Senin, 22 Mei 2017 - 15:49:16 WIB
Tabet Panembahan Kejamba
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Budaya - Dibaca: 740 kali

Di usianya yang sudah mencapai 108 tahun, Mbah Nawiraji masih mampu menyusuri bukit menuju sebuah makam tua yang dikenal dengan Tabet Kejamba. Meski dengan tertatih dan sesekali harus menghela nafas panjang, namun demi mengemban amanah sebagai juru kunci, semua itu ia lakukan dengan lapang dada.

Tabet Kejamba berada di area hutan pinus, Dukuh Asahan, Desa Sokawera, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas. Tabet ini biasa dikunjungi peziarah pada malam Senin Wage dan malam Kamis Wage. Sedangkan menjadi juru kunci sudah dilakoni Mbah Nawiraji sejak Tahun 1943 silam.

"Ya kaya kie kewajibane juru kunci, (ya seperti ini kewajiban seorang juru kunci)", ucapnya saat mengantar PAMOR mengunjungi tabet tersebut, Kamis (18 Mei 2017) lalu.

Mengemban amanah sebagai juru kunci memang tidak mudah, terlebih untuk sosok seusia Mbah Nawiraji. Selain harus menempuh jalan mendaki, seorang juru kunci juga harus ikhlas memberikan pelayanan dan pepadang kepada tamu yang akan berziarah.

Sembari menapaki jalan setapak dan berbatu, Mbah Nawiraji pun bercerita tentang keberadaan makam yang dipercaya sudah berusia ratusan tahun. Makam dari seorang tokoh yang bernama Wirayuda yang konon semasa hidupnya melalang buana dan singgah diwilayah tersebut hingga akhir hayatnya.

Tidak hanya menceritakan kisah dan kesaktian Wirayuda yang melalang buana dan bertapa hingga moksa. Pada kesempatan itu, Mbah Nawiraji juga berbagi kisah tentang perjalanan hidupnya. Mulai dari masa penjajahan Kolonial Belanda hingga masa pemberontakan-pemberontakan yang terjadi pada bangsa ini.

"Zaman ndisit wong uripe rekasa banget, ora gur rekasa pangan, manggon bae ora tentrem, ( zaman dulu orang hidupnya sangat sengsara, bukan hanya kesusahan pangan, bertempat tinggal pun tidak tentram)", ucapnya mengisahkan.

Dari semua perjalanan hidup yang pernah ia lalui, ada sebuah peristiwa yang yang tidak akan terlupakan olehnya, yaitu saat terjadinya pemberontakan DI/TII. Sebuah peristiwa dimana para laskar DI/TII bersembunyi dan bermarkas di hutan lereng Gunung Slamet.

Peristiwa itu pun menyisakan kenangan pahit bagi Mbah Nawiraji karena selain menambah kesengsaraan hidupnya sebagai masyarakat pinggiran hutan, peristiwa itu juga menyebabkannya harus berpisah dengan salah satu saudara kandungnya dan tidak pernah bertemu lagi hingga kini.

Sebagai sosok yang sudah makan banyak asam garam kehidupan, tidak lupa Mbah Nawiraji juga berpesan agar manusia hidup itu senantiasa menjaga kerukunan dan mau ngerteni uripe wong cilik supaya kejadian-kejadian memilukan yang berdampak pada kesengsaraan rakyat kecil tidak terulang kembali.

Rukun agawe sentosa, crah agawe bubrah (rukun membuat sentosa atau kokoh, bertengkar membuat rusak atau menimbulkan kehancuran) adalah paribahasa Jawa yang diucapkan Mbah Nawiraji agar selalu menjadi pedoman untuk menjaga kerukunan serta kedamaian bagi masyarakat dan bangsa ini.

Falsafah dan pitutur para pendahulu inilah yang selalu diterapkan oleh Mbah Nawiraji dalam mengarungi hidup bermasyarakat dan menjalankan amanah para leluhur.

Diusianya yang sudah senja, Mbah Nawiraji selalu sumringah dalam menjalani aktifitasnya sebagai seorang juru kunci. Mengabdikan diri untuk sesama tanpa pamrih. Narimo ing pandum menjadi semboyan hidup sosok yang sudah mempunyai 30 cucu, 36 cicit dan 1 canggah ini.//ipung