Selasa, 09 Desember 2014 - 09:39:52 WIB
JOKO KAIMAN Sang Adipati Mrapat
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Sejarah - Dibaca: 3497 kali

Setelah kejadian tewasnya Adipati Wirasaba, Kanjeng Sultan Pajang kemudian memanggil anak-anak Adipati Wirasaba untuk menghadap Sultan Pajang. Karena takut kena murka lagi dari sultan, anak-anak Adipati Wirasaba tidak ada satu pun yang berani menghadap. Namun, setelah bermusyawarah akhirnya Joko Kaiman memberanikan diri untuk menghadap Sultan Pajang.

Joko Kaiman adalah anak menantu Adipati Wirasaba, putra dari Ki Ageng Mangir yang dititipkan oleh Patih Pajang kepada Eyang Mrangge Kejawar. Demikian diceritakan oleh Ki Sarikin (47) juru kunci makam Joko Kaiman yang sudah lima tahun ini menggantikan Ki Mad Sunari ayahnya sebagai juru kunci. Kepada PAMOR, Senin (8/12/2014).

Sesampainya  di Kesultanan Pajang, Joko Kaiman justru disambut baik oleh Sultan Pajang, yang  kemudian menceritakan maksud pemanggilannya. Sultan merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Adipati Wirasaba dan untuk menebus kekeliruannya, sultan mengangkat Joko Kaiman sebagai adipati di Wirasaba  menggantikan ayahnya dengan gelar Adipati Wirasaba II.

Sekembalinya dari Pajang, Joko Kaiman menceritakan hasil pertemuannya dengan Sultan kepada saudaranya yang lain (anak-anak Adipati Wirasaba), bahwa dirinya tidak mendapat murka tetapi diberi mandat menjadi  adipati di Wirasaba dengan gelar Adipati Wirasaba II.

Merasa dirinya hanya anak menantu, Joko Kaiman bermaksud membagi Kadipaten Wirasaba menjadi empat bagian yang masing-masing bagian itu dipimpin oleh saudaranya yang lain, hal ini dimaksudkan agar tidak terjadi pertikaian atau perselisihan di antara keempat anak kandung Adipati Wirasaba. Sebelah selatan sekarang menjadi Cilacap, sebelah barat sekarang Banyumas, sebelah utara sekarang menjadi Purbalingga, dan sebelah timur yang sekarang menjadi Banjarnegara.

Atas jasa dan kebijaksanaan Joko Kaiman dalam membagi wilayah maka beliau mendapat gelar Adipati Mrapat dan menempati wilayah sebelah barat. Dari sinilah Joko Kaiman membangun kabupaten.

Waktu itu terjadi peristiwa banjir bandang di Sungai Serayu yang alirannya melintas di wilayah Adipati Mrapat. Pada saat terjadi banjir, sebatang pohon jati mas terdampar di sana. Kemudian Adipati Mrapat mendapatkan petunjuk dari Yang Maha Kuasa untuk membuat pilar utama atau soko guru pendopo kabupaten dengan menggunakan pohon jati mas tersebut.

Bersamaan dengan berdirinya pendopo kabupaten, secara tiba-tiba tanah di belakang pendopo keluar sumber air yang berwarna kuning keemasan. Akhirnya dibangunlah sebuah sendang dan diberi nama Sendang Mas.

Melihat kejadian tersebut, Joko Kaiman kemudian bersabda  “Mbesuk rejaning jaman ono ing tanah perdikan iki mongko kasebut Banyumas.” artinya pada saatnya nanti tempat ini disebut Banyumas. Banyu berarti air, sedangkan Mas diambil dari awal berdirinya Pendopo Kabupaten yang dibuat dengan kayu Jati Mas disertai keluarnya sumber air berwarna emas./heru.