Kamis, 18 Mei 2017 - 23:33:18 WIB
Gembus, Penopang Ekonomi Mbah Khasanudin
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 665 kali

Cilacap - Dinamika kehidupan Mbah Khasanudin (70) warga Jalan Ketela, RT 02 RW VII, Desa Kalisabuk, Kesugihan, Cilacap sangat berwarna. Pria kelahiran tahun 1947 silam ini, sudah banyak mengenyam asam garam kehidupan. Berbagai profesi pun pernah ia jalani mulai dari buruh tani, tukang batu dan tukang deres.

Menjadi penjual gembus sudah dilakoni Mbah Khasanudin selama 30 tahun. Camilan tradisional yang dijual, diolah sendiri oleh Mbah Khasanudin bersama istrinya, Siti Robitoh (55). Setiap hari Mbah Khasanudin memproduksi gembus sebanyak 25 hingga 30 kg atau sekitar 1.000 gembus. Namun jika hari libur dan minggu, gembus yang diolah sebanyak 40 kg.

Sebelum mangkal di tepi Jalan RE Martadinata, depan Pintu I rel kereta api di sekitaran Pasar Gedhe Cilacap, tepatnya 10 tahun yang lalu, ia kerap berpindah tempat diantaranya di Jalan Katamso dan Bakung.

Setiap hari, Mbah Khasanudin berjualan dari pukul 16.00 hingga 21 WIB. Jika hari libur dan minggu, dari pukul 06.00 hingga 08.00, ia berjualan di Pantai Teluk Penyu Cilacap.

Kepada Pamor, Mbah Khasanudin menuturkan, setiap hari memproduksi gembus sekitar 25 hingga 30 kg. Bahan dasar gembus dari singkong dan tepung aci yang dicampur bumbu seperti ketumbar, bawang putih, garam dan penyedap. "Singkongnya, saya beli di Pesanggrahan, Kesugihan, karena singkong disana kualitasnya sangat bagus untuk membuat gembus," ujarnya, Kamis (18 Mei 2017) malam.

Dijelaskan, Mbah Khasanudin, setiap hari gembus yang terjual minimal 15 kg hingga 20 kg. Jika sedang rame, gembus yang dibawa habis dibeli pelanggan. "Kalau tidak habis, gembus saya bawa pulang dan dimasukan di kulkas agar awet. Gembus yang belum digoreng, bisa bertahan beberapa hari, asalkan di masukan ke lemari es," ujarnya.

Mbah Khasanudin juga mengungkapkan, warga di dusunnya mayoritas  profesinya penjual gembus. Ada  sekitar 60 KK yang berdagang gembus. "Sudah turun temurun, warga ditempat saya menjadi pedagang gembus. Mereka sudah mempunyai tempat untuk mangkal diantara di Maos, Adipala dan Cilacap kota. Sedangkan di Cilacap kota, selain saya ada yang mangkal di Jalan Lawu, Brantas dan Jalan Cerme," ujarnya.

Ketekunan, keuletan dan kerja keras, Mbah Khasanah dalam menafkahi keluarga berbuah manis. Tahun 2010 lalu, anak-anaknya sepakat membelikan sepeda motor untuk berjualan gembus karena Mbah Khasanudin enggan untuk berhenti berjualan.

"Saya memang pernah disuruh berhenti jualan oleh anak-anak, tapi saya tolak. Jualan gembus bagi saya dengan istri untuk kesibukan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari tanpa harus merepotkan anak-anak," ujarnya.

Dulu sebelum anak-anaknya bekerja, Mbah Khsanudin setiap berjualan hanya menggunakan sepeda. Tanpa mengenal lelah setiap hari, ia mengayuh sepeda dari Kalisabuk ke Jalan Katamso, Bakung dan akhirnya mangkal di Jalan RE Martadinata. //wd