Kamis, 20 April 2017 - 23:48:32 WIB
Kelompok Batik Seloka Cilacap Bangun Ekonomi Kerakyatan
Diposting oleh : Widodo
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 675 kali

Cilacap - Kelompok Batik Seloka Cilacap yang beranggotakan 15 orang dan beralamat di Jalan Kantil, RT 01 RW IX, Desa Adipala, Kecamatan Adipala, Cilacap, saat ini kembali membangun ekonomi kerakyatan melalui usaha pembuatan batik bernuansa kearifan lokal khas Cilacap dengan mengangkat motif parang bata, sekar kantil, PLTU dan parang nusakambangan yang dipadukan dengan bunga wijayakusama.

Batik Seloka Cilacap yang terbentuk pada November 2015 silam, diprakasai oleh Dwi Novi (34) setelah memperoleh pelatihan membatik dari Indonesia Power ini, sempat berjalan ditempat. Pasalnya ekonomi kerayatan tersebut hanya dijalankan oleh Dwi Novi dan ibunya yakni Karsiyem (67). Sebagian besar rekannya tidak menekuni dan meninggalkan usaha membatik. Hanya Novi dan ibunya lah yang tetap menekuni usaha membatik meskipun hanya sebagai usaha sampingan.

Mencermati potensi usaha membatik yang seakan akan tidak berkembang ini, pihak Kecamatan Adipala meminta Novi bersama suaminya yakni Wahyu Haryadi (34) untuk menggeliatkan usaha ekonomi kerakyatan tersebut dengan mengusulkan Kelompok Batik Seloka untuk mengikuti pelatihan batik cap yang diselenggarakan di Balai Besar Pelatihan Masyarakat di Jogiakarta, tepatnya 23 Januari 2017 lalu.

Saat ditemui Tabloidpamor.com, Wahyu Haryadi yang didampingi Novi menceritakan perjalanan usaha membatiknya. Dia mengaku kelompok Batik Seloka setelah terbentuk tidak terlalu aktif. Hanya usaha sampingan buat istri dan mertuanya.

"Waktu itu, saya juga belum begitu tertarik dengan usaha membatik, mas. Setelah pihak kecamatan meminta untuk diaktifkan kembali dan istri (Novi) memaksa saya untuk mau mengikuti pelatihan bersama teman-teman ke Jogja. Setelah saya pikir-pikir akhirnya setuju untuk ikuti pelatihan," ujarnya, Kamis (20 April 2017).

Selepas dari pelatihan batik cap, lanjut Wahyu, dirinya tertarik untuk menekuni usaha membatik bersama dengan anggotanya. "Ya sudah sekitar 3 bulan. Saya bersama teman-teman menjalankan usaha membatik dengan mengangkat budaya lokal khas Cilacap," ujarnya.

Saat ini, bagi Wahyu, membatik bukan hanya sebagai usaha sampingan seperti yang pernah dilakukan istri maupun mertuanya. Dia bersama kelompok Batik Seloka bertekad untuk terus mengembangkan usahanya dengan lebih inovasi dan kreatif membuat batik yang memiliki ciri khas Cilacap sehingga diminati oleh masyarakat khususnya masyarakat Cilacap. "Bahasanya masyarakat Cilacap bangga mengenakan batik yang kita buat," ujarnya.

Wahyu mengakui usaha dan proses pembuatan batik baik tulis maupun cap tidak lah mudah. Butuh kerja keras, ulet dan strategi pemasaran. Disamping itu peralatan membatik juga harus mendukung.

Menurut dia, peralatan batik tulis lebih murah dibandingkan dengan batik cap. Canting batik tulis hanya Rp 3.500,- saja. Sementara untuk canting cap harganya sekitar Rp 900.000,- hingga Rp 1.200.000,- percantingnya.

Untuk pemasaran, lanjut Wahyu, kami melalui media sosial, Plut dan kerabat yang ada di NTB, Demak, Semarang dan Jepara. "Pokoknya terus promosi baik ke teman yang di media sosial, kerabat dan masyarakat sekitar. Harga yang dibanderol untuk batik cap sekitar Rp 150.000,- dan batik tulis sekitar Rp 250.000,-," tuturnya.

Lebih jauh Wahyu menerangkan, untuk proses pembuatan batik dari pencantingan, colet, fiksasi (penguncian warna) dan lorod (proses menghilangkan malam dari kain dengan cara direbus) sekitar 1 bulan agar memperoleh hasil yang maksimal.

"Proses pencantingan dilakukan oleh 4 orang. Colet dikerjakan 4 orang dan fiksasi dilakukan 4 orang. Sedangkan proses lorod dikerjakan 3 orang," ucapnya.

Disebutkan Wahyu, usaha batik yang dirintisnya disamping didukung berbagai pihak diantaranya Kecamatan Adipala,Indonesia Power, Bumdes Adipala juga mendapat dukungan dari Batik Nakula Sadewa yang dipandegani oleh Bambang Sumardiyono yang sekaligus sebagai Ketua DPP Batik Jawa Tengah.

Bagi Wahyu, usaha membatik yang ditekuni disamping panggilan jiwa juga untuk membuka lapangan pekerjaan dan melestarikan warisan leluhur agar senantiasa berkembang dan terjaga.