Rabu, 03 Mei 2017 - 14:27:12 WIB
Lanting Super 'Telo Sari' Adiraja Pertahankan Cita Rasa
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 598 kali

Cilacap - Lanting merupakan salah satu camilan atau makanan tradisional terbuat dari singkong, sangat digandrungi oleh banyak kalangan di masyarakat. Makanan renyah dan gurih tersebut sangat cocok untuk menemani kita disaat bersantai ria bersama keluarga, teman maupun kerabat.

Memang camilan yang satu ini sudah tidak asing lagi di berbagai daerah. Pada umumnya lanting mempunyai dwi warna yakni merah dan putih. Rasa dan bentuknya pun juga beragam ada yang berbentuk angka 8 dan 0, sehingga pelanggan bisa membedakan dan memahami cita rasa yang ditawarkan oleh perajin lanting.

Lanting Adireja, Cilacap misalnya yang diproduksi oleh Telo Sari yang beralamat di Jalan Srandil RT 2, RW IV Adireja, Kecamatan Adipala, Cilacap ini, selalu mempertahankan cita rasa dalam memanjakan pelanggannya. Lanting yang diproduksi bentuknya 0 kecil dibuat murni dari singkong dan warnanya natural tidak menggunakan bahan pewarna.

Saat ditemui Pamor, perajin lanting super Telo Sari Adireja, Suwito (63) menuturkan, awalnya istrinya, Kusminah (60), tahun 1986 lalu, mengeluti usaha tempe keripik. "Waktu itu, saya masih sibuk kerja di luar kota," ujarnya, Selasa (02 Mei 2017).

Sekitar tahun 1992,lanjut Suwito, istri menyarankan agar tidak merantau jauh-jauh. Maksud istri supaya membuka usaha sendiri dan bisa berkumpul dengan keluarga. "Tidak usah kerja jauh-jauh. Toh hasilnya juga sama saja, pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari. Hanya dapat pengalaman saja," kenang bapak 4 anak dan 4 cucu serta 1 cicit ini sembari tersenyum.

Akhirnya, Suwito memutuskan untuk menekuni usaha sendiri sebagai perajin lanting. Dia bersama istrinya terus mengeluti usaha tempe keripik dan perajin lanting. Menurut Suwito, usaha lantingnya di tahun 1994 hingga 2005 setiap hari mampu memproduksi sedikitnya 100 kg dan menghabiskan bahan baku singkong sekitar 2,5 kuintal. Saat itu karyawan yang membantu produksi sebanyak 30 orang.

Seiring dengan waktu, lanting super Telo Sari banyak diminati oleh masyarakat di berbagai daerah seperti Jakarta,Bandung, Bekasi, Semarang dan Jogjakarta. Berhubung banyak pesanan lanting dari berbagai daerah, tahun 2000 lalu Kusminah memutuskan berhenti untuk usaha tempe keripiknya karena waktunya banyak tersita untuk memproduksi lanting.

Dikatakan Suwito, Telo Sari kerap ditunjuk oleh desa untuk menjadi tuan rumah dan percontohan pembuatan lanting ketika ada tamu dari luar kota. "Bahkan di tahun 2012 silam, ARB politisi dari Golkar pernah datang dan melihat secara langsung proses pembuatan lanting super Telo Sari Adiraja," tuturnya.

Dulu, kenang Suwito, Adiraja sempat menjadi sentra perajin lanting di Cilacap. Di satu dusun ada 10 perajin lanting. Namun karena banyak yang gagal memasarkan, kini tinggal 3 perajin di satu dusunnya. "Kendalanya di pemasarannya. Banyak produksi tapi susah pemasaran sehingga banyak yang beralih usaha lain," terangnya.

Saat ini, ungkap Suwito, setiap hari hanya memproduksi 60 kg dengan bahan baku singkong sebanyak 1,5 kuintal. Sementara karyawan juga banyak yang memunyai usaha sendiri seperti jualan udang dan jajanan. Sekarang yang membantu produksi tinggal 10 orang.

Menurutnya, tenaga dan kondisi tidak seperti dahulu. Anak-anak sekarang sudah mempunyai usaha dan kesibukan masing-masing. "Wajar mas, anak-anak saya yang biasa membantu sudah berkeluarga jadi punya usaha dan kesibukan. Bahkan yang bontok mau jadi guru sehingga sekarang ini lebih repot," tuturnya.

Kendati demikian, Suwito dan Kusminah tetap semangat dalam menekuni usahanya dan mempertahankan rasa khas lanting super Telo Sari Adiraja. Kepada anaknya yang memiliki usaha sale, Suwito dan Kusminah juga berpesan agar dalam usahanya selalu mempertahankan rasa dan tidak berbuat curang, sehingga para pelanggannya tidak kecewa. "Harga lanting, kamiyang banderol seharga Rp 35.000,- perkilonya," katanya. //wid