Kamis, 27 April 2017 - 22:38:48 WIB
Samudi Tukang Perbaiki Payung Rusak
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 654 kali

Cilacap - Sore itu, cuaca terlihat mendung. Nampak seorang kakek dengan santainya mengayuh sepeda tua yang membawa berbagai payung rusak di boncengan sepedanya menuju ke tempat kost yang ditempatinya, Kamis (27 April) sore, Jalan Wilis No 7 A, RT 7 RW II, Kelurahan Sidanegara, Kecamatan Cilacap Tengah, Cilacap.

Saat ditemui Pamor di tempat kostnya, Samudi (75) berbagi cerita, dirinya melakoni sebagai tukang memperbaiki payung rusak dan menjual permainan anak-anak sejak tahun 1972 silam. Namun tahun1996 lalu, dirinya sempat berhenti berjualan permainan anak-anak dan memperbaiki payung lantaran mengalami stroke.

Meskipun menderita stroke, dia tidak lantas pasrah begitu saja. Dia berusaha untuk sembuh dari penyakit yang dideritanya.

Sebagai warga Sapta Dharma, dirinya berkeyakinan segala penyakit yang ada bisa disembuhkan asalkan bagaimana berusaha dan meminta kesembuhan dari Sang Pencipta yakni Allah Hyang Maha Agung, Maha Rokhim, Maha Adil dan Maha Langgeng serta semangat untuk jalani hidup dan sembuh dari penyakit.

Berkat tawakal dan doa ikhlas yang dijalani serta semangat untuk menghidupi keluarga, lambat laun penyakit yang dideritanya berangsur-angsur sembuh. "Perlahan lahan sakit saya sembuh mas," ucap bapak 8 anak dan cucu 5 ini, sambil tersenyum.

Setelah sembuh dirinya kini tidak mengeluti usaha permainan anak-anak. Samudi hanya melakoni usaha sebagai tukang perbaiki payung. "Tenaga dan kondisi kaki saya sudah tidak seperti dulu. Jadi untuk belanja permainan sudah tidak kuat lagi karena harus belanja ke Semarang, dan Cirebon. Kadang belanjanya juga di Jakarta, kondisi dan tenaga sudah tidak kuat, mas," ungkapnya.

Tanpa mengenal rasa lelah, setiap hari dia terus berkeliling dari jam 8 pagi hingga jam 5 sore ditemani oleh sepeda tuanya untuk menawarkan jasa perbaikan payung. "Ya dari pagi hingga sore saya berkeliling meskipun kadang hanya dapat satu atau dua payung yang diperbaiki. Kadang ya kosong. Setiap memperbaiki satu payung, saya mendapat imbalan sekitar Rp 7.000,- hingga Rp 10.000,-. Rejeki sudah ada yang mengatur. Ya disyukuri saja berapapun hasilnya," ucapnya,

Jika memasuki musim hujan, lanjut Samudi, ya lumayan mas, banyak yang minta payungnya diperbaiki. Samudi menilai payung sekarang, memang banyak yang ringkih meskipun sudah diperbaiki mudah rusak kembali. "Wajar jika kecewa. Tapi bagi saya yang terpenting sudah memberikan pelayanan terbaik dalam memperbaiki payung tersebut. Rejeki sudah diatur,mas," tuturnya.

Samudi juga bercerita tentang keluarganya. Dirinya tinggal di Ciacap seorang diri, setiap 2 hingga 3 bulan sekali pulang ke Brebes untuk mengunjungi istrinya, Rasminah (42) dan anak-anaknya. "Anak saya yang kecil masih di SD tinggal dengan ibunya dan kakak-kakaknya. Kalau yang dua orang anak saya sudah berumah tangga. Sedangkan 5 orang sudah bekerja dan istri disana bekerja sebagai buruh tani," tuturnya.

Dalam hidupnya sebagai warga Sapta Dharma, Samudi selalu menjalankan, setia tuhu kepada Allah Hyang Maha Agung, Maha Rokhim, Maha Adil dan Maha Langgeng. Dengan jujur dan suci hati harus setia menjalankan perundang-undangan Negaranya.

Menolong kepada siapa saja bila perlu tanpa mengharapkan sesuatu balasan, melainkan berdasarkan cinta dan kasih. Turut serta menyingsingkan lengan baju menegakan berdirinya nusa dan bangsanya.

Berani hidup berdasarkan kepercayaan atas kekuatan diri sendiri. Sikapnya dalam hidup bermasyarakat, kekeluargaan harus susila beserta halusnya budi pakarti, selalu merupakan penunjuk jalan yang mengandung jasa dan memuaskan. Yakin bahwa keadaan dunia itu tiada abadi, melainkan selalu berubah-ubah (Anyakra Manggilingan). "Dimana saja, kepada siapa saja, warga Sapta Dharma harus bersinar laksana surya,itulah sesanti warga Sapta Dharma," tuturnya.

Meskipun, pasang surutnya rejeki sebagai tukang memperbaiki payung rusak yang terkadang ada dan sepi, beliau tetap bersyukur. Samudi terus bersemangat untuk menafkahi keluarganya dalam kebutuhan sehari-hari dan kebutuhan sekolah anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar. //WD