Minggu, 07 Desember 2014 - 14:59:46 WIB
Candi Ceto Dan Konsep Kehidupan
Diposting oleh : Suparjo
Kategori: Budaya - Dibaca: 2025 kali

Cerita yang melatarbelakangi berdirinya Candi Ceto tentang redupnya masa kejayaan. Laksana senja yang menandai terbenamnya sang surya, terlukis pada 13 teras berundak yang membujur dari Barat ke Timur.

Terangkum dalam tri mandala (nista mandala, madya mandala, dan utama mandala) adalah konsep kehidupan dari lahir, hidup, dan mati. Dari satria, raja, dan brahmana. Semua terpahat pada arca yang menyimpan banyak pesan pada setiap goresannya tentang sangkan paraning dumadi.

Candi Ceto diperkirakan dibangun pada masa runtuhnya Kerajaan Majapahit oleh Prabu Brawijaya V. Dilihat dari bentuk ornament dan relief yang ada pada areal candi yang menggambarkan kisah Garudeya dan Samudra Mantana, menunjukan bahwa Candi Ceto dibangun untuk ritual ruwatan (pelepasan) dan pertobatan untuk mencapai sufi.

Terlihat dari susunan batu berbentuk kontur burung yang sedang mengembangkan sayapnya dan diatasnya terdapat arca kura-kura yang merupakan perwujudan dari Dewa Wisnu. Di depan arca Garudeya juga terdapat susunan batu berbentuk segitiga dengan posisi berdempetan pada arca Garudeya. Dimana bagian atasnya menggambarkan sengkalan memet / tahun yang digambarkan dalam bentuk binatang yang menyebutkan angka tahun 1373 saka (1451 M).

Seperti candi-candi Hindu Jawa Kuno pada umumnya, Candi Ceto juga terdapat arca lingga dan yoni yang menjadi  ciri khas pada candi Jawa. Arca lingga dan yoni yang kalau dalam mitologi Hindu disebut purusa dan pradana, adalah perlambang dari Dewa Shiwa dan Betari Durga.

Candi Ceto terletak di sebelah Barat lereng  Gunung Lawu pada ketinggian 1470 meter di atas permukaan laut, dan secara administratif berada di Dusun Ceto, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Candi Hindu Jawa kuno ini pertama kali ditemukan pada tahun 1842 oleh Van Der Vlis dan mengalami pemugaran pada tahun 1975/1976.

Menurut Suro Gendeng seorang budayawan, Candi Ceto dibangun oleh Prabu Brawijaya V dengan maksud untuk mengingatkan Raden Patah agar tidak melupakan  asal – usulnya.  Bahwa Raden Patah adalah putra  Brawijaya V dengan seorang putri dari Negeri Cina yang digambarkan dengan arca lingga dan yoni yang terdapat pada teras VII komplek candi.

Sedangkan prasasti yang ditafsirkan sebagai peringatan pendirian tempat peruwatan, terdapat pada dinding gapura yang ditulis dengan huruf Jawa kuno  yang diterjemahkan, peringatan pembuatan kitab Tirto Sunyo (1397 saka) 1475 M.

Dari prasasti ini  menguatkan bahwa Candi Ceto dibangun pada masa runtuhnya Majapahit peninggalan Brawijaya V. Konsep ini juga terdapat pada loka ketiga (utama mandala) yaitu pada teras XI dan XII. 

Pada teras XI terdapat 2 bilik dengan arca di dalamnya, yang dipercaya arca Sabdopalon dan Noyogenggong. Keduanya dikenal sebagai penasihat spiritual Brawijaya V.  Sedangkan 2 bilik yang terdapat di teras XII berisi arca lingga dan arca Brawijaya V. Untuk teras XIII adalah candi induk yang bentuk bangunanya tidak jauh beda dengan Candi Sukuh.

Secara keseluruhan arca maupun relief yang ada sangat bebeda jauh dengan candi - candi lain. Candi Sukuh misalnya, seni pahat pada relief maupun arca yang ada mendekati sempurna bahkan bisa dibilang sudah sempurna.

Namun berbeda dengan Candi Ceto, relief dan arca terlihat sangat sederhana, sehingga banyak kalangan menyimpulkan bahwa dibangunnya Candi Ceto sebagai tempat pendakian spiritual dengan ajaran Shiwa. Tapi  tidak sedikit juga yang meyakini bahwa Brawijaya V pada masa itu sudah melepaskan sisi duniawinya untuk mengabdikan diri pada Dewata Yang Agung. Dari cerita rakyat yang melegenda, meyakini Candi Ceto sebagai tempat muswa (murca) Prabu Brawijaya V / Pamungkas.

Sebelumnya artikel diatas pernah dimuat dalam tabloid PAMOR (Nusantara) edisi April tahun 2011 lalu.//ipung.