Rabu, 25 Januari 2017 - 12:10:38 WIB
Sumur Sidandang
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Budaya - Dibaca: 213 kali

Selain tidak bisa mendidih saat direbus, Sumur (sumber air) Sidandang juga diyakini sebagai tempat istirahat dan berkumpulnya para Wali Alloh saat siar agama Islam di wilayah Purbalingga. Sumur Sidandang hingga saat ini masih disakralkan oleh masyarakat setempat.

Mbah Khotibi (95) langsung saja membersihkan ranting dan dedaunan kering yang berserakan, setelah itu Ia pun duduk bersila dibawah pohon beringin ditepian sumur. Doa-doa pun ia panjatkan untuk memohon izin atas maksud dan tujuan PAMOR mengunjungi tempat tersebut.

Sumur Sidandang berada di Grumbul Bantarbenda, Desa Grantung, Kecamatan Karangmoncol, Purbalingga. Tidak seperti sumur pada umumnya, Sumur Sidandang merupakan sumber mata air alami yang berlokasi di area persawahan.

Masih duduk bersila, Mbah Khotibi pun menceritakan asal muasal sumur. Dari cerita turun temurun, Sumur Sidandang adalah tempat yang pernah dipergunakan oleh para Wali Alloh untuk beristirahat dan sholat berjamaah bersama.

"Jaman ndisit, kene iki go ngumpule para wali sing pertama kali, wektu nyebarke Islam nang Karangmoncol, (zaman dulu, disini tempat buat berkumpulnya para wali yang pertamakali saat siar Islam di wilayah Karangmoncol)," ucapnya bercerita.

Konon pada saat para wali berkumpul dan hendak menjalankan Sholat berjamaah, salah satu dari tokoh wali tersebut tanpa sengaja menumpahkan air dari bumbung bambu yang ia bawa dan jatuh kedalam sumber mata air tesebut. Konon air yang dibawa oleh salah satu wali itu adalah air zam-zam yang berasal dari mekah. Atas kejadian itulah diyakini sebagai peyebab kenapa air Sumur Sidandang hingga kini tidak bisa mendidih saat direbus.

Selain airnya tidak bisa mendidih, Sumur Sidandang juga dipercaya dihuni oleh sesosok pelus (belut) raksasa. Pelus atau belut raksasa tersebut akan muncul setiap setahun sekali yaitu pada saat sumur tersebut akan di kuras (dibersihkan). Bagi masyarakat Grumbul Bantarbenda, menguras Sumur Sidandang merupakan tradisi turun-temurun yang masih dilakukan.

Dari keanehan airnya itulah, hingga Tahun 90-an banyak masyarakat yang mempercayai kalau air Sumur Sidandang mempunyai kasiat tersendiri. Masyarakat baik dari Purbalingga maupun dari luranan Purbalingga banyak yang berziarah ketempat tersebut. Mereka yang berziarah dengan berbagai macam tujuan, mulai dari penyembuhan penyakit hingga peruntungan nasib.

"Ndisit, saben malem Jumat Kliwon apa Selasa Kliwon, akeh sing pada sowan, nepi ming ngeneh, (Dulu, setiap malam Jumat Kliwon apa Selasa Kliwon banyak yang datang, ziarah kesini)," kenang Mbah Khotibi.

Hal senada juga diucapkan oleh Miarjo (55) salah satu warga setempat yang mengatakan bahwa bukan hanya masyarakat sekitaran kota Purbalingga saja yang berkunjung ke Sumur Sidandang kaka itu, tapi juga masyarakat dari beberapa kota besar lainnya.

"Lha ora gur wong kene tok mas sing pada sowan, wong bogor, bandung nganti Sumatra pada ziarah nepi nang kene, (bukan hanya orang sini saja mas yang datang, dari bogor, bandung sampai orang dari sumatara juga ziarah kesini)," jelasnya.

Kendati saat ini Sumur Sidandang sudah jarang dikunjungi oleh peziarah, namun tidak menyurutkan semangat Mbah Khotibi untuk terus menjaga dan merawat tempat tersebut. Karena baginya dengan menjaga dan merawat Sumur Sidandang sama halnya dengan menghormati peninggalan leluhur.//ipung