Minggu, 07 Desember 2014 - 17:09:56 WIB
Sistem Ketahanan Pangan Masyarakat Adat Banten Kidul
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Tradisi - Dibaca: 2463 kali

Mengenang kembali perjalanan PAMOR beberapa tahun yang lalu, Rabu (18/3/2009) di sekitar Gunung Halimun di wilayah Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Tepatnya di Kasepuhan Ciptagelar yang dikenal kearifan budayanya dalam menjalankan nilai-nilai luhur terutama dibidang ketahanan pangannya.

Kasepuhan Ciptagelar dibangun sekitar  tahun 2.000, waktu itu almarhum Abah Encup Sucipta (Abah Anom) yang menjadi tetua adat. Sebelumnya Abah Anom tinggal di Kampung Ciptarasa, kurang lebih 9 km dari Ciptagelar. Namun, pada 6 September 2007 Abah Encup meninggal dunia dan hari itu juga kedudukan tetua adat digantikan oleh putranya Ugi Sugriana Rakasiwi (Abah Ugi). Karena usianya masih muda Abah Ugi pun masih dibimbing oleh para sesepuh adat dalam menjalankan tugas sebagai tetua adat Banten Kidul di Kasepuhan Ciptagelar.   

Sebelumnya masyarakat adat Banten Kidul sangat tertutup, pada tahun 1990 mereka mulai bisa menerima budaya luar dan teknologinya. Hal itu dimaksud untuk melihat dunia dan menyelaraskan dengan kehidupan bermasyarakat sekarang.

Masyarakat adat Banten Kidul kini  sudah menerima teknologi seperti, listrik, televisi, telepon, dan barang-barang elektronik lainnya, juga sepeda motor, dan mobil sudah digunakan disini. Namun, untuk ketahanan pangan mereka tidak kompromi dengan siapa pun. Hukum adat hanya mengijinkan warganya menanam padi sekali dalam setahun, selebihnya lahan ditanami tanaman yang lain misalnya palawija atau dibiarkan tanpa ditanami apapun.

Hal ini dimaksudkan untuk menghindari eksploitasi tanah agar kesuburannya dapat dipertahankan, dengan kata lain mereka memberikan waktu untuk tanah agar bernapas. Warga juga tidak diperbolehkan menjual beras atau padi, mereka hanya diperbolehkan menjual hasil tanaman yang lain. Hukumnya pamali bagi yang melanggar dan mereka akan merasakan sendiri dampaknya.

Untuk menanam padi pun ada aturannya, sawah Abah yang pertama kali ditanami terlebih dahulu. Setelah itu warga baru diijinkan menanam di sawahnya. Setiap prosesi mulai dari penanaman sampai memanen selalu diawali dengan upacara adat atau ritual dengan berziarah ke makam leluhurnya.

Ada sekitar 175 jenis padi yang biasa ditanam dan kesemuanya merupakan bibit lama warisan leluhur. Padi yang dihasilkan juga berbeda dengan jenis padi varietas baru yang didatangkan dari luar. Padi dengan bibit lama memiliki ketahanan yang sampai 10 tahun tanpa ada perubahan rasa dan warna bahkan masih bisa digunakan untuk bibit kembali. Sedangkan padi varitas baru hanya kuat setahun selanjutnya warna dan rasanya akan berubah.

Sebelum menanam padi terlebih dahulu dilakukan pengamatan secara alami oleh sesepuh adat yang membidangi sektor pertanian dengan pengetahuan yang sudah diajarkan oleh leluhurnya secara turun-temurun. Banyaknya jenis padi yang ada juga untuk menyesuaikan iklim dan struktur tanahnya. Setelah musim panen tiba, padi-padi dipetik menggunakan pipit (ani-ani) tidak digait dengan cabit.

Batang-batang padi yang dipetik kemudian diikat atau dipocong lalu dijemur dan dimasukan ke leuit (lumbung) dengan susunan yang menyerupai sisik naga agar terhindar dari hama. Formasi sisik naga juga mampu menyiasati sirkulasi udara dengan kata lain formasi ini bisa mengatur kelembaban padi didalam leuit.

Setiap rumah diwajibkan memiliki leuit padi, dari sinilah ketahanan pangan akan terbentuk. Untuk menjadikan beras, padi ditumbuk dengan alat tradisional yaitu lesung dan ketam, padi tidak digiling dengan mesin. Setahun sekali kampung adat Ciptagelar mengadakan acara seren taun (tahun baru) yang menjadi pusat segala acara adat.

Ibarat bertamu di rumah sendiri, demikian kenyataan yang diterima masyarakat adat mengingat wilayah yang mereka diami kini menjadi bagian dari taman nasional yang tentunya akan banyak aturan yang membatasi mereka. Walaupun sesungguhnya masyarakat adatlah yang lebih paham akan aturan alam sejak 1368. // suparjo