Jumat, 27 Januari 2017 - 16:34:38 WIB
Situs Watu Condong
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Budaya - Dibaca: 290 kali

Konon, barang siapa bisa mengangkat batu condong, niscaya semua keinginannya akan tercapai. Adalah sebuah keyakinan yang sudah berjalan secara turun-temurun bagi warga Grumbul Wates, Desa Kemawi, Kecamatan Somagede, Banyumas. Meskipun ukuran batu condong tergolong kecil, tapi tidak semua orang mampu mengangkatnya.

Watu Condong, biasa disebut oleh warga sekitar adalah sebuah situs watu lumpang yang berada di puncak sebuah bukit, perbatasan antara Kabupaten Banyumas dengan Kabupaten Banjarnegara. Bagi masyarakat sekitar, Batu Condong adalah pepunden yang dipergunakan sebagai tempat penyuwunan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ditemani Tumir Minaryo sang juru rawat, PAMOR mengunjungi tempat tersebut.

Sembari menaiki jalan berundak menuju situs, Pak Tumir pun bercerita kalau Batu Condong pertama kali ditemukan oleh seorang tokoh bernama Mbah Lamuk, beliau diyakini sebagai orang yang pertama kali tinggal di wilayah tersebut, dan sejak itu pula Watu Condong menjadi pepunden masyarakat setempat.

"Dinamakan Batu Condong, konon bertujuan untuk mengingatkan kepada  siapa saja yang hendak berziarah atau melakukan laku ritual agar tidak setengah hati, istilah Jawanya madep mantep yakin secara batiniah memohon kepada sang pencipta," terang Pak Tumir.

Menurutnya, di watu Condong juga punya larangan atau pantangan yang harus ditaati oleh peziarah yaitu tidak diizinkannya peziarah mengenakan pakaian adat jawa, "Emoh dikembari," jelas pak Tumir.

Bagi yang belum terbiasa, menaiki jalan berundak menuju situs memang dibutuhkan stamina yang kuat karena medan yang dilalui cukup tinggi. Sesampainya di lokasi, akan terlihat bahwa situs Watu Condong masih menjaga keasliannya yaitu masih berpagarkan anyaman bambu. Sementara, peninggalan berupa batu lumpang berada tepat ditengah-tengahnya.

Sambil menunjukan lokasi, Pak Tumir pun mengatakan, kalau situs Watu Condong pernah raib di kisaran tahun 2005, namun tidak berselang lama batu lumpang yang tadinya raib itupun kembali lagi tapi dengan ukuran yang lebih kecil. Sedangkan Pak Tumir dan masyarakat sekitar tidak mengetahui kapan hilang dan bergantinya batu tersebut.

"Dulu sebelumnya ukuran batunya lebih besar dan batu itu yang sering digunakan oleh peziarah untuk menguji janji," ucapnya.

Namun demikian, kendati saat ini batu Lumpangnya sudah berganti dengan ukuran yang lebih kecil, tidak menyurutkan niat pengunjung untuk berziarah ketempat tersebut. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya sisa bakaran dupa dan kemenyan yang berada tidak jauh dari lokasi batu.

Menurut Pak Tumir, Batu Condong ramai dikunjungi oleh peziarah pada hari Kamis wage dan Senin Wage. Mereka yang datang dengan berbagai tujuan, salah satunya dengan mencoba mengangkat batu lumpang agar semua cita-cita dan keinginanya bisa tercapai.//ipung