Rabu, 17 Mei 2017 - 21:25:04 WIB
Perjalanan Hidup Mbah Sukiyem
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 529 kali

Cilacap - Perjalanan hidup Mbah Sukiyem memang penuh perjuangan dan pengabdian. Setelah suaminya meninggal tahun 1980 silam, ia menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Untuk memenuhi kebutuhan keluarganya, ia berjualan rujak, lotek dan gorengan di rumah.

Seiring dengan perjalan waktu, usaha yang dilakoni ibu 4 anak ini, tidak lah berjalan dengan yang diharapkan. Disamping harga kebutuhan untuk berdagang yang kian meningkat, dagangannya pun kerap dihutang. Bahkan ada yang tidak mau membayar hutangnya, karena kerap merugi, akhirnya Mbah Sukiyem memutuskan berjualan bubur sum-sum dan candil keliling kampung.  

Menjadi penjual bubur sum-sum dan candil sudah dilakoni Mbah Sukiyem (68) selama 10 tahun. Setiap hari dari pukul 13.00 hingga 17.00 WIB, Nenek 9 cucu dan 2 buyut ini, berkeliling kampung untuk menjajakan buburnya.

Kepada Pamor, Mbah Sukiyem (68) berbagi cerita, sudah 10 tahun yang lalu dirinya beralih profesi menjadi penjual bubur sum-sum dan candil. "Dulu, saya berjualan rujak, lotek dan gorengan di rumah. Tapi banyak yang hutang dan tidak dibayar," ujarnya, sambil melayani pembeli, Senin (15 Mei 2017) lalu.

Menurut Mbah Sukiyem, dengan berjualan bubur keliling, hasilnya bisa untuk kebutuhan sehari-hari dan tidak ada yang berhutang. Setiap hari Mbah Sukiyem bisa membawa pulang uang Rp 175 ribu.  'Rejeki memang sudah ada yang mengatur, namun jika tidak berusaha bagaimana mendapatkan rejeki. Jika dituruti, inginnya ya istirahat. Tapi kebutuhan, kan tidak mau istirahat," ujarnya.

Dikatakan Mbah Sukiyem, setiap pagi, ia mengolah bubur sum sum dan candil yang dibuat dari tepung beras, aci dan tepung ketan. "Dulu, bubur yang dibuat sekitar 5 kg, tapi sekarang hanya 4 kg. Maklum mas, sudah tua jadi tenaganya sudah berkurang," ujarnya.

Meskipun saat ini, anak Mbah Sukiyem sudah menikah semua dan dikaruniani 9 cucu dan 2 buyut, ia tidak mau membebani anak-anaknya. "Tidak enak jika merepotkan anak. Ya dijalani saja yang penting bisa buat nyambung hidup. Kasihan anak-anak jika jadi beban bagi mereka, penghasilannya juga pas-pasan," tuturnya sambil tersenyum.

Mbah Sukiyem juga menuturkan, jika sebenarnya ia mempunyai 6 orang anak, namun yang 2 sudah meninggal dunia. Saat ini 4 anaknya beserta 9 cucu dan 2 buyutnya tinggal serumah dengannya. "Ya mau gimana lagi, namanya juga rejeki harus disyukuri," tuturnya dengan senyuman sumringah.

Bubur sum sum dan candil buatan Mbah Sukiyem terbilang enak dan murah meriah. Setiap hari buburnya selalu habis terjual. Harganya pun sangat ekonomis dari Rp 2.000 hingga Rp 5.000 tergantung permintaan dan selera pembeli.  //wd