Kamis, 04 Mei 2017 - 22:58:13 WIB
Berkah Kamis Wage Bagi Penjual Kembang
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 577 kali

Cilacap - Sudah menjadi tradisi turun temurun setiap Kliwonan (kamis wage), Punggahan dan Pudhunan banyak masyarakat yang ziarah ke makam orang tua maupun kerabat yang sudah meninggal dunia untuk berdoa dan membersihkan makam serta menabur bunga.

Tradisi ziarah atau nyekar ini, membawa berkah tersendiri bagi penjual bunga musiman yang banyak dijumpai pingiran jalan yang menuju ke tempat pemakam umum (TPU) Karangsuci. Salah satunya Samirah (60) warga Jalan Kali Donan, RT 01 RW 24 Kelurahan Donan, Kecamatan Cilacap Tengah, Cilacap. Samirah yang kesehariannya berjualan karak dan jajanan untuk anak-anak dirumahnya, setiap kliwonan, punggahan dan pudhunan, ia selalu berjualan kembang di pinggir Jalan Karangsuci.

Ketika ditemui Pamor, Kamis (04 Mei 2017) Samirah menuturkan, setiap kliwonan, punggahan dan pudhunan selalu berjualan kembang untuk para peziarah yang mau nyekar ke makam. "Sudah 20 tahunan saya jualan kembang. Kembang yang dijual ini, kulakan (dibeli secara borongan) di pasar sangkalputung," jelasnya.

Dikatakan Samirah, setelah pekerjaan di rumah sudah selesai, ia baru berjualan kembang. "Saya berjualan kembang sekitar jam 10.00 hingga 18.00 WIB. Kadang jika jam 17.00 WIB sudah sepi, masih disini sampai jam 18.00 WIB," ujar sambil tersenyum.

Harga kembang, lanjut Samirah, tergantung permintaan dari peziarah. Kadang ada yang membeli Rp 2.000,- ada juga yang membeli Rp. 15.000,- perbungkus. "Tapi yang sering mereka membeli bunga dengan harga Rp 4.000,- hingga Rp 5.000,- perbungkus. Berapun harganya, saya layani dan disyukuri, namanya juga rejeki mas," ujarnya.

Menurut Samirah, jika punggahan dan pudhunan, yang membeli kembang lebih rame dibanding kliwonan. "Meskipun harga dari kulakan (dibeli secara borongan) kembang pada saat punggahan dan pudhunan lebih mahal, namun yang ziarah untuk membeli kembang sangat rame. Bisa untuk kebutuhan keluarga," tuturnya.

Bagi penjual kembang musiman seperti Samirah, pemasukan atau pendapatan yang diperolehtidak terlepas dari sepi dan ramenya para pembeli atau peziarah yang datang untuk nyekar.

Pasang surutnya rejeki sudah menjadi hal yang wajar, walaupun terkadang harus merugi tetap berjualan kembang untuk mencari nafkah bagi keluarganya. "Jika tidak laku, ya dibuang saja mas. Yang penting tetap berusaha dan tidak meyerah mencari nafkah, bahasa jawane sing penting aja kapok dodole," tuturnya sambil ketawa. //wid