Rabu, 02 September 2015 - 16:41:19 WIB
Gerabah Sambirata, Tradisi Warisan Leluhur
Diposting oleh : Muh. Burhanudin S
Kategori: Ekonomi Rakyat - Dibaca: 1312 kali

Senandung Kidung Jawa sayup-sayup terdengar memecah keheningan. Mengalun sendu ditengah cuaca yang sedikit teduh, saat mentari terhalang hiasan awan. Alunannya semakin jelas dari emperan samping sebuah rumah. Senandungnya tak lantas berhenti, meskipun tatapannya terpaku pada kamera yang dibidikan tabloid Pamor. Tangan kirinya sesekali memutar roda gilingan, sementara tangan kanan dengan lembut membentuk gumpalan tanah liat menjadi bakal gerabah. Siang itu, Selasa (1 September 2015) lalu. Di Grumbul Sambirata, Desa Wanogara Kulon, Kecamatan Rembang, Purbalingga.

Beragam bentuk gerabah yang siap dijual tertata rapi di emperan rumah warga. Sementara di belakang rumah, kebulan asap membubung tinggi dari sisa pembakaran gerabah. Dihalaman rumahnya, Marsilah (48) terlihat sibuk menjemur tembikar jenis sangan. Satu persatu tembikar pun diangkat dan ditata dengan rapi di pelataran, dengan menggunakan alas dari bilah-bilah bambu yang sudah diberi gawangan. Namun, beberapa saat kemudian ia menggerutu kesal saat gerabah yang baru dijemur diinjak-injak oleh ayam peliharaannya.

Pemandangan ini hampir setiap hari dijumpai di Grumbul Sambirata yang dikenal sebagai penghasil kerajinan gerabah. Membuat gerabah sudah menjadi kegiatan bagi kaum ibu, dari tangan merekalah aneka bentuk gerabah dibuat. Karena untuk membuat gerabah dibutuhkan ketekunan dan kesabaran, hal dasar yang lazimnya dimiliki oleh seorang ibu. Sementara kaum bapak bertugas mencari pasir pelengkap bahan dasar, mengumpulkan kayubakar, dan membakar gerabah hingga sempurna.

Nini Komeng (70) yang sedari tadi bersenandung, berbagi cerita pada Pamor tentang gerabah di Grumbul Sambirata. Baginya sudah menjadi tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Membuat gerabah sudah menjadi mata pencaharian Nini Komeng, sehingga ia mampu membuat 80-100 gerabah setiap hari tergantung dari jenis dan ukurannya. Gerabah yang sudah dibuat akan dikumpulkan sebelum masuk proses pembakaran. Bila cuaca mendukung untuk pengeringan, perajin mampu membakar gerabah sepekan sekali. Gerabah yang sudah jadi biasa ia jual ke pengepul dengan harga limaratus sampai seribu limaratus rupiah tergantung jenis gerabahnya

Sementara warga lainnya, Mini Tarsito (45) yang mengaku sudah lebih dari duapuluh tahun menjadi perajin gerabah. Meskipun, membuat gerabah hanya untuk mengisi waktu luang saja. Mata pencaharian utamanya sebagai buruh tani, dalam waktu setengah hari ia mampu membuat 40-50 gerabah. Untuk mendapatkan bahan baku berupa tanah liat, diambil dari tanah milik warga Grumbul Grintung yang letaknya tak jauh dari Grumbul Sambirata. Dengan membayar tiga ribu rupiah per-gendongnya, rata-rata perharinya perajin hanya membeli tiga sampai empat gendong saja. Sementara bahan pasir diambil secara gratis dari sungai-sungai terdekat.

Kerajinan gerabah bagi Nini Komeng, Mini Tarsito, dan Marsilah, tidak sekedar untuk menyambung hidup saja. Tetapi juga merupakan bentuk ucapan terimakasih kepada leluhurnya yang telah mewariskan ketrampilan kepadanya. Meski hasil yang didapat jauh dari kata cukup, baginya menjaga tradisi menjadi hal yang tidak boleh dihindari. Mengingat saat ini aktifitas membuat gerabah sudah mulai ditinggalkan oleh sebagian orang, rendahnya harga gerabah menjadi alasannya. Namun, mereka masih gigih meneruskan tradisi yang sudah turun-temurun itu dan mensyukuri hasil yang didapat. //ipung-sp.