Senin, 28 September 2015 - 20:26:41 WIB
Curahan Hati Madyana
Diposting oleh : Ipung
Kategori: Berita Kota - Dibaca: 573 kali

Tubuh  yang terbalut kulit yang sudah menua masih tampak tegap meski tonjolan bekas otot-ototnya sudah mengendur, dengan rambut yang sudah memutih mulutnya tak henti-hentinya menghisap linting tembakau racikannya sendiri. Aroma kemenyan pun menebar seiring hembusan asap putih yang keluar dari mulut dan hidung lelaki 70 tahun ini.

Dengan tatapan mata yang sayu dan disertai desahan nafas panjang terucap sebuah kata lirih. “Tambah tua ora tambah kepenak, malah tambah rekasa, (semakin tua bukannya tambah enak, tapi tambah sengsara).” Seperti itulah ucapan Kaki Madyana atau yang akrab disapa Kaki Yana warga Binangun, Kecamatan Banyumas saat berbincang dengan PAMOR di warung kopi sederhananya.

Suasana warung yang kebetulan sepi akan pengunjung saat itu tak bisa lagi menutupi perasaan sedih dan rindu Kaki Madyana kepada anak-anaknya. Dengan suara lirih dan sembari batuk, Madyana pun kembali bercerita bahwa lebih dari sepuluh tahun ini ia hanya tinggal berdua dengan istrinya saja, sementara ketujuh anaknya semua hidup menetap di tanah rantau.

Untuk mengusir rasa sepi, Madyana pun membuka warung di pinggir jalan desa yang menjajakan makanan ringan, kopi dan sesekali ia pun menyediakan aneka sayuran. “Ya lumayan lah bisa buat hiburan, daripada bingung dirumah.” Ucapnya.

Untuk mencukupi biaya hidup sebenarnya gak perlu dipikirkan lagi oleh Madyana dan istri, lantaran setiap bulannya ketujuh anaknya selalu mengirimi uang untuk kebutuhan sehari-hari namun semua itu hanya membuatnya senang saja tapi tidak merasakan rasa tentram.

Tidak satu pun anak yang mau tinggal bersama inilah yang membuat Madyana merasa kesepian. “Orang tua mana sih yang tidak kepengin diladeni oleh anak dan bisa bercanda dengan cucu.” Jelasnya.

Rasa ingin di tungguin aleh salah satu anaknya sering kali membuat Madyana memohon untuk cepat menjadi jompo dengan harapan salah satu anaknya ada yang mau merawatnya. “Ya siapa tau ada yang mau pulang melihat orang tuanya sudah tidak bisa apa-apa.” Tuturnya.

Di warung sederhananya inilah Madyana menghabiskan waktu untuk menghibur diri dengan bercengkrama kepada setiap pembeli yang datang, karena hanya dengan cara itulah ia mampu menjalani hidup, meski saat malam tiba rasa sepi kembali ia rasakan.