aturanya pemerintah dalam memberikan bantuan harus seletif. Dilihat apa sudah tepat atau tidak. "Saya tidak menyalahkan pemerintah, namun harus teliti dalam memberikan bantuan. Jadi program tersebut tepat sasaran. Kasihan yang berhak menerima malah tidak mendapatkan," tuturnya. // wd.